Sore Ahad yang mendung di Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Seorang lelaki jangkung menapaki anak tangga gedung rektorat lama. Dia baru saja menunaikan salat Ashar berjamaah di masjid. Letak masjid itu berada di seberang jalan gedung rektorat.

Usai berdoa dia langsung meninggalkan tempat duduknya menuju ruangan di gedung rektorat lama. Tak ada orang lain terlihat di gedung itu. Tak ada staf. Bahkan meja resepsionis pun kosong. Wajar saja, karena hari ini adalah hari Ahad.
Dia mengenakan kemeja batik berwarna abu-abu. Motifnya bertuliskan huruf lontarak. Lengan bajunya digulung hingga siku. Tangannya memegang smartphone. Perhatiannya tertuju ke situ.
Lelaki jangkung itu adalah Irwan Akib. Anggota Pimpinan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah yang baru terpilih di Yogyakarta pada November 2022 lalu. Ada 18 orang yang menduduki posisi anggota pimpinan pusat itu. Sebanyak 13 orang diusulkan oleh para pengurus inti dari seluruh wilayah di Indonesia melalui dewan tanwir. Sementara 5 orang lainnya adalah hasil usulan yang disetujui rapat anggota pimpinan PP Muhammadiyah, sehingga total keseluruhannya menjadi 18 orang pimpinan PP Muhammadiyah.
“Para pimpinan ini sifatnya Collective Collegial. Semua keputusan melalui musyawarah pimpinan,” ujar Irwan di ruang kerjanya.
Irwan memecahkan rekor. Dia lelaki pertama yang domisili di Sulsel, yang masuk dalam unsur pimpinan PP Muhammadiyah. Bukan hanya Sulsel, dia juga mewakili Indonesia Timur. Di antara 18 pimpinan itu pun, hanya dia seorang yang juga berasal dari daerah.
“Lainnya berasal dari pulau Jawa dan Sumatera. Itu pun domisilinya bukan di Sumatera tapi di Jakarta,” tambahnya.
Proses pemilihan ketua di PP Muhammadiyah berbeda dengan organisasi lainnya. Prosesnya cukup panjang. Terdapat dua tahapan pemilihan yaitu Tanwir dan Muktamar. Pada Tanwir itu, nama-nama calon formatur diusulkan oleh para anggota tanwir yang terdiri dari unsur inti anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pimpinan ortom tingkat pusat, dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah.
Di wilayah Sulsel sendiri terdapat 6 anggota tanwir yang di antaranya adalah ketua dan sekretaris PW Muhammadiyah Sulsel. Jumlah tanwir Sulsel memang cukup banyak, mengingat jumlah pengurusnya juga besar tersebar di beberapa kabupaten di Sulsel.
Pelaksanaan proses pemilihan Ketua PP Muhammadiyah itu bisa makan waktu hingga setahun lamanya. Karena pengaruh Covid-19, maka baru kali ini prosesnya agak lebih lama sekitar dua tahun.
Nama-nama calon formatur diusulkan oleh tanwir. Masing-masing menuliskan 13 nama calon formatur. Semuanya dilakukan secara rahasia. Tak ada yang mengetahui siapa saja yang diusulkan. Ke-13 nama itu kemudian dikirimkan ke panitia pelaksana pemilihan.
Nama-nama itu kemudian diseleksi kelayakan administrasinya. Menurut Irwan, ada 200-an lebih nama yang masuk ke kantong panitia pelaksana. Nama-nama itu kemudian tersaring berdasarkan persyaratan. Ada juga yang mengundurkan diri. Hasilnya keluar 92 nama.
Nama-nama itu kemudian disaring lagi melalui sidang tanwir sehingga keluar 39 nama. Tak ada seorang pun yang mengetahui siapa saja nama-nama yang akan dipilih pada sidang itu. Bahkan Ketua PP Muhammadiyah pun tak mengetahui siapa saja nama-nama yang 92 orang itu.
Sehingga sangat sulit untuk melakukan loby politik. “Kita yang memilih itu belum mengetahui siapa saja yang masuk. Nanti pada saat pemilihan kita disodorkan daftar nama-namanya. Dari situlah keluar 39 nama calon tetap yang akan dibawa ke muktamar,” ujarnya.
Irwan Akib berada pada urutan ke-23 dari 39 nama yang dibawa ke muktamar. “Persaingan masih sengit, karena hanya 13 nama saja yang akan dipilih menjadi formatur,” ujarnya.
