
Andi Muchtar Ali Yusuf atau biasa disapa dengan Andi Utta sejatinya adalah seorang pengusaha.
Sejak duduk di bangku SMA yakni saat sekolah di SMAN I Makassar, Andi Utta sudah tak membebani orang tuanya untuk membiayai sekolahnya.
Dia menjajal berbagai usaha yang halal untuk memenuhi kebutuhan biaya sekolahnya. Nanti seusai menyelesaikan masa belajarnya di SMAN I Makassar, Andi Utta mulai secara profesional menjadi pengusaha. Yakni dengan mendirikan perusahaan perdagangan perikanan laut.
Perusahaan pertamanya itu bernama PT Dian Makmur Makassar. Perusahaan inilah yang menjadi kendaraan bagi Andi Utta untuk berbisnis hasil laut. Dia mengambil ikan segar dari beberapa kabupaten, yakni Sinjai, Bulukumba hingga Selayar lalu memasarkannya di Makassar. Lambat laun pasarnya berkembang hingga ke Singapura.
Saat tamat SMA Andi Utta memang sudah berfikir untuk mencari cara agar bisa sukses. Berwirausaha. Karena dia sadar, kondisi ekonomi orang tuanya saat itu boleh dikata belum memadai untuk membiayai sekolah dirinya dan adik-adiknya.
Ayah Andi Utta, yakni Andi Muh Ali Yusuf adalah seorang petani dan sekaligus pedagang kelontong di Tanete. Dia memiliki toko di depan Pasar Tanete.
Naluri berbisnis Andi Utta awalnya terasah saat membantu ayahnya di tokonya itu. Dia melihat bagaimana ayahnya bekerja sama dengan para pemasok barang dagangan. Dia melihat kepercayaan dari para pemasok yang menitipkan barangnya di toko itu menjadi modal yang sangat besar dalam berbisnis.
Saat masih SD, Andi Utta bahkan sudah mulai berdagang. Dia menjual buku ke rekan-rekannya di sekolah dengan selisih harga yang jauh lebih kecil dibanding dengan buku yang di jual di sekolahnya itu.
Saat SD itu, ketika dia menemani ayahnya mengambil barang di Makassar, Andi Utta juga membeli buku di Makassar dengan harga Rp200. Buku itu lalu dijual di sekolahnya dengan harga Rp350.
Ternyata cukup laris. Buku buku sejenis itu dijual dengan harga Rp600 di sekitar sekolah.
Setelah merasakan betapa enaknya mendapatkan keuntungan dengan berdagang, Andi Utta tak pernah berhenti untuk menjalani bisnis itu. Termasuk ketika membuka perusahaan usai tamat SMA.
Setahun setelah membuka perusahaan, Andi Utta sudah dipercaya untuk mengekspor ikan segar ke Singapura dan Australia. Dia juga mengekspor lobster dan hasil laut lainnya. Andi Utta sangat dipercaya oleh rekan bisnisnya di Singapura.
Sehingga rekannya itulah yang banyak merekomendasikan Andi Utta untuk mengembangkan ekspor ke negara-negara lainnya. Temannya ini pula yang memperkenalkannya dengan bisnis alat berat.
Dia bercerita, temannya yang di Singapura itu memperkenalkannya dengan pengusaha alat berat di Jepang. Di situ dia memasok alat berat bekas kemudian membawanya ke Indonesia. Lalu dijual. Bisnis ini digelutinya hingga saat ini.
Dari situ usahanya terus berkembang. Dia mulai merambah berbagai jenis sektor usaha. Tak hanya mengekspor, kini dia juga mengimpor. Dia juga mulai membangun bisnis shipping, forwarding, industri, penyewaan alat berat, jual beli dan beberapa usaha lainnya.
Semuanya mencapai 12 perusahaan yang memiliki sektor usaha yang berbeda-beda. Perusahaan itu dinaungi oleh sebuah Holding besar yang diberi nama Amaly Group.
Amaly sendiri diambil dari singkatan namanya dan nama orang tuanya, yakni Andi Muchtar Ali Yusuf.
Perusahaan-perusahaan itu antara lain, PT Amaly Mitra Abadi, PT Amaly Multi Trans, PT Amaly Cipta Anugrah, PT Sinar Amaly Pratama, PT Amaly Putra Timurindo, PT Amaly Sejati Terminal, PT Ardhana Cipta Developmen, PT Optima Jaya Perkasa Industrial, PT Alisan Cipta Anugrah, dan PT Dimas Indomineral Lampung.
