Oleh: Arianto Dangkeng
Dekan Fakultas Bisnis, Universitas Mega Buana Palopo
Beberapa waktu lalu, saya sempat makan di PB (Pon* Bu*i) Rantepao, Toraja Utara. Bisnis makanan yang sudah lebih dari 30 tahun bertahan ini bikin ka terkejut. Bagaimana di warungnya sederhana, pake papan kayu, dengan lantai yang dulunya tanah, sekarang sudah dicor semen.
Tapi, yang bikin ka kagum, banyak orang-orang antri, padahal tempatnya ndak ada perubahan besar. Penjualnya juga masih mamak-mamak yang berdaster, sajikan makanan dengan penuh kehangatan. Ternyata, warung kayak begini, justru yang bikin orang betah dan kembali lagi.
Saya pikir, kok bisa ya bisnis makanan yang ndak ikut-ikutan tren kekinian tetep ramai? Ternyata jawabannya sederhana, PB ini ndak jual makanan yang cuma hits di media sosial, mereka jual rasa dan pengalaman.
Orang datang bukan cuma karena makanannya enak, tapi karena tempat itu punya cerita. Cerita tentang tradisi, tentang kenangan lama, tentang cita rasa yang turun temurun.
Nah di Palopo, ada tong model bisnis makanan yang mirip, contohnya Warung MT (MosTao). Jualan kapurung patikala, makanan khas yang sering dicari orang karena rasanya yang unik.
Meski sederhana, warung ini tetap ki mempertahankan kearifan lokal. Warung kayak begini justru yang punya daya tarik kuat karena ndak ikut-ikutan makanan kekinian yang kadang cuma tren sesaat.
Malah, mereka punya nilai lebih: makanan tradisional yang penuh rasa dan sejarah.
Menurut saya, banyak mi bisnis makanan yang sekarang terlalu ikut-ikutan dengan tren kekinian. Padahal, banyak orang lebih cari pengalaman makan yang ndak cuma instan atau hits saja.
Seperti di PB dan MT, mereka ndak perlu ikut trend makanan yang sedang viral, mereka mempertahankan ciri khas makanan daerah yang justru bikin ki orang-orang semakin tertarik.
Ternyata, yang dicari orang itu bukan sekedar makanan enak, tapi juga makanan yang punya nilai lebih, yang bisa jadi bagian dari cerita dan sejarah hidup mereka.
Makanan kekinian seringkali hanya soal visual dan promosi besar-besaran, tapi makanan yang punya akar budaya dan tradisi itu punya daya tarik yang lebih kuat. Ini terbukti di PB dan MT, yang tetap eksis meski ndak mengikuti tren kekinian.
Mereka menawarkan lebih dari sekedar makan, mereka menawarkan sebuah pengalaman yang ndak bisa digantikan oleh makanan kekinian yang cuma muncul sesaat.
Di dunia bisnis makanan yang semakin modern ini, kita bisa belajar dari mereka. Bisnis makanan yang ikuti tren kekinian mungkin sebentar populer, tapi yang bertahan lama justru yang bisa menjaga nilai-nilai tradisional dan warisan lokal.
Makanan yang ndak cuma ngehits di Instagram, tapi juga punya rasa yang tinggal di hati dan ingatan orang-orang.
Jadi, jangan ki takut untuk terus jualan makanan yang sederhana, yang punya cerita. Karena yang dicari orang itu bukan hanya tampilan atau iklan bombastis, tapi pengalaman yang bisa membuat mereka balik lagi.
Makanan tradisional kita punya potensi besar, dan bisnis makanan yang tetap berpegang pada akar budaya akan selalu punya tempat di hati masyarakat.
