Munafri menekankan bahwa keberadaan Agen Perisai harus dioptimalkan hingga ke tingkat kelurahan, RT, dan RW.
Makassar — Pemerintah Kota Makassar terus menunjukkan komitmennya dalam mendigitalisasi data perlindungan sosial. Dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu setelah penguatan teknis pendataan, posisi Makassar melesat dari peringkat 38 menjadi peringkat 20 dari 43 kabupaten/kota yang mengikuti piloting nasional program Perlinsos Digital.
Pencapaian ini menjadikan Makassar sebagai salah satu daerah dengan progres tercepat di Indonesia. Bahkan, Makassar berhasil masuk dalam daftar 10 daerah paling aktif dalam pelaksanaan pendataan Perlindungan Sosial Digital, menempati urutan ketujuh sekaligus menjadi satu-satunya wakil dari Sulawesi Selatan .
Kota Makassar resmi ditetapkan sebagai salah satu dari 43 kabupaten/kota di Indonesia yang menjadi wilayah uji coba atau piloting nasional program Perlinsos Digital . Penunjukan ini merupakan bentuk kepercayaan pemerintah pusat terhadap kesiapan Makassar dalam mengimplementasikan sistem perlindungan sosial berbasis digital.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin yang akrab disapa Appi , menegaskan bahwa status ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ia meminta seluruh jajaran pemerintah kota, mulai dari camat, lurah, hingga RT/RW, untuk serius mengawal keberadaan Agen Perlinsos atau Agen Perisai yang bertugas membantu masyarakat melakukan pendaftaran serta memperbarui data pada Portal Perlinsos Digital .
“Ini menjadi contoh di Indonesia, Makassar salah satu masuk di Indonesia yang jalan program, dan gongnya Makassar dipilih kerjakan, ” ujar Appi pada Selasa (1/9/2026) .
Appi: Camat dan Lurah Harus Kawal Agen Perisai
Munafri menekankan bahwa keberadaan Agen Perisai harus dioptimalkan hingga ke tingkat kelurahan, RT, dan RW. Hal ini penting agar masyarakat memperoleh akses yang mudah dalam proses pendaftaran maupun pemutakhiran data perlindungan sosial.
“Maka dari itu, bapak ibu sekalian, camat, lurah, RT/RW harus kontrol aktivitasnya supaya benar-benar berjalan, ” sambung Munafri .
Ia meminta para camat dan lurah memastikan bahwa agen perisai yang telah dibentuk benar-benar aktif membantu masyarakat dan tidak sekadar tercatat secara administratif. Menurutnya, skema agen perisai juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjalankannya, sekaligus menjadi peluang untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan perlindungan sosial.
“Ini paling penting karena sudah mulai turun sampai di tingkat RT dan RW. Tadi saya sampaikan, ini satu-satunya di Indonesia, ” tegasnya .
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Makassar, Andi Bukti Djufrie , mengungkapkan bahwa peningkatan peringkat ini tidak lepas dari kerja keras camat, lurah, hingga jajaran RT/RW yang turun langsung melakukan pendataan di lapangan.
“Per tanggal 1 Agustus, kita berada di posisi 38 dari 43. Setelah kita laksanakan pertemuan teknis bagaimana pendataan ini. Alhamdulillah saat ini, kita sudah bisa naik ke peringkat 20,” kata Andi Bukti .
Hingga saat ini, pendataan telah mencakup sekitar 138.237 kepala keluarga (KK) dengan persentase cakupan mencapai 29,72 persen dari total sasaran sebanyak 465.207 KK .
Capaian per Kecamatan
Berdasarkan progres per kecamatan, capaian pendataan menunjukkan variasi yang cukup beragam:
Capaian per Kecamatan
Berdasarkan progres per kecamatan, capaian pendataan menunjukkan variasi yang cukup beragam:
| Kecamatan | Persentase Capaian |
|---|---|
| Sangkarrang | ± 50% (tertinggi) |
| Ujung Tanah | 40,12% |
| Mariso | 37,40% |
| Bontoala | 31,20% |
| Makassar | ± 31% |
| Tamalate | ± 31% |
| Mamajang | ± 29% |
| Tamalanrea | 29,57% |
| Panakkukang | 27,94% |
| Biringkanaya | 27% |
| Ujung Pandang | 25,78% |
| Rappocini | 23,19% |
| Manggala | 22% |
| Wajo | 21,75% |
Kecamatan Sangkarrang mencatat persentase tertinggi dengan capaian sekitar 50 persen , diikuti oleh Ujung Tanah (40,12%) dan Mariso (37,40%) .
8.732 Agen Terbentuk, 3.467 Aktif Mendata
Dari sisi sumber daya pendataan, Dinsos Makassar mencatat telah memiliki 8.732 agen . Namun, dari jumlah tersebut baru 3.467 agen yang dinyatakan aktif melakukan pendataan.
Andi Bukti menjelaskan bahwa sebagian agen yang belum aktif merupakan unsur RT/RW yang datanya baru dikirim ke tingkat pusat dan belum mendapatkan bimbingan teknis (bimtek) .
“Nanti setelah ini kita akan bimtek sehingga data-data yang belum dilaksanakan di masyarakat, yang belum didata, insyaallah nanti RT/RW akan menyisir semua itu,” katanya .
Meski progres terus meningkat, Dinsos Makassar masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan:
Koordinasi antara RT/RW dengan petugas pendataan (IPSSM)Â yang belum berjalan optimal di sejumlah wilayah, terkadang dipengaruhi oleh hubungan personal di lapangan .
Warga ekonomi menengah ke atas yang enggan mengikuti proses pendataan atau asesmen, karena menganggap pendataan Perlinsos hanya berkaitan dengan penerimaan bantuan sosial (bansos) .
“Masih ada wilayah yang mengalami kondisi di mana RT/RW belum dapat berkoordinasi dengan baik. Ini terkait masalah pribadi,” ungkap Andi Bukti .
Untuk mengatasi hal ini, Dinsos Makassar akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat bahwa pendataan Perlinsos Digital tidak hanya untuk bansos, tetapi juga untuk menyediakan data perlindungan sosial yang lebih akurat dan komprehensif.
Harapan ke Depan: Model Nasional Berbasis Data Akurat
Munafri berharap pelaksanaan piloting Perlinsos Digital di Makassar dapat berjalan optimal dan menjadi model yang menunjukkan kesiapan pemerintah berbasis data yang lebih akurat, mudah diakses, dan tepat sasaran .
“Kita berharap, pelaksanaan piloting Perlinsos Digital di Makassar dapat berjalan optimal dan menjadi model yang menunjukkan kesiapan pemerintah berbasis data yang lebih akurat, mudah diakses, dan tepat sasaran, ” harap Appi .
Dengan penguatan kapasitas agen, peningkatan koordinasi, dan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat, Makassar optimistis dapat mempertahankan bahkan meningkatkan posisinya sebagai salah satu daerah terbaik dalam pendataan Perlinsos Digital di Indonesia. (*)





