MAKASSAR – Promotor musik legendaris Indonesia, Log Zhelebour, menyiapkan kompetisi musik rock berbasis live streaming yang dirancang menjadi ajang terakhirnya sebagai penyelenggara event musik nasional.
Rencana tersebut diungkapkan Log saat berbincang dengan media di Carita Cafe Hotel Claro, Makassar, Jumat malam (30/10/2026) hingga Sabtu dini hari (31/10/2026).
Kompetisi ini disiapkan sebagai upaya membuka peluang bagi band rock pendatang baru untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat di tengah tantangan industri musik digital.
Log menilai perkembangan platform digital belum sepenuhnya memberikan ruang yang seimbang bagi musisi pendatang baru, khususnya band rock, untuk bersaing dengan musisi yang telah memiliki basis penggemar besar.
Menurutnya, algoritma platform musik digital cenderung merekomendasikan lagu-lagu yang telah memiliki jumlah pemutaran tinggi. Kondisi tersebut membuat karya baru dari musisi rock membutuhkan upaya lebih besar untuk menjangkau pendengar.
“Setiap hari ada ratusan ribu lagu baru diunggah ke platform digital. Namun, paling-paling hanya satu atau dua karya yang berhasil meledak ke permukaan, itu pun dampaknya tidak terlalu signifikan. Apalagi untuk genre rock atau metal, celah dan peluangnya jauh lebih sempit,” kata Log.
Kontes Rock Libatkan Penonton Lewat Live Streaming
Untuk menjawab tantangan tersebut, Log merancang kompetisi yang akan dibagi menjadi dua kategori, yakni musisi internasional dan musisi lokal.
Berbeda dengan kompetisi musik konvensional, ajang ini akan memanfaatkan format siaran langsung atau live streaming melalui YouTube dan platform digital lainnya.
Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dilibatkan dalam memberikan apresiasi terhadap penampilan peserta melalui jumlah penonton atau viewership.
Sementara itu, penilaian terhadap komposisi musik dan kualitas teknik penampilan akan dilakukan oleh dewan juri profesional.
“Dewan juri profesional akan membedah dan menilai aspek komposisi serta kualitas teknik penampilan para peserta. Namun, untuk menentukan karya atau grup band mana yang paling memikat hati publik, sepenuhnya kami serahkan pada penilaian masyarakat melalui indikator jumlah penonton serta daya tarik angka view,” ujarnya.
Melalui konsep tersebut, Log berharap band rock lokal memiliki kesempatan lebih luas untuk memperkenalkan karya sekaligus menjangkau pendengar baru.
Meski demikian, ia belum mengungkapkan jadwal pelaksanaan maupun mekanisme pendaftaran peserta. Rincian teknis kompetisi tersebut masih dalam tahap perencanaan.
Soroti Ancaman AI terhadap Hak Cipta Musisi
Selain persoalan algoritma digital, Log juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) generatif dalam industri musik.
Ia menilai kemudahan teknologi AI dalam menghasilkan musik perlu diimbangi dengan perlindungan terhadap kreativitas dan hak kekayaan intelektual para musisi.
Menurut Log, penggunaan teknologi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan ketika karya yang dihasilkan memanfaatkan karakter atau unsur musik dari karya orang lain tanpa memperhatikan hak penciptanya.
Ia juga menyinggung persaingan antara karya musisi manusia dan produk musik berbasis AI di platform streaming, terutama terkait komersialisasi dan pembagian royalti.
Log memperkirakan persoalan tersebut dapat memunculkan tuntutan hukum terhadap platform digital apabila ditemukan pelanggaran hak cipta dalam distribusi musik berbasis AI.
Kekhawatiran itu menjadi salah satu latar belakang pentingnya menyediakan ruang bagi musisi dan band yang menghasilkan karya secara langsung melalui kreativitas manusia.
Perjalanan Panjang Promotor Musik Rock
Rencana kompetisi tersebut memiliki makna tersendiri bagi Log. Ia menyebut ajang itu kemungkinan menjadi penutup perjalanan panjangnya sebagai promotor dan penyelenggara event musik.
Log mengaku telah cukup lama mengurangi aktivitas di panggung musik seiring perubahan industri menuju era digital. Karena itu, kompetisi yang sedang dirancangnya diharapkan menjadi kesempatan terakhir untuk mendukung kemunculan talenta-talenta baru.
Kehadiran Log di Makassar juga menjadi momen nostalgia bersama sahabat lamanya, James Wehantouw. Keduanya memiliki rekam jejak kerja sama dalam penyelenggaraan konser dan festival musik di Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tenggara sejak 1985.
James, yang kini menjabat Bendahara PWI Sulsel serta Pemimpin Redaksi/Perusahaan Pedomanrakyat.co.id dan Sorotmakassar.com, mengenang perjalanan Log sebelum dikenal sebagai salah satu promotor musik rock berpengaruh di Indonesia.
Menurut James, Log mengawali kariernya sebagai disc jockey (DJ) diskotik pada akhir 1970-an sebelum kemudian berkembang menjadi promotor konser dan produser rekaman.
Nama Log semakin dikenal melalui Festival Musik Rock Se-Indonesia yang digelar sebanyak 11 edisi pada periode 1984–2007. Ajang tersebut menjadi salah satu panggung bagi kemunculan sejumlah musisi dan band rock Indonesia.
Melalui kerja sama dengan Log dalam penyelenggaraan konser di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, James menyebut sejumlah nama yang pernah diorbitkan atau didukung dalam perjalanan kariernya, antara lain Nicky Astria, Nike Ardilla, Ita Purnamasari, Mel Shandy, Elpamas, Power Metal, Boomerang, dan Jamrud.
Log juga dikenal melalui penyelenggaraan konser yang menghadirkan musisi dan band rock nasional, seperti SAS, God Bless, Gong 2000, Achmad Albar, dan Ikang Fawzi, hingga band internasional seperti Sepultura, Mr. Big, White Lion, Helloween, dan Skid Row.
Di bidang bisnis, Log membangun sejumlah lini usaha pendukung industri musik melalui Log Zhelebour Production, Logiss Records, Log Sound, Log Artist Management, Log Stage, Log Lighting, hingga Log Show Promotor.
Kini, melalui rencana kompetisi rock berbasis live streaming, Log ingin kembali membuka panggung bagi generasi baru musisi rock Indonesia sebelum mengakhiri kiprahnya sebagai promotor event musik. (*)


Komentar