
Kamaruddin Amin masih ingat dengan baik pesan ibunya. Kalau ingin menguasai ilmu agama, maka harus terlebih dahulu menguasai Ilmu Nahwu. Ilmu ini adalah pintu segala ilmu Agama Islam.
Pesan itu begitu tertanam dalam diri Kamaruddin Amin. Sehingga saat sekolah di pesantren dia habis- habisan menekuni untuk mempelajari Ilmu Nahwu ini. Bahkan hingga di tingkat S1 pun dia memilih jurusan yang tak jauh dari ilmu itu, yakni Sastra Arab.
Kamaruddin memang sedari kecil punya keinginan untuk menjadi ulama. Mejadi sosok topanrita dalam bahasa Bugis. Keinginannya itu muncul karena dia lahir dan hidup di lingkungan tokoh agama. Kakeknya adalah seorang ulama yang mendirikan pesantren di Bontang, Kalimantan Timur.
Ayahnya juga seperti itu. Meski tidak mendapatkan pendidikan formal seperti saat ini, namun kedalaman keilmuan ayahnya dan kakeknya itu sudah bisa disebut sebagai ulama. Mereka dikenal sebagai guru di wilayah itu.
Orang tuanya adalah pendatang di Kalimantan Timur. Mereka berasal dari tanah Bugis, Sulawesi selatan. Mereka hijrah ke Bontang menjadi petani sekaligus menjalankan dakwah dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitar.
Kamaruddin Amin memiliki saudara yang cukup banyak. Sedikitnya 16 saudara yang berasal dari satu bapak dan tiga ibu.
Dia sejak kecil sudah diajar untuk mengenal agama. Juga diajar untuk menjalani kehidupan dengan sederhana.
Kamaruddin yang lahir di Bontang pada 5 Januari 1969 ini, memulai perjalanan pendidikan agamanya setelah tamat SD di pesantren As’adiyah Sengkang. Pesantren tertua di Sulsel yang telah melahirkan begitu banyak ulama, di antaranya adalah AGH Ambo Dalle.
Di pesantren ini dia belajar ilmu nahwu, juga hadis. Di pesantren ini juga ia memperdalam pemahamannya mengenai budaya dan Bahasa Bugis. Orang tuanya mengirim dia belajar di As’adiyah itu selain belajar agama juga agar dia tak melupakan tanah leluhurnya.
Kamaruddin fasih berbahasa Bugis. Bahkan dia sering kali berpidato dengan bahasa pengantar bahasa Bugis.
Setelah dari pesantren Kamaruddin lalu melanjutkan kuliah di Fakultas Adab dan Humaniora Jurusan Sastra Arab IAIN Alauddin Makassar. Di sini pula dia tercatat sebagai dosen Fakultas Adab UIN Alauddin Makassar.
Setelah tamat ia lalu masuk program pembibitan dosen. Sempat dua bulan di Al-Azhar Cairo, lalu berlanjut mengambil s2 di Leiden University. Kamaruddin sangat fasih Bahasa Arab, Inggris, Jerman, dan Balanda.
Peranan Ibu
Ibu adalah sosok yang menjadi idola profesor ini. Di mata Kamaruddin, ibu adalah seorang motivator yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan yang ia raih hingga hari ini.
Menurutnya, ibu adalah seorang yang sangat luar biasa, yang tidak pernah marah kepada anak-anaknya.
Meski dengan jumlah saudara yang cukup banyak dan memiliki karakter berbeda satu sama lain. Berkat bimbingan ibu, sejak kecil, Kamaruddin selalu berusaha menjadi yang terbaik di sekolahnya.
Prestasi demi prestasi pun ia cetak lewat pelbagai lomba yang diikutinya. Ia selalu juara pertama dalam berbagai lomba azan dan mengaji. Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga meraih gelar Doktor (S3) di Rheinischen Friedrich Wlhems Universitaet Bonn, Germany, Kamaruddin selalu mampu menjadi yang terbaik.
Untuk kehidupan sehari-hari, pria ini terus mengingat pesan ibunya agar bisa menyempatkan diri bersama keluarga. Hal ini dibuktikan saat libur, Kamaruddin selalu mengajak istri dan anaknya berjalan-jalan keluar kota atau hanya sekadar kumpul dan menghabiskan waktu di rumah.