Muktamar ke-48 itu akhirnya menghasilkan 13 nama formatur yang sekaligus menjadi anggota pimpinan PP Muhammadiyah. Mereka inilah yang akan bermusyawarah untuk menentukan siapa Ketua dan Sekretaris PP Muhammadiyah.
Meski nama Irwan Akib ada pada peringkat akhir dari 13 nama itu, namun suara yang diperolehnya tergolong besar. “Saya meraih 1.001 suara. Di bawah saya yang urutan 14 sekitar 900-an suara. Sehingga kami masuk dalam tim formatur itu,” ujarnya.
Irwan mengatakan, proses pemilihan Ketua dan Sekretaris PP Muhammadiyah saat itu, berlangsung sangat cepat dan lancar. Hanya sekitar 5 hingga 10 menit saja.
“Prosesnya sangat cepat. Tidak ada gontokan-gontokan. Proses itu dipimpin oleh Ketua Panitia Pelaksana. Kepada formatur yang memiliki suara terbanyak ditanyakan apakah bersedia menjadi ketua. Karena meraih suara terbanyak belum tentu otomatis jadi ketua. Pernah terjadi, raih suara terbanyak tapi bukan dia menjadi ketua,” katanya.
Nyaris Putus Sekolah
Perjalanan Irwan Akib menempuh pendidikan penuh dengan kisah perjuangan. Perjalanannya tak mulus. Bahkan dia pernah nyaris tak melanjutkan sekolah karena orang tua tak lagi sanggup untuk membiayai.
Suatu ketika, ibunya memanggil. Dia meminta agar Irwan berhenti saja untuk sekolah. Lebih baik mencari kerja. Padahal waktu itu Irwan hanya mengantongi ijasah SMP. Kondisi keuangan keluarganya tak mencukupi untuk biaya pendidikan. Apalagi dia memiliki enam orang saudara lainnya yang harus dibiayai pula.
Irwan adalah anak kedua di keluarganya. Ayahnya berprofesi sebagai seorang penjahit. “Ayah saya itu bukan penjahit yang memiliki usaha besar,” ujarnya.
Namun, meski mendapat penyampaian seperti itu, Irwan tak kecil hati. Dia bahkan tetap ngotot ingin melanjutkan studinya.
“Saya sampaikan kepada ibu saya waktu itu. Kalau memang tak cukup biaya tidak apa-apa. Saya hanya minta restu orang tua saja untuk melanjutkan sekolah. Cukup restu dan doa,” ujarnya.
Irwan menempuh pendidikan SD dan SMP di Parepare. Memasuki jenjang SMA, dia hijrah ke Sungguminasa, Gowa. Dia masuk ke SMA Negeri 1 (159/Salis) Gowa. Di Sungguminasa, dia tinggal bersama pamannya.
Selain sekolah, setiap hari Irwan membantu kakeknya untuk membawa barang dagangan ke pasar. Barang itu diangkut menggunakan gerobak kayu. Setiap pagi tugasnya mengantar barang ke pasar dan pada sore hari membawa pulang barang dagangan itu. Keluarganya tak memiliki los/kios di pasar. Mereka berjualan di emperan.
“Saat itu jalanan di Sungguminasa tak sebagus saat ini. Jadi saat menarik gerobak itu agak kesulitan juga, karena jalan berlobang. Terkadang roda masuk dalam lubang yang cukup dalam,” ujarnya.
Aktivitas itu dilakukan setiap hari tanpa diupah. Hal itu dilakukan karena sebagai bentuk terima kasihnya kepada keluarganya yang mau menampungnya di rumah mereka.
Tamat SMA, dia lalu melanjutkan kuliah di IKIP Ujungpandang (UNM,-red). Dia mengambil jurusan pendidikan matematika. Jurusan yang cukup rumit. Namun, bagi Irwan mata pelajaran matematika-lah, yang termudah dibanding dengan pelajaran lainnya.
“Saya pilih matematika karena menurut saya itu yang termudah. Tidak perlu menghafal seperti mata pelajaran lainnya,” tambahnya.
Sejak sekolah Irwan memang menunjukkan prestasi yang cukup menonjol. Termasuk di SMA. Khusus mata pelajaran matematika, dia punya motivasi khusus waktu itu. Dia serius mempelajari pelajaran itu agar bisa menjaga nama baik pamannya, tuan rumah tempat Irwan bermukim itu.
Pamannya adalah seorang guru matematika di SMA Salis. Setiap masuk mengajar di kelas Irwan, dia selalu saja menomorsatukan Irwan untuk mengerjakan soal-soal matematika di papan tulis.
