
Makassar, –Adi Saputra ayah dari Esther Aprilita S, pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di Gunung Bulu Saraung, masih mengingat permintaan maaf anaknya sebelum terbang.
Dia mengatakan, komunikasi terakhir dengan Esther terjadi pada Jumat malam, sehari sebelum pesawat dinyatakan hilang kontak.
Saat itu, putrinya menyampaikan permintaan maaf yang tidak biasa.
“Ada, dia minta maaf kalau ada salah,” ungkapnya, Senin (19/1/2026).
- Wali Kota Munafri Siapkan Bantuan KUR untuk PKL yang Tertib
- Tingkatkan Literasi Keuangan, LPS Kunjungi Harian Fajar dan Bahas Ancaman “Passobis”
- Sinergi Eksekutif-Legislatif Diperkuat, Munafri Jadikan Hasil Reses Dasar Kebijakan
- May Day 2026, Pemkot Makassar Fasilitasi Buruh Duduk Bersama di Lapangan Karebosi
- Dari Home Barista Jadi Coffeepreneur, Poltekpar Makassar Latih 30 Warga Bongaya Jadi Wirausaha Kopi
Menurut Adi, permintaan maaf tersebut jarang disampaikan Esther sebelumnya.
Esther diketahui telah bertugas sebagai pramugari hampir tujuh tahun. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dan belum berkeluarga. Di mata keluarga, Ester dikenal sebagai sosok yang baik.
“Dia orang baik,” tutur Adi.
Adi juga menjelaskan, Esther berstatus standby di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Ia tidak mengetahui secara pasti detail rute penerbangan putrinya, termasuk tujuan terakhir sebelum pesawat nahas tersebut jatuh.
Adi menyampaikan, pihak keluarga telah menyiapkan segala keperluan di lokasi, termasuk untuk menyambut tamu dan kerabat yang berdatangan sejak kabar duka diterima.
“Sudah dipersiapkan semua, untuk tamu semua,” ujarnya.
Terkait informasi penemuan satu jenazah di lokasi jatuhnya pesawat, Adi berharap proses pencarian dapat berjalan lancar hingga seluruh korban ditemukan.
“Kita berharap semua ditemukan,” katanya.
Hingga kini, Adi Saputra bersama keluarga telah berada di Makassar selama dua hari untuk menunggu perkembangan proses pencarian dan evakuasi korban