Kalau soal membagi waktu bersama keluarga, ia selalu menyempatkan diri untuk bersama mereka. Terutama saat libur. Hal tersebut lantaran Senin hingga Jumat, waktunya tersita untuk bekerja di kantor.
Pria murah senyum ini adalah penikmat olahraga futsal dan bulutangkis. Meski demikian, hal yang rutin dilakukan setiap hari adalah jalan-jalan pagi usai salat subuh. Karena selalu jalan subuh, ia sangat menikmati taman di kompleks perumahan tempat ia tinggal.
Dai di Jerman
Tentang cita-cita, alumnus Pondok Pesantren As-Adiyah Sengkang ini ternyata ingin menjadi seorang ulama. Hal itu terlihat mulai serius ketika ia menjalani studi program doktor di Jerman. Saat itu, teman-temannya menjadikan dirinya sebagai sumber informasi. Jadilah Kamaruddin seorang mubalig, yang sering memberikan ceramah keliling dan pengajian di Eropa.
Baginya, buku Islam dan buku-buku klasik yang bernuansa serius, serta sejarah awal Islam menjadi favoritnya. Membaca pun sudah menjadi hobi dan rutinitasnya yang tak bisa dilewatkan. Membaca buku adalah suatu keharusan yang tak bisa ditinggalkan. Ia bakal merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya jika tak membaca buku.
Pria ini adalah doktor dengan predikat Summa Cumlaude dalam bidang studi Islam di Rheinischen Friedrich Wilhelms Universitaet Bonn, Jerman. Aktif menulis sebagai pemakalah seminar maupun menulis bagi jurnal nasional dan internasional.
Kamaruddin Amin pernah menduduki jabatan sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia. Salah satu ide yang dilahirkannya di Kemenag adalah penghargaan bagi para insan yang berkontribusi dan berprestasi dalam pendidikan Islam lewat ajang Apresiasi Pendidikan Islam (API). Penghargaan tersebut diberikan kepada individu, institusi, maupun Pemerintah Daerah.
Seleksi penerima API dilakukan lewat tahap penilaian portofolio kebijakan, survei opini pemangku kepentingan kebijakan pendidikan Islam, dan penilaian oleh dewan juri yang beranggotakan akademisi, praktisi, dan para pejabat bidang-bidang pendidikan Islam.
Sebelum jadi Dirjen, Kamaruddin menjabat Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama selama dua tahun. Beberapa waktu lalu, ia juga menjabat sebagai pembantu rektor bidang kerja sama Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
Prof Dr. Phil. Kamaruddin Amien, M.A.
Tempat Tanggal Lahir : Bontang, 5 Januari 1969
Profesi : Guru Besar
Riwayat Pendidikan :
SD Inpres 003 Santan Tengah Kecamatan Bontang
Pondok pesantren As’adiyah Sengkang’, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, 1984-1989.
S1, UIN Alaudin, Makassar, 1990-1994.
M.A Leiden University, Belanda, 1996-1998.
Ph.D Bonn University, Germany, 2000-2005.
Research for Ph.D. dissertation, Al-Azhar University, Egypt, 2003
M.A in Project Management Brainbanch International Certification, USA.
Riwayat Pekerjaan :
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI 2020–Sekarang
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI 2014-2020
Pelaksana tugas Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI 2017
Sekertaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI 2012–2014
Wakil Rektor Bidang Kerjasama UIN Alauddin 2007–2011
Wakil Rektor Bidang Kerjasama UIN Alauddin [[2011]–[2012]]
Komisioner Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) 2020-2025
Komisioner Badan Waqaf Indonesia (BWI) 2021-2024, Ketua Dewan Pembina BWI
Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Nasional
Ketua Dewan Pengawas (DEWAS) BLU UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Ketua DEWAS BLU UIN Malang
Anggota Dewan Pertimbangan DPP IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam)
Sekertaris Dewan Pengarah Masjid Istiqlal 2020-2025
Wakil Syuriah PWNU Sulawesi Selatan 2020-2025
Wakil Ketua Komisi Pendidikan MUI 2020-2025
Anggota Dewan Pembina Ikatan Keluarga Alumni Universitas Leiden (IKALI)
Dosen dan Guru Besar UIN Alauddin Makassar sejak 1996
Sumber; Buku Tokoh Sulsel 2021-2023






