Makassar — Langkah terobosan dalam penataan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang, Kecamatan Manggala, terus dimaksimalkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar. Pembenahan kawasan tidak hanya berfokus pada penataan zona pembuangan sampah residu, tetapi juga menyasar tata kelola hewan ternak sapi yang selama ini dibiarkan berkeliaran bebas di area penumpukan sampah.
Demi menjaga kesehatan hewan dan kebersihan lingkungan, ratusan ekor sapi kini ditempatkan secara terisolasi di area penangkaran khusus (ranch atau kandang komunal) yang disiapkan di kawasan TPA Tamangapa.
Langkah solutif ini diambil untuk menghentikan kebiasaan ternak mengonsumsi sampah anorganik dan limbah B3 campuran yang berbahaya. Sebagai gantinya, Pemkot Makassar menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan mengolah limbah pasar tradisional menjadi pakan ternak bernutrisi tinggi.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Lonjakan Volume Pasokan
Direktur Utama Perumda Pasar Makassar Raya, Ali Gauli Arief, mengungkapkan bahwa pihaknya berkolaborasi ketat dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar serta pihak kecamatan. Sinergi ini bertujuan untuk mengamankan rantai pasok sampah organik yang telah dipilah secara khusus sebelum didistribusikan ke TPA Tamangapa.
”Ada semacam kandang khusus untuk sapi di TPA. Pakannya itu dari pasar,” ujar Ali.
Saat ini, limbah organik segar tersebut disuplai secara rutin dari 14 pasar tradisional yang berada di bawah naungan Perumda Pasar Makassar Raya.
Pengumpulan sampah organik ini mencatatkan peningkatan volume yang sangat signifikan. Jika pada tahap awal pasokan sampah organik hanya berkisar 3 hingga 4 ton per hari, kini dukung penuh dari jajaran pemerintah kecamatan berhasil melonjakkan angka pengumpulan hingga menyentuh 31 ton per hari.
Lonjakan pasokan pakan organik ini terbukti ampuh memenuhi kebutuhan pakan harian seluruh populasi sapi yang berada di penangkaran TPA Tamangapa.
”Jika populasi mencapai ratusan sapi dan satu sapi mengonsumsi hingga 20 kilogram pakan per hari, maka butuh sekitar 30 ton. Alhamdulillah semua kebutuhan pakan sudah ter-cover dan terpenuhi dengan baik,” jelas Ali.
Pengelolaan Sampah Organik Pasar Capai 100 Persen
Ali menegaskan bahwa pakan yang diberikan kepada sapi ternak di TPA Tamangapa murni sampah organik hasil pemilahan dari sumbernya, bukan sampah campuran dari TPA. Pemilahan ketat menjadi syarat mutlak agar limbah tidak kembali menjadi beban ekologis bagi kota.
”Yang paling krusial setelah pemilahan adalah tahap pengolahan. Salah satu yang wajib dikelola dengan benar adalah sampah organik,” tambahnya.
Berkat skema pengalihan ini, efisiensi pengelolaan sampah organik di lingkungan pasar tradisional Makassar berhasil menembus angka 100 persen. Capaian ini melampaui target pencapaian pengelolaan sampah organik yang dipatok oleh Dinas Lingkungan Hidup.
Metode pengolahan limbah organik yang sebelumnya disebar melalui lubang biopori, metode teba, maupun komposter, kini hampir seluruhnya dialihkan secara terpusat menuju fasilitas penangkaran sapi di TPA Tamangapa.
Untuk menjamin kelancaran operasional pengangkutan dari pasar ke lokasi penangkaran, Perumda Pasar Makassar Raya telah menyiagakan armada truk pengangkut mandiri berkat dukungan penuh dari DLH serta Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar.
Mengubah Pola Penanganan Sampah di TPA Tamangapa
Penataan ternak dan pengolahan pakan ini secara bertahap berhasil memisahkan secara tegas antara zona penangkaran peternakan dan zona penimbunan sampah residu TPA. Kehadiran sapi-sapi ternak kini tidak lagi mengganggu lalu lintas alat berat maupun operasional pengolahan sampah harian.
Inovasi penangkaran ini menjadi bagian tak terpisahkan dari komitmen Pemkot Makassar untuk merubah wajah TPA Tamangapa. Konsep lama pembuangan terbuka (open dumping) kini ditransisi menuju sistem pengelolaan berbasis pemilahan, pengolahan bernilai tambah, dan pemanfaatan kembali (reduce, reuse, recycle). (*)

