
Makassar —Â Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar terus memperkuat komitmennya dalam meringankan beban ekonomi warga sekaligus membenahi tata kelola lingkungan. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin, cakupan penerima manfaat program iuran sampah gratis kini resmi diperluas untuk jangkauan rumah tangga yang lebih luas.
​Khusus di Kecamatan Biringkanaya, tercatat sebanyak 6.103 kepala keluarga (KK) telah menikmati fasilitas pembebasan biaya retribusi sampah sejak program ini bergulir pada 2025. Jumlah tersebut dipastikan bakal melonjak signifikan seiring dengan rencana perluasan program pada periode 2026–2027.
​Wali Kota Makassar yang akrab disapa Appi mengumumkan kabar baik tersebut saat menghadiri Pesta Rakyat Kecamatan Biringkanaya pada Sabtu (5/9/2026) malam.
​”Jika selama ini pembebasan iuran retribusi sampah hanya ditujukan bagi rumah tangga berdaya listrik 450 VA hingga 900 VA, tahun ini insyaallah akan kita naikkan syarat batasnya hingga kategori 1.300 VA,” ungkap Munafri di hadapan ratusan warga yang hadir.
​Potensi Tambahan 3.000 Rumah di Biringkanaya
​Penyesuaian batas daya listrik tersebut menjadikan program unggulan Pemkot Makassar ini makin inklusif. Di Kecamatan Biringkanaya saja, kebijakan perluasan ini berpotensi menambah sasaran baru sekitar 3.000 rumah tangga. Dengan demikian, total akumulasi hunian yang terbebas dari retribusi sampah di wilayah tersebut diperkirakan menembus angka 9.000 rumah.
​Meski demikian, Appi menegaskan bahwa fasilitas gratis ini bukan sekadar bantuan cuma-cuma. Pemkot Makassar menetapkan kriteria edukatif, yakni partisipasi aktif warga dalam memilah sampah langsung dari rumah tangga.
​”Bagi warga yang daya listriknya rentang 450 sampai 1.300 VA, iuran sampahnya akan dibebaskan. Namun ada syaratnya, masyarakat harus mau memilah sampah dari rumah masing-masing. Ini sangat penting untuk memangkas beban sampah kota,” tegas Ketua IKA FH Unhas tersebut.
​Inisiatif memilah sampah mandiri ini sejalan dengan regulasi pemerintah pusat untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis sumber (reduce at source). Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memosisikan diri sebagai penerima manfaat layanan, melainkan turut menjadi bagian dari solusi pengolahan limbah lingkungan.
​Peningkatan Sarana TPS3R dan Modernisasi Bank Sampah
​Mengingat populasi penduduk Biringkanaya yang kini hampir menyentuh angka 300 ribu jiwa, volume sampah harian yang dihasilkan sangat besar. Appi menilai keberadaan tujuh unit tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R) saat ini masih belum seimbang dengan beban limbah yang ada.
​”Semua program pengolahan lingkungan ini kita jalankan secara simultan. Tujuannya agar sirkulasi pengelolaan sampah berjalan optimal dan hasilnya mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi pendapatan keluarga,” pungkas Appi.




