Jakarta, –Film animasi karya Perfiki Kreasindo ini menjadi sorotan warganet setelah banyak yang kecewa dengan hasilnya, terutama setelah terungkap detail anggaran dan durasi produksinya.

Dibuat dengan anggaran Rp6,7 miliar, film yang disutradarai oleh Endiarto dan Bintang serta diproduseri Toto Soegriwo ini dikerjakan dalam waktu kurang dari sebulan.
Hal ini memicu anggapan bahwa pengerjaannya terburu-buru, sekedar untuk bisa rilis bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan.
Kritik semakin memuncak ketika YouTuber Yono Jambul mengungkap bahwa banyak aset dalam film, seperti latar jalanan dan karakter, bukan buatan tim produksi melainkan dibeli dari toko digital seperti Daz3D.
“Ada adegan jalan, tapi mereka pakai aset ‘Street of Mumbai’. Jadi terasa aneh,” kata Yono, seperti dilaporkan detik.com.
Penggunaan aset siap pakai tanpa modifikasi yang memadai dinilai membuat film ini kehilangan nuansa lokal dan terkesan asal-asalan.
Warganet juga mempertanyakan alokasi anggaran miliaran rupiah, mengingat aset yang dipakai bisa dibeli dengan harga belasan dolar.
Sebagai perbandingan, produksi anime seperti *One Piece* atau *Demon Slayer* per episodenya hanya menghabiskan sekitar Rp1,8 miliar dengan kualitas jauh lebih baik.
Produser Toto Soegriwo menanggapi kritik dengan sindiran lewat Instagram:
“Senyum saja. Komentator selalu lebih pintar dari pemain. Kalian juga dapat untung kan? Postinganmu jadi viral.”
Meski menuai kontroversi, film ini rencananya tetap tayang di bioskop mulai 14 Agustus 2025. Trailer-nya sudah diunggah di YouTube Perfiki TV, CGV Kreasi, dan Historika Film.
Dalam deskripsi resmi, film ini disebut sebagai animasi pertama bertema kebangsaan. Kisahnya mengikuti sekelompok anak yang tergabung dalam “Tim Merah Putih” untuk menjaga bendera pusaka di desa mereka. Namun, bendera itu hilang, memicu petualangan mereka untuk mengembalikannya sebelum Hari Kemerdekaan. (*)
