Jakarta,–Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membagikan kisah pilu pasca rumah pribadinya dijarah dalam kerusuhan pada akhir Agustus 2025 lalu.
Melalui unggahan di Instagram pada 2 September 2025, ia tidak hanya bercerita tentang barang yang hilang, tetapi lebih tentang luka psikologis dan runtuhnya peradaban yang ia rasakan.
Dalam unggahan tersebut, Sri Mulyani menyertakan sebuah foto yang memperlihatkan seorang pria berjaket merah dan helm hitam dengan percaya diri memanggul lukisan cat minyak bergambar bunga yang ia lukis sendiri 17 tahun silam.
“Lukisan Bunga itu bagi penjarah pasti dibayangkan bernilai sekedar seperti lembaran uang. Bagi saya, itu adalah hasil dan simbol perenungan serta kontemplasi diri, sangat pribadi,” tulisnya.
- APPI Resmi Buka Registrasi Makassar Half Maraton 2026
- Cuaca Ekstrem Landa Makassar: 29 Titik Pohon Tumbang dan 356 Warga Mengungsi
- Setiap Musim Hujan Katimbang & Paccerakkang Langganan Banjir, Wali Kota Siapkan Solusi Permanen
- Air Naik Tengah Malam, BPBD Makassar Evakuasi 53 Warga ke Kantor Kelurahan Katimbang
- Pastikan Warga Aman, Wali Kota Makassar Tinjau Lokasi Banjir Katimbang
Ia menambahkan bahwa rumahnya adalah tempat anak-anaknya tumbuh besar dan menyimpan kenangan yang tak ternilai harganya.
Namun, yang ia sesali bukanlah kehilangan benda materi. Sang Menteri menyoroti hilangnya nilai-nilai kemanusiaan yang ia saksikan. Ia merasa ngeri melihat aksi penjarahan yang justru diwawancarai dan diviralkan secara sensasional di media sosial, seolah menjadi sebuah pesta.
“‘dapat barang apa mas?’ – dijawab ringan, dengan nada sedikit bangga tanpa rasa bersalah : ‘lukisan’,” ujarnya mengutip sebuah dialog yang ia lihat. Ia menilai hal ini menimbulkan “histeria intimidatif yang kejam” di mana hukum dan akal sehat seakan hilang.
Sri Mulyani juga mengungkapkan duka yang paling dalam, bukan untuk lukisannya, melainkan korban jiwa yang tewas dalam tragedi tersebut. Ia menyebut satu per satu nama korban: Affan Kurniawan, Muhammad Akbar Basri, Sarinawati, Syaiful Akbar, Rheza Sendy Pratama, Rusdamdiansyah, dan Sumari.
“Dalam kerusuhan tidak pernah ada pemenang. Yang ada adalah hilangnya akal sehat, rusaknya harapan, runtuhnya fondasi berbangsa dan bernegara kita,” tulisnya dengan penuh kepiluan.
Di akhir pesannya, Sri Mulyani mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk tidak menyerah pada kekuatan destruktif. Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus terus dijaga dan diperbaiki.
“Tanpa lelah, tanpa amarah dan tanpa keluh kesah serta tanpa putus asa,” pungkasnya penuh semangat. Unggahan ini telah menuai ribuan like dari warganet. (*)
