
“Lebih baik mati di Cairo daripada pulang kampung tak berhasil,”
Begitulah kata Prof Dr (HC) AG. H. M. Faried Wajdi, LC., MA mengingat pengalamannya saat masa-masa awal kuliah di Cairo, Mesir.
Pengalaman yang penuh perjuangan. Menimba ilmu di negeri yang jaraknya 14.000 km dari kampung halamannya, Barru, Sulsel.
Gurutta Faried (begitu dia akrab dipanggil di kalangan santri DDI AD Mangkoso,-red) sangat jelas mengingat masa-masa itu. Pengalaman yang tidak dapat dilupakan. Bagaimana dia nekat berangkat ke Mesir, untuk lanjut kuliah ke Universitas Al Azhar Cairo. Padahal belum ada kepastian diterima sebagai mahasiswa.
“Dukanya itu luar biasa. Karena kami datang bukan atas beasiswa. Istilahnya sekarang itu terjun bebas. Karena pada masa itu, yang ingin belajar ke Cairo datang saja. Baik yang dengan beasiswa atau belum punya beasiswa. Bedanya kalau punya beasiswa sudah ada jaminan di sana, sementara yang belum punya beasiswa nanti di sana baru mengurus,” ujarnya.
Dia hanya mengandalkan surat Alm. AGH. DR. M Sanusi Baco, BA., Lc, MA. Surat yang ditujukan kepada salah seorang teman yang masih kuliah di Al Azhar. Di rumah teman AGH Sanusi Baco itulah, dia pertama-tama tinggal. Dia pulalah yang memberi petunjuk kemana dia harus pergi untuk mengurus persiapan masuk di Al Azhar.
Saat mengurus, Gurutta lebih banyak berjalan kaki. Dengan bekal peta yang dibeli saat baru tiba di Cairo, dia menyusuri jalan-jalan di Cairo. Diberinya tanda pada titik lokasi yang akan didatanginya.
Urusannya tak simpel. Sembilan bulan lamanya dia harus berkeliling untuk mengurus beasiswa. Gurutta bahkan masih mengingat bagaimana sepatunya akhirnya rusak karena kebanyakan digunakan jalan.
“Waktu itu saya pakai sepatu yang terbaiklah dari Makassar, mereknya Bata. Ujungnya itu sampai menganga dipakai jalan,” katanya.
Di tengah-tengah pengurusan beasiswa itu, dirinya sempat mendapat ancaman dari pihak imigrasi karena masa visa akan berakhir. Saat itulah dia pun mengirim surat ke kampung agar dikirimkan uang agar bisa memperpanjang visa.
Setelah mendapatkan beasiswa, masalah baru kembali ditemuinya. Ijazahnya tak dapat digunakan untuk masuk ke Universitas Al Azhar. Sementara beasiswa hanya bisa cair jika sudah terdaftar dan kuliah.
Untungnya, di Cairo terdapat lembaga yang menjadi tempat bagi para calon-calon mahasiswa yang sudah mendapat beasiswa namun belum terdaftar di Al Azhar. Tempat itu menampung seluruh calon dari berbagai negara.
Di tempat itu dia bertemu dengan salah seorang calon mahasiswa yang berasal dari Malaysia. Dia ternyata masih punya darah Bugis. Dia menawarinya untuk menggunakan ijazah dari sekolah asalnya untuk masuk menjadi mahasiswa di Al Azhar.
“Sekolahnya setingkat dengan Madrasah Aliyah, tetapi di Malaysia disebut Tsanawiyah. Ijazahnya sudah akreditasi dan dapat digunakan masuk Al Azhar,” ujarnya.
Namun Gurutta Faried harus rela turun jenjang mengikuti kuliah tingkat S1. Padahal, saat itu dia sudah mengantongi ijazah sarjana muda. Tapi bagi gurutta, itu tak mengapa, yang terpenting bisa menimba ilmu agama di Al Azhar.
Tadinya, Gurutta akan memilih jurusan Dirasah Islamiyah. Jurusan ini menurutnya menjadi jalan bagi dirinya untuk berkiprah di lapangan dakwah di Indonesia. Karena jurusan ini mengajarkan pengetahuan agama Islam secara umum, lebih luas tidak spesifik.
“Tapi ternyata saya lulus di Syariah. Menurut teman-teman waktu itu menyampaikan, tidak apa-apa. Karena kalau ingin belajar mengenai ilmu yang lain tinggal mencari bukunya di sini,” ujarnya.
Dia pun akhirnya menekuni kuliah di Fakultas Syariah. Betul-betul menjadi seorang mahasiswa. Aktifitasnya hanya belajar dan ibadah. “Di sana kita sudah diminta tanda tangan untuk tak bekerja baik dengan digaji ataupun tak digaji selama kuliah,” ujarnya.
Setelah dua tahun kuliah, ijazah sarjana muda yang di perolehnya dari DDI Mangkoso akhirnya telah terakreditasi dan dapat diterima untuk melanjutkan pendidikan di Cairo. Gurutta pun akhirnya mendaftar Strata Dua di Universitas Cairo. Dia juga mengambil jurusan syariah, sambil tetap menjalankan studi S1 di Al Azhar.
Saat menjalani studi di S2 inilah tantangan baru dihadapainya saat menulis thesis. Dia harus berganti pembimbing sebanyak delapan kali. Macam-macam alasannya. Namun alasan yang terpenting adalah karena pihak dosen pembimbing bertugas di luar Mesir.
