Pengurus Komite SMK SMAK Makassar saat mengunjungi rumah siswa.
MAKASSAR — Pengurus Komite SMK SMAK Makassar memberikan dorongan moril sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan dengan melakukan kunjungan langsung ke rumah salah seorang siswa yang sedang mengalami musibah, pada Jumat (4/9/2026).
Kunjungan dan aksi kepedulian ini dilakukan untuk membantu serta meringankan beban ekonomi dan akademis Brian yang terpaksa berulang kali izin tidak masuk sekolah demi merawat ibunya yang sedang sakit.
Aksi solidaritas ini bermula dari pesan penggalangan dana yang beredar di grup perpesanan siswa. Pesan tersebut mengabarkan kondisi Brian, seorang anak tunggal yatim yang selama ini bergantung pada sang ibu sebagai pencari nafkah tunggal. Kondisi kesehatan sang ibu memburuk dan sempat dirawat di rumah sakit, tetapi perawatan terpaksa diberhentikan akibat kendala ekonomi.
Situasi darurat ini berdampak pada aktivitas akademis Brian di sekolah. Ia harus membagi waktu antara merawat ibunya, mengurus kebutuhan harian, serta menyelesaikan kewajiban sekolah seperti praktikum blok laboratorium, laporan harian, dan laporan lengkap. Melihat kondisi tersebut, pihak guru memberikan toleransi batas waktu pengumpulan tugas agar Brian dapat fokus merawat ibunya.
Ketua Komite SMK SMAK Makassar, Muh. Rusly Hasan, S.H., M.H., yang mengetahui informasi itu langsung bergerak cepat dan mengajak para pengurus untuk memberikan dukungan moral dan bantuan untuk meringankan masalah yang tengah dihadapi siswa tersebut.Â
“Sebagai pengurus komite kita berkomitmen untuk membantu siswa yang membutuhkan bantuan demi menjaga keberlangsungan pendidikan mereka,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMK SMAK Makassar, I Ketut Suryawirawan, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas tanggapnya pihak komite terhadap kebutuhan siswa yang sedang menghadapi kesulitan finansial dan musibah keluarga.
“Kami pihak sekolah menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kepedulian dan kerja keras pengurus serta anggota komite sekolah, mengapresiasi kepekaan sosial komite yang tanggap terhadap kebutuhan siswa kurang mampu. Dukungan ini dinilai sangat krusial agar tidak ada siswa berpotensi yang putus sekolah atau meredup semangat belajarnya hanya karena kendala finansial. Bantuan tersebut menjadi dorongan moral bagi siswa bahwa masyarakat dan lingkungan sekolah mendukung cita-cita mereka,” ujar I Ketut Suryawirawan. (*)






