
Anregurutta (AG) Prof Dr KH Andi Syamsul Bahri A Galigo tak pernah menyangka akan lebih banyak menghabiskan waktunya mengabdi di negeri tetangga Malaysia dan Brunei Darussalam. Sekitar 28 tahun lamanya dia mengabdi di negeri tetangga itu.
Mengabdi sebagai seorang guru besar yang mengajarkan ilmu agama islam. Terkhusus lagi pada masalah-masalah akidah dan filsafat islam. Selain itu dia juga aktif sebagai pendakwah dan ulama yang sering dimintai pendapatnya terkait beragam permasalahan keislaman, utamanya yang berhubungan dengan Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja).
Di Malaysia dan Brunei dia dikenal sebagai ahli atau pakar dari Aswaja. Bahkan dia sering diundang oleh pemerintah untuk memberikan masukan-masukan terkait penerapan prinsip Aswaja dalam hukum negara.
Anregurutta bercerita, di Malaysia pada tahun 1990-an saat Anwar Ibrahim menjadi Deputi Perdana Menteri Malaysia, dirinya sempat diundang untuk memberikan pendapat dalam menyusun undang-undang keislaman yang sesuai dengan Aswaja.
Namun belum selesai rancangan undang-undang itu digodok, Anwar Ibrahim tersingkir dari dunia perpolitikan Malaysia. Dia dipenjara. Akhirnya, rancangan undang-undang itu tak kunjung selesai hingga hari ini.
Kepakaran Anregurutta dalam bidang Aswaja juga menarik perhatian Kerajaan Brunai Darussalam.
Di negeri ini sudah lebih awal membumikan Aswaja dalam peraturan negara. Aswaja lebih melembaga di kerajaan.
Pada tahun 2011, Kesultanan Brunai Darussalam mendirikan lembaga pusat kajian Aswaja. Ditugaskanlah salah seorang pejabat negara untuk mencari tokoh yang dianggap tepat untuk memimpin lembaga itu.
Secara kebetulan, sosok yang ditugaskan mencari itu, mengenal Anregurutta di Malaysia. Dia pun mengajaknya untuk hijrah ke Brunai. Menurutnya ini semua karena petunjuk Tuhan, sehingga dia bisa hijrah ke Brunai.
Di Brunai Darussalam dirinya pernah menjabat sebagai Direktur Pengkajian Aswaja. Lembaga inilah yang memberikan rekomendasi atau semacam sertifikasi kepada para pendakwah-pendakwah di seantero negeri dalam menjalankan aktivitasnya.
Di Brunai Darussalam memang tak sembarang orang yang bisa berceramah agama Islam. Harus mengantongi surat resmi dari negara. Tujuannya agar meminimalisir aliran-aliran yang tidak sesuai dengan haluan kerajaan.
Dirinya bahkan beberapa kali terpaksa tak memberi rekomendasi kepada pendakwah asal Indonesia yang masuk ke Brunai Darussalam yang setelah diteliti tak sesuai dengan Aswaja. “Di Brunai Darussalam ini memang tegas dalam menjalankan aturan ini. Hal itu berguna untuk memfilter,” ujarnya.
Dia mengatakan, berbeda dengan di Indonesia yang mengakomodir seluruh aliran. Termasuk aliran yang di seluruh ulama dunia menolaknya, tetapi diterima di Indonesia. “Tetapi kelebihannya di Indonesia itu sangat menguntungkan dalam berdakwah, karena mudah,” ujarnya.
Terlibat Pendirian USIM
Di Malaysia dia termasuk salah seorang tokoh yang turut andil mendirikan Universitas Sains Islam Malaysia (USIM) pada 1996. USIM sendiri merupakan universitas islam pertama yang berstatus negeri yang dimiliki negeri jiran ini. Sebagian universitas islam merupakan milik swasta.
Meski terlibat langsung dalam pendirian USIM, namun nama beliau tak tercantum dalam prasasti pendirian USIM. Ini lebih banyak disebabkan karena faktor status kewarganegaraan yang masih WNI.
USIM sendiri digagas oleh para cendekiawan-cendekiawan di Malaysia, yang sebagian besar merupakan pentolan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Mereka merupakan rekan sejawat yang sebagian di antaranya adalah sesama alumni Universitas Al Azhar.
Di USIM inilah Anregurutta akhirnya menjadi guru besar pada 2000. Dia pun sempat menduduki posisi Dekan Fakulti Dakwah dan Pengurusan Islam, USIM, Malaysia, dan Ketua Bidang Kajian Aqidah, Institut Pengurusan Fatwa Sedunia (INFAD) USIM.
Pengabdiannya di universitas ini berakhir ketika dia resign pada 2011 dan hijrah ke Brunai Darussalam.
Murid Langsung AGH Ambo Dalle
Sebelum melanglang buana di Malaysia dan Brunai, Anregurutta menimba ilmu agama di DDI Parepare. Di sinilah dia banyak berinteraksi dengan AGH Abdurrahman Ambo Dalle yang membina DDI.
Anregurutta masih mengingat jelas, tanggal dan bulan kedatangannya di DDI untuk belajar agama, yaitu pada tanggal 12 Desember 1970. Dia masuk ke pesantren usai tamat dari SMP.
“Saya memang memiliki minat untuk belajar agama. Saya melihat aktivitas belajar mengajar di DDI maka saya tertarik untuk belajar di situ,” ujar dia.
Di DDI-lah dia menghabiskan hampir sepuluh tahun belajar langsung dengan AGH Ambo Dalle. Dia bahkan sejak awal dikader dan disiapkan untuk melanjutkan studi di Al Azhar.