Sementara media komunikasi saat itu masih sangat terbatas.
Gurutta tak putus asa. Dia sudah melempar jangkar. Tak ingin pulang kampung sebelum benar-benar tuntas menyelesaikan studinya di Mesir.
Gurutta mengingat, dia menghabiskan sekitar delapan tahun untuk menyelesaikan studi S2. Dia pun terpaksa mengulur penyelesaian studinya di S1 Al Azhar pula. “Sengaja terlambat, karena kalau cepat selesai habis juga beasiswa, sementara S2 belum selesai,” ujarnya.
Usai menyelesaikan studinya di Cairo, Gurutta Faried pulang kembali ke kampung halaman, dan mengabdi di DDI Mangkoso.
“Saya punya dua cita-cita saat kembali ke Mangkoso. Pertama membuat sistem pendidikan persiapan bagi calon siswa di DDI Mangkoso selama setahun, namanya Iddadiyah dan yang kedua adalah pengembangan kampus,” ujarnya.
Kedua keinginannya itu telah terealisasi. Program Iddadiyah yang awalnya sempat menimbulkan pro dan kontra, namun pada akhirnya dipuji karena mampu memberikan kemudahan bagi para calon santri yang berasal dari sekolah umum ke sekolah diniyah.
Peminat pesantren DDI Mangkoso pun semakin hari semakin pesat. Sehingga pihaknya harus menyiapkan kawasan yang lebih luas untuk menampung santri. Saat ini DDI mangkoso telah memiliki tiga kampus dan terus akan melakukan pengembangan.
Terakhir, pihaknya menggagas untuk mengembangkan kawasan wisata religi yang berada di areal tanah DDI Mangkoso. Tempat itu diharapkan mampu menjadi lokasi wisata yang bernuansa Islami.
Dirikan KKSS di Cairo
Selama masih kuliah di Kairo, Gurutta Faried mengaggas dibentuknya Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS). Alasan pembentukan itu tak lain untuk membantu para pelajar asal Sulsel yang datang ke Mesir.
Utamanya para calon mahasiswa yang belum memiliki beasiswa untuk kuliah di Al Azhar. “Waktu itu kami melihat, banyak yang datang seperti saya, terjun bebas. Kalau satu dua orang saja yang mengurus kan berat juga. Jadi kita bentuk KKSS ini,” tambah dia lagi.
Menariknya, anggota KKSS ini tak semata berasal dari tanah Sulawesi Selatan saja. Ada juga mahasiswa dari Thailand, Malaysia dan Afrika Selatan. Mereka memang bukan berasal dari Indonesia, tetapi mengaku memiliki darah keturunan bugis.
“Ternyata ada mahasiswa dari Afrika Selatan yang merupakan cucu dari pengawal Syech Yusuf. Dan kami bertemu di Al Azhar,” ujarnya.
Dakwah Dari Hati
Gurutta Faried dikenal sebagai seorang guru dan muballigh yang kharismatik. Memiliki ciri khas saat berpidato. Kalimat-kalimat yang digunakannya mudah dipahami namun memiliki kesan yang dalam.
Petuah-petuahnya diakui oleh murid-muridnya terkadang sangat membekas. Pesan-pesan yang disampaikan saat khutbah memiliki getaran yang berbeda jika dibandingkan dengan dai lainnya.
Menurut Gurutta, semua itu karena apa yang disampaikan adalah kebenaran dan disampikan dengan sepenuh hati. “Apa yang datang dari hati akan sampai ke hati pula,” ujarnya. (*)
Prof. Dr. (HC) AG.H. M. Farid Wajedi, LC., MA.
Tempat/Tanggal Lahir : Lapasu, Barru. 22 Juni 1943
Profesi : Dai / Tokoh Agama / Pengasuh Pondok Pesantren DDI-AD Mangkoso
Riwayat Pendidikan :
SRN 1955, SMP-DDI 1959, SMA-DDI 1959-1960, SGA-DDI 1960-1961
Ibtidaiyah-DDI 1959, Tsanawiyah-DDI 1963, Aliyah-DDI-1967
Sarjana Muda Fakultas Syariah UI-DDI “Addariyah” Mangkoso 1970
S1 Fakultas Syariah Al-Azhar, Cairo 1982
S2 Fakultas Darul Ulum Universitas Cairo 1986
Prof. Dr. Honoris Cousa Kolej University Insaniah Kedah Malaysia, 2008
Riwayat Pekerjaan:
Guru Bantu DDI Mangkoso 1959-1967
Pimpinan PGA-DDI Mangkoso 1967-1971
Pimpinan Pondok Pesantren DDI Mangkoso 1985-sekarang
Dekan Fak Syariah IAI-DDI “Addariyah” Mangkosos 1985-1994
Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam DDI Mangkoso 1994-sekarang.
Riwayat Organisasi:
Ketua Senat Mahasiswa Faksyar UI-DDI 1967-1970
Dewan Pimpinan Perhimpunan Pelajar Indonesia Mesir 1972-1973
Pengurus badan Solidaritas Pelajar –Pelajar Asia Tenggara Mesir 1973-1974 & 1976-1977
Pendiri Kerukunan Keluarga Besar Sulawes Cairo, Mesir 1977-1984
Ketua Umum MUI Barru 1986-sekarang
Ketua Bidang Dakwah MUI Sulsel
Ketua Umum Badan Amil dan Zakat Barru 2000-sekarang
Ketua Umum DDI-AD 2004-2018