Amaly saat ini sudah mim[pekerjakan sekitar 1.000-an orang lebih. Kantornya berada di Jakarta, Makassar, Kendari dan Kalimantan. Selain di Indonesia, usahanya juga ada di luar negeri, seperti di Jepang.
Masuk Dunia Politik
Sebenarnya sejak awal, Andi Utta tak memiliki keinginan untuk terjun ke dunia politik. Dia merasa apa yang dicita-citakannya sejak kecil sudah tercapai. Dia merasa sudah berada di zona istirahat.
Andi Utta bahkan sejak 2016 mulai menarik diri dari sebagian besar perusahaannya. Dia tak lagi mengurusinya secara langsung. Dia menunjuk orang kepercayaannya untuk mengoperasikan perusahaan-perusahaan itu.
Sebagai owner, dia hanya ingin memantau dan memberikan masukan jika diperlukan. Sistem sudah berjalan.
Menurutnya, cukuplah 12 tahun untuk memaksimalkan potensi diri untuk membangun usaha.
“Saya kira sudah cukup. Saya sudah kebut apa yang saya inginkan. Apa yang saya cita-citakan dulu sudah tercapai,” ujarnya saat menjadi narasumber MediumTV.
Dia hanya menyisakan satu perusahaan yang masih dikelolanya langsung, yakni PT Sinar Amaly. Namun pada akhirnya dia pun mengundurkan diri dari perusahaan itu saat mencalonkan diri menjadi Bupati Bulukumba.
Mencalonkan diri sebagai Bupati Bulukumba pun diputuskannya hanya dalam kurun waktu yang singkat. Hanya beberapa bulan menjelang pelaksanaan Pilkada Bulukumba.
Awalnya bukan dirinya yang mengambil ancang-ancang untuk berkompetisi di Pilkada Bulukumba itu. Adiknya, Alm. Andi Muhammad Ali Yusuf. Adiknya itu sudah menebar baliho sebagai figur yang bakal meramaikan kontestasi politik daerah itu.
Namun hingga awal 2021, hasil survei adiknya itu tak memuaskan. Adiknya itu malah menyerahkan kesempatan untuk ikut pilkada itu kepada kakaknya, yakni Andi Utta.
Karena melihat motivasi adiknya yang ingin melihat pengelolaan potensi Kabupaten Bulukumba digarap dengan baik, akhirnya Andi Utta menerima saran itu. Survei awal yang dilakukan LSI, Andi unta masih berada pada posisi 1% lebih. Dia berada di bawah bakal calon lainnya.
Namun setelah melakukan sosialisasi, hasil surveinya melejit hampir mencapai angka 5%. Ini memosisikan dirinya sejajar dengan tokoh-tokoh lainnya. “Saya yakin akan menang dengan hasil survei seperti ini. Sebenarnya kalau hasilnya tidak memuaskan saya mundur,” ujarnya.
Dia kemudian menggandeng Andi Edy Manaf, salah seorang politisi yang sempat duduk menjadi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bulukumba dan Anggota DPRD Sulsel.
Di politik sebenarnya bukanlah hal baru bagi Andi Utta. Walau tak langsung terjun sebagai politisi, namun Andi Unta cukup berpengalaman dalam memenangkan beberapa kepala daerah di Sulsel.
Dia menjadi salah seorang tokoh dibalik kemenangan Bupati Sinjai, Andi Seto Gadhista Asapa-Andi Kartini, juga Bupati Bulukumba sebelumnya yakni Andi Sukri Sappewali dan Tommy Satria, serta beberapa kepala daerah lainnya. (*)
Andi Muchtar Ali Yusuf
Tempat/ Tanggal Lahir : Bulukumba, 12 Februari 1967
Riwayat Pendidikan :
SD Negeri 58 Tanete (1973–1979)
SMP Negeri Tanete (1979–1982)
SMA Negeri 1 Ujung Pandang (1982–1986)
Riwayat Pekerjaan:
Pemilik PT Amaly Group
Bupati Bulukumba (2021–sekarang)
Riwayat Organisasi :
Anggota PERBAKIN (2002–sekarang)
Anggota International Zepril Association (2008–sekarang)
Anggota GAPEKSI (2002–sekarang)
Anggota Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat (2002–sekarang)
Sumber: Buku Tokoh Sulsel 2021-2023






