Pemandangan senja di Pantai Losari Makassar
MAKASSAR — Kota Makassar memperingati hari jadinya setiap 9 November. Tanggal tersebut merujuk pada penetapan dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Makassar Nomor 1 Tahun 2000, yang menetapkan 9 November 1607 sebagai hari jadi kota.
Berdasarkan tanggal tersebut, Makassar akan memperingati hari jadi ke-419 pada 9 November 2026.
Penetapan itu mengacu pada peristiwa sejarah yang berkaitan dengan perkembangan Islam di wilayah Kerajaan Gowa-Tallo. Tanggal 9 November 1607 disebut sebagai momentum pelaksanaan salat Jumat berjemaah secara resmi di Masjid Tallo dan Masjid Mangallekana di kawasan Somba Opu.
Peristiwa tersebut dikaitkan dengan penerimaan Islam sebagai agama kerajaan oleh penguasa Gowa-Tallo. Kawasan ini kemudian berkembang sebagai salah satu pusat penting pemerintahan, perdagangan, dan peradaban di Sulawesi Selatan.
Setelah 9 November 1607, Era Kerajaan Gowa-Tallo
Sebelum berkembang menjadi kota modern, Makassar memiliki akar sejarah yang kuat dalam persekutuan Kerajaan Gowa-Tallo. Pada abad ke-16 hingga abad ke-17, kawasan ini tumbuh sebagai pusat perdagangan maritim yang menghubungkan wilayah Nusantara bagian timur dengan pedagang dari berbagai kawasan.
Benteng Somba Opu menjadi salah satu pusat pemerintahan dan perdagangan penting pada masa Kerajaan Gowa. Aktivitas perdagangan menarik berbagai kelompok pedagang, termasuk dari kawasan Melayu, Eropa, Arab, dan Tiongkok.
Perkembangan tersebut menjadikan Makassar bagian penting dari jaringan perdagangan regional. Namun, posisi strategis itu juga memicu persaingan dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan dagang Belanda yang berupaya memperkuat monopoli perdagangan di kawasan tersebut.
Perang Makassar dan Perjanjian Bongaya
Persaingan antara Kerajaan Gowa dan VOC memuncak dalam Perang Makassar pada 1666–1669. Sultan Hasanuddin menjadi salah satu tokoh utama dalam perlawanan Kerajaan Gowa terhadap kekuatan VOC.
Perjanjian Bongaya pada 1667 menjadi salah satu titik penting dalam perubahan politik dan perdagangan di kawasan tersebut. Konflik berlanjut setelah perjanjian itu, hingga kekuatan Gowa semakin terdesak.
Benteng Ujung Pandang kemudian dikuasai VOC dan diubah namanya menjadi Fort Rotterdam. Benteng tersebut menjadi salah satu pusat pertahanan dan administrasi kolonial di Makassar.
Masa Pemerintahan Kolonial Belanda
Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, Makassar berkembang sebagai pusat administrasi dan perdagangan untuk kawasan Sulawesi dan Indonesia bagian timur.
Tanggal 1 April 1906 kemudian dikenal sebagai penanda pembentukan Gemeente Makassar atau pemerintahan kota pada masa kolonial. Tanggal ini sempat digunakan sebagai hari jadi Makassar sebelum penetapan hari jadi diubah melalui Perda Kota Makassar Nomor 1 Tahun 2000.
Perubahan acuan hari jadi tersebut mencerminkan pilihan pemerintah daerah untuk menggunakan momentum sejarah lokal yang berkaitan dengan perkembangan Kerajaan Gowa-Tallo.
Pendudukan Jepang dan Masa Kemerdekaan
Pada 1942, Jepang menduduki Makassar sebagai bagian dari ekspansi militernya di Asia Tenggara selama Perang Dunia II. Kota ini memiliki posisi strategis bagi aktivitas militer Jepang di kawasan timur Indonesia.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, Makassar memasuki masa transisi politik yang kompleks. Kota ini kemudian menjadi bagian dari dinamika pembentukan Negara Indonesia Timur pada era Republik Indonesia Serikat sebelum kembali berada dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Periode tersebut turut membentuk perjalanan politik dan administrasi Makassar dalam masa awal kemerdekaan.
Dari Ujung Pandang Kembali Menjadi Makassar
Pada 1971, nama Makassar diubah menjadi Ujung Pandang melalui kebijakan pemerintah pusat. Perubahan itu disertai perluasan wilayah administrasi kota.
Nama Ujung Pandang digunakan selama hampir tiga dekade. Pada 1999, nama Makassar kembali digunakan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 1999.
Setahun kemudian, Pemerintah Kota Makassar menetapkan 9 November 1607 sebagai hari jadi kota melalui Perda Nomor 1 Tahun 2000.
Dengan penetapan tersebut, peringatan hari jadi Makassar tidak lagi merujuk pada tanggal pembentukan Gemeente Makassar pada masa kolonial, melainkan pada momentum sejarah yang dikaitkan dengan perkembangan Islam dan pemerintahan Kerajaan Gowa-Tallo.
Perjalanan Makassar dari pusat kerajaan maritim, kota kolonial, hingga metropolitan modern memperlihatkan perubahan politik, sosial, dan ekonomi yang panjang.
Hari jadi 9 November menjadi salah satu penanda resmi yang digunakan pemerintah kota untuk menghubungkan identitas Makassar masa kini dengan sejarahnya. (dari berbagai sumber)






