Dosen FIP UNM latih 30 guru PAUD Gowa kembangkan media diorama.
GOWA – Sebanyak 30 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) anggota Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia–Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI-PGRI) Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, mengikuti pelatihan pengembangan media diorama untuk mendukung layanan bimbingan karier anak usia dini.
Kegiatan ini digelar di Aula TK Buah Hati, Dusun Balang Punia, sebagai bagian dari program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai oleh PNBP Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) Tahun Anggaran 2026.
Pelatihan ini menjadi terobosan penting mengingat selama ini pengenalan profesi kepada anak usia dini masih terbatas pada media dua dimensi seperti gambar dan poster. Padahal, anak-anak usia dini memiliki karakteristik belajar yang sangat bergantung pada pengalaman konkret dan permainan langsung. Media diorama hadir sebagai solusi inovatif yang memungkinkan anak-anak tidak hanya melihat, tetapi juga menyentuh dan memainkan langsung alat peraga tersebut.
Kegiatan ini diketuai oleh Fitriani Dzulfadhilah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang beranggotakan Sri Rika Amriani H., Febriansa, dan Angri Lismayani, serta didampingi oleh dua mahasiswa, Husnul Khatimah Halik dan Ananda Permata Izzah. Tim dosen FIP UNM ini memiliki kepakaran di bidang psikologi pendidikan dan pengembangan media pembelajaran untuk anak usia dini.
Mengapa Bimbingan Karier Penting bagi Anak Usia Dini?
Fitriani Dzulfadhilah menjelaskan bahwa kegiatan pelatihan ini berawal dari kenyataan di lapangan, yakni para guru PAUD Kecamatan Pattallassang masih menganggap bimbingan karier hanya relevan bagi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pandangan ini menyebabkan pengenalan profesi kepada anak-anak sering kali diabaikan atau hanya dilakukan sekadarnya tanpa metode yang menarik dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Padahal, menurut Fitriani, anak usia dini sebenarnya sudah bisa mulai dikenalkan pada berbagai profesi. Tujuannya bukan untuk mengarahkan cita-cita mereka sejak dini, melainkan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan memperkaya wawasan anak tentang dunia kerja yang ada di sekitarnya. Pengenalan profesi sejak dini juga dapat membantu anak mengembangkan pemahaman sosial dan menghargai berbagai peran dalam masyarakat.
“Anak usia dini sebenarnya sudah bisa mulai dikenalkan pada berbagai profesi, bukan untuk mengarahkan cita-cita mereka, tetapi untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan memperkaya wawasan anak tentang dunia kerja di sekitarnya. Media diorama kami pilih karena sifatnya konkret, bisa disentuh, dan bisa dimainkan langsung oleh anak lewat permainan peran,” jelasnya saat ditemui di sela-sela kegiatan, Senin (1/9/2026).
Inovasi Diorama Ber-HKI Karya Dosen UNM
Dalam pelatihan ini, para guru diperkenalkan pada dua inovasi diorama yang telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI) karya tim dosen FIP UNM. Pertama adalah PRO-KIDS CARE (Profession Kids Career Exploration), yaitu diorama berbentuk berbagai kompartemen profesi yang memungkinkan anak-anak mengeksplorasi beragam pekerjaan melalui permainan. Kedua adalah Media Diorama Mengenal Profesi Guru PAUD, yang secara khusus mengenalkan profesi guru PAUD kepada anak usia dini.
Kedua media ini dirancang dengan pendekatan yang sangat sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini, yaitu belajar sambil bermain. Melalui diorama, anak-anak dapat melihat miniatur berbagai tempat kerja, tokoh-tokoh profesi, serta alat-alat yang digunakan dalam pekerjaan tertentu. Mereka juga dapat bermain peran dengan menggunakan figur-figur yang ada dalam diorama, sehingga pengalaman belajar menjadi lebih bermakna dan menyenangkan.
Setelah mendapatkan pemaparan materi, para peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk mempraktikkan langsung pembuatan diorama. Tim pengabdi memilih pendekatan ini agar para guru tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang dapat segera diterapkan di kelas masing-masing.
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan diorama sengaja dipilih yang sederhana, murah, dan mudah ditemukan di sekitar, seperti kardus bekas, impraboard, kain flanel, tanah liat (clay), dan cat akrilik. Dengan bahan-bahan ini, para guru dapat membuat diorama dengan biaya yang sangat terjangkau, bahkan hampir tanpa biaya jika memanfaatkan barang-barang bekas yang ada di lingkungan sekitar.
“Setelah pemaparan materi, peserta dibagi ke kelompok kecil untuk mempraktikkan pembuatan diorama menggunakan bahan sederhana dan terjangkau, seperti kardus bekas, impraboard, kain flanel, clay, dan cat akrilik,” ujar Fitriani saat dikonfirmasi lebih lanjut.