“Saya memang sudah disiapkan oleh AGH Ambo Dalle untuk belajar ke Al Azhar. Namun karena jatah beasiswa sudah habis maka saya berangkat ke Mesir tanpa beasiswa dari sini. Istilahnya waktu itu terjun bebas. Nanti di sana kalau sudah tiba baru mengurus beasiswa,” ujarnya.
Keberaniaannya berangkat ke Mesir tanpa jaminan beasiswa tidak lain karena di Mesir sudah terdapat banyak kawan-kawannya yang sudah terlebih dulu belajar di Al Azhar. Juga menempuh cara yang sama.
Di Mesir dia mendapatkan gelar Lc di Universitas Al Azhar pada Jurusan Akidah dan Falsafah. Selanjutnya dia melanjutkan ke jenjang S2 di Universitas Kairo dan berhasil mendapat titel MA.
Setelah menyelesaikan studinya di Mesir. Anregurutta pulang kembali ke tanah air. Kembali ke DDI dan mengabdi membantu AGH Ambo Dalle dalam mengajar di Kaballangeng.
Lima tahun lamanya dia mendampingi AGH Ambo Dalle sampai dia kembali mendapatkan beasiswa dari Arab Saudi untuk melanjutkan kuliah S3. Tadinya dia akan mengambil di Kairo. Namun setahun setelah kedatangannya kembali ke Mesir dia diajak oleh rekannya asal Malaysia untuk studi S3 di UKM.
“Salah satu kemudahannya, karena kami dapat belajar sambil bekerja di situ,” ujarnya.
Di UKM inilah dia kemudian diangkat menjadi dosen. Di Saat yang sama dia juga melanjutkan studinya di S3 pada Jurusan Falsafah Islam.
Lahir di Siwa
Berdasarkan catatan Dr Firdaus Muhammad, Anregurutta dilahirkan di Siwa Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo tahun 1955.
Merupakan putra dari pasangan Andi Galigo Petta Lolo Manggabarani dan Hj Sri Qamariah Binti Abdul Basir Puang Madda.
Menempuh Pendidikan dasar dan menengah di Bulete dan Siwa tahun 1970. Kemudian melanjutkan pendidikannya di Pesantren DDI Ujung Lare yang dipimpin oleh AGH Ambo Dalle.
Biodata
AG. Prof. Dr. H. Syamsul Bahri A Galigo Lc MA
Tempat / Tanggal Lahir : Siwa Wajo, 04 Mei 1955
Profesi : Guru besar dan Ulama
Riwayat Pendidikan:
PhD, Usuluddin & Falsafah (Universiti Kebangsaan Malaysia) – 1998,
MA, Falsafah Islam (Cairo University, Mesir) – 1987,
LC, Aqidah & Falsafah (al-Azhar University, Mesir) – 1982,
BA, UI Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI) Pare pare, Sulsel – 1978.
Riwayat Pekerjaan:
Tutor/Dosen, Universitas Islam Addariyah/STAI-DDI (1978 – 1991),
Dosen Senior, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) (1992 – 1999),
Guru Besar di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) (2000 – 2011),
Dekan Fakulti Dakwah dan Pengurusan Islam, USIM, Malaysia,
Ketua Bidang Kajian Aqidah, Institut Pengurusan Fatwa Sedunia (INFAD) USIM,
Guru Besar di Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan, Brunei (2012 – 2020),
Dekan Pascasarjana, KUPU SB Negara Brunei Darussalam,
Direktur Pengkajian Kefahaman Ahli Sunnah Waljama’ah, Brunei Darussalam,
Ketua Editor Jurnal Antarabangsa Ahli Sunnah Wal-Jama’ah, KUPU SB Brunei,
Pembimbing dan Penguji Tesis/Disertasi MA & Ph.D Universitas dalam dan luar negeri,
Penilai kesepakaran untuk promosi pangkat Profesor/Prof Madya,
Pembentang dan Penilai berbagai artikel/kertas kerja Seminar tingkat nasional, regional dan
internasional,
Team Pengkajian Ahli Sunnah Wal-Jama’ah, Pusat Islam Malaysia,
Team Pentashih Terjemahan & Tafsir Al-Quran al-Karim (Bahasa Bugis),
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan.
Ketua Umum PB-DDI
Karya Buku :
Al-Ijtihaad fi al-Fikr al-Islamiyy, Usul al-‘Aqidah fi Daw Manhaj Ahli Sunnah.
Pemikiran Tasawwuf Syaikh Abu Mahasin Yusuf al-Taj.
Al-Harakah al-Batiniyyah fi Mizan al-Islam.
Dirasat fi al-Fikri al-Islamiy al-Mu’asir.
Anjakan Paradigma Dakwah Dalam Menangani Pelampau
Isu Pemikiran Islam Masa Kini.
Pengenalan Ilmu Tasawuf.
Integrasi Agama & Kaunseling.
Muhadarat fi al- Aqidah al-Islamiyyah.
Agama dan Pemulihan Dadah.
Pendidikan Kanak-kanak dalam Islam.
Muhadarat fi Adab al-Ikhtilaf.
Kunci Memahami Ilmu Tasawuf.
Pengenalan Ahli Sunnah Waljama’ah.
Jalan Menuju Allah: Bingkisan Syaikh Yusuf al-Taj al-Khalwatiy di Ceylon.
Mencintai Rasulullah dan Fenomena Penghinaan.
Pemikiran Tarbiyah Menurut Imam Ghazali.
Pemikiran Tarbiyah Menurut Imam Mawardi.
Model Kepimpinan Pendidikan Dan Kaitannya Dengan Persekitaran Organisasi.
Aqidah Ahli Sunnah Waljama’ah: Metodologi, Kefahaman dan Cabaran. (*)
Sumber: Buku Tokoh Sulsel 2021-2023