“Jadi saya harus memacu untuk belajar matematika. Saya tidak mau bikin malu om saya. Bukan cuma itu, kalau salah, kami bisa dimarahi beberapa kali. Saat di sekolah, di rumah, dan saat bertemu orang tua. Karena pasti itu disampaikan ke orang tua,” katanya mengenang masa sekolahnya dulu.
Di IKIP, Irwan mulai aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Namun dia juga aktif di Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM).
Saat di bangku kuliah inilah, Irwan juga mulai mengajar di SMA Muhammadiyah Gowa. “Jadi selama kuliah, aktivitas saya seperti itu. Pagi kuliah, sore mengajar dan malam di sekretariat sambil tetap melaksanakan kewajibannya membantu kakeknya mengangkut dagangan ke pasar,” ujarnya.
Gaji Rp60 Ribu
Setelah menyelesaikan studinya di IKIP, Irwan mengabdi di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Awalnya mengajar di jurusan PGSD. Saat itu masih berstatus diploma. Lalu pada 1993, Unismuh membuka Jurusan Pendidikan Matematika. Dia ditunjuk sebagai ketua jurusan.
“Saat itu status saya bukan dosen PNS juga bukan dosen yayasan. Belum dikenal dulu itu. Jadi saya mengajar saja. Saya digaji sebagai ketua jurusan,” ujarnya.
Irwan digaji sebesar Rp60 ribu per bulan. Sementara biaya transportasi yang harus dikeluarkan ke kampus jauh lebih besar dari jumlah itu, sekitar Rp90 ribu per bulan.
“Tetapi yang saya herankan, dengan gaji sebesar itu tetap saja cukup. Kalau hitungan matematisnya minus. Bahkan pak kiai (KH Jamaluddin Amin,-red) bertanya, apak cukup. Saya sampaikan apa adanya. Entah bagaimana bisa cukup, padahal saya masuk setiap hari,” katanya.
Karir Irwan terus menanjak di Unismuh. Dari ketua Jurusan, lalu menjadi Pembantu Dekan I FKI, lalu Dekan FKIP, Lala diangkat menjadi pembantu rektor. Pada 2005 dia diangkat menjadi rektor. Dia menjabat selama dua periode.
“Karier saya itu naik turun. Bagi saya itu bukan sebuah persoalan. Karena niat saya adalah bagaimana memberikan pengabdian kepada institusi ini dan pada umat secara umum,” katanya.
Biodata:
Prof. Dr. Irwan Akib, M.Pd.
Tempat/Tanggal Lahir: Parepare, 2 Agustus 1963
Profesi: Dosen (Guru Besar)
Riwayat Pendidikan :
SD Negeri 7 Parepare (1975)
SMP Negeri 2 Parepare (1979).
SMA Negeri 1 Sungguminasa (Salis) (1982).
S1 Pendidikan Matematika IKIP Ujung Pandang (1986)
S2 Pendidikan Matematika IKIP Surabaya (1997)
S3 Pendidikan Matematika UNESA (2008)
Riwayat Pekerjaan :
Guru honorer di SMA Muhammadiyah dan SMA PGRI di Sungguminasa (1984-1987).
Asisten Dosen Luar Biasa Jurusan Pendidikan Matematika IKIP Ujung Pandang.
Dosen Tetap Kopertis IX Sulawesi (1992)
Ketua Jurusan Pendidikan Matematika FKIP Unismuh Makassar (1992-1993).
Pembantu Dekan I FKIP Unismuh Makassar (1993-1994).
Dekan FKIP Unismuh Makassar (2004-2005).
Pembantu Rektor I Unismuh Makassar (2005).
Rektor Unismuh Makassar (2005-2008 dan 2008-2012)
Direktur Pascasarjana Unismuh (2022-sekarang)
Pengalaman Organisasi :
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Ketua Umum Komisariat IMM FPMIPA IKIP Ujung Pandang.
Ketua Korkom IMM IKIP Ujung Pandang
Bendahara DPD IMM Sulselra (1987-1989).
Sekretaris Umum DPD IMM Sulsel (1989-1991).
Sekretaris PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel (1990-1994).
Wakil Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel (1994-1998)
Wakil Ketua Majlis Dikdasmen Muhammadiyah Sulsel (2000-2010)
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Muhammadiyah Sulsel (2010-2015).
Ketua Bidang Pendidikan, Kebudayaan dan Olahraga PP Muhammadiyah (2022-sekarang)
Sumber: Tokoh Sulsel 2021-2023