Proses pembuatan diorama ini tidak hanya melatih keterampilan teknis para guru, tetapi juga mengasah kreativitas dan kemampuan kolaborasi mereka. Setiap kelompok bekerja sama untuk menciptakan diorama yang menarik dan edukatif, dengan tema-tema profesi yang berbeda-beda sesuai dengan minat dan kebutuhan masing-masing.
Penyelesaian produk diorama dilanjutkan pada 28 Juli 2026 melalui sesi pendampingan. Dalam sesi ini, tim pengabdi memberikan bimbingan intensif kepada para guru untuk menyempurnakan diorama yang telah mereka buat. Selain itu, dilakukan juga simulasi penggunaan diorama dalam pembelajaran, sehingga para guru dapat melihat secara langsung bagaimana media tersebut dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
Simulasi ini sangat penting karena tidak semua guru memiliki pengalaman menggunakan media tiga dimensi dalam pembelajaran anak usia dini. Melalui praktik langsung, para guru dapat belajar dari kesalahan dan menemukan cara terbaik untuk memanfaatkan diorama sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Setelah simulasi, tim pengabdi melakukan evaluasi untuk mengukur efektivitas pelatihan dan sejauh mana pemahaman guru telah meningkat.
Hasil Evaluasi: Peningkatan Pemahaman yang Signifikan
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelatihan ini memberikan dampak yang sangat positif bagi para guru PAUD. Pemahaman mereka tentang penggunaan media diorama untuk bimbingan karier anak usia dini meningkat secara signifikan, dengan rerata skor naik dari 75,3 menjadi 91,3 pada seluruh 30 peserta.
Peningkatan skor sebesar 16 poin ini menunjukkan bahwa metode pelatihan yang digunakan, yaitu kombinasi antara teori, praktik langsung, dan pendampingan, sangat efektif dalam mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada para guru. Selain itu, seluruh kelompok peserta juga berhasil menyelesaikan diorama masing-masing dengan hasil yang memuaskan.
“Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman guru signifikan, dengan rerata skor naik dari 75,3 menjadi 91,3 pada seluruh 30 peserta. Seluruh kelompok juga berhasil menyelesaikan dioramanya masing-masing,” tutup Fitriani dengan penuh kebanggaan.
Antusiasme peserta selama pelatihan terbilang sangat tinggi. Seluruh peserta mengaku bahwa ini adalah pengalaman pertama mereka dalam membuat dan menggunakan diorama untuk mengenalkan profesi kepada anak-anak. Banyak di antara mereka yang selama ini hanya mengandalkan gambar, poster, atau kunjungan lapangan yang membutuhkan biaya dan waktu lebih banyak.
Keberhasilan pelatihan ini juga terlihat dari berbagai usulan yang disampaikan oleh para guru. Sejumlah peserta mengusulkan agar Program Studi PGPAUD FIP UNM lebih sering melibatkan guru-guru PAUD, termasuk mengundang mereka pada pameran Alat Permainan Edukatif (APE) karya mahasiswa. Usulan ini menunjukkan bahwa para guru tidak hanya ingin berhenti pada satu kali pelatihan, tetapi juga ingin terus mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan serupa di masa mendatang.
Salah seorang guru peserta mengungkapkan rasa syukur dan antusiasmenya mengikuti pelatihan ini. “Pelatihan ini membuka wawasan baru bagi kami. Selama ini kami mengenalkan profesi hanya lewat gambar atau kunjungan lapangan, sekarang ada cara baru yang lebih menarik dan mudah ditiru dengan bahan sederhana,” ujarnya dengan semangat.
Keberhasilan pelatihan ini tidak membuat tim pengabdi berpuas diri. Ke depan, tim berencana melakukan pendampingan lanjutan agar para guru dapat menerapkan media diorama secara konsisten dalam pembelajaran tematik di kelas masing-masing. Pendampingan ini penting untuk memastikan bahwa keterampilan yang telah diperoleh tidak hilang begitu saja, melainkan terus diasah dan dikembangkan.
Respons positif dari para peserta juga membuka peluang bagi kerja sama berkelanjutan antara Program Studi PGPAUD FIP UNM dan IGTKI-PGRI Kecamatan Pattallassang. Kerja sama ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti pelatihan lanjutan, pengembangan APE baru, diseminasi inovasi pembelajaran, hingga penelitian bersama yang melibatkan dosen dan guru.
Dengan adanya kemitraan yang kuat antara perguruan tinggi dan guru-guru PAUD di lapangan, diharapkan kualitas pembelajaran anak usia dini di Kabupaten Gowa, khususnya di Kecamatan Pattallassang, akan terus meningkat. Anak-anak pun akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kaya, menyenangkan, dan bermakna sesuai dengan tahap perkembangan mereka. (*)






