Daniel Marthin --pbsi--
Di balik permainan agresif Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, ada pembagian peran yang membuat pasangan ini kembali menjadi salah satu kekuatan penting ganda putra Indonesia.
Leo dikenal dengan permainan cepat dan kemampuannya menguasai area depan net. Sementara Daniel menjadi salah satu sumber tekanan utama dari belakang lapangan melalui serangan kerasnya.
Kombinasi tersebut kembali menemukan bentuk terbaiknya pada 2026. Setelah sempat berpisah pasangan, Leo dan Daniel dipertemukan kembali dan langsung menghasilkan sejumlah prestasi penting, termasuk gelar Thailand Open, Taipei Open, serta medali emas Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Daniel Marthin, Anak Jakarta yang Mulai Bermain Sejak Usia 7 Tahun
Daniel Marthin lahir di Jakarta pada 31 Juli 2001. Ia mengenal bulu tangkis sejak usia tujuh tahun.
Kecintaan terhadap olahraga tersebut kemudian membawanya menekuni pembinaan secara serius hingga bergabung dengan PB Djarum.
Dalam profil PBSI untuk Asia Junior Championships 2019, Daniel tercatat sebagai pemain Djarum Kudus dengan tinggi 177 cm dan berat 73 kg pada saat itu. Profil tersebut juga mencatat sejumlah prestasinya di level junior sebelum menjadi bagian dari skuad Indonesia.
Bagi Daniel, sosok ayahnya, Sugiman, menjadi orang yang paling berjasa dalam perjalanan karier bulu tangkisnya.
Sementara sang ibu, Martha Tobing, juga menjadi bagian dari keluarga yang mendukung perjalanan Daniel sejak awal.
Daniel sendiri memiliki dua nama besar yang menjadi idolanya, yakni Hendra Setiawan dan Candra Wijaya, dua pemain yang memiliki sejarah panjang dalam ganda putra Indonesia.
Dari Klub Maxxer hingga PB Djarum
Sebelum bergabung dengan PB Djarum, Daniel mengawali pembinaan di klub Maxxer.
Di PB Djarum, bakatnya berkembang bersama generasi muda lain yang kemudian menjadi bagian penting dari regenerasi bulu tangkis Indonesia.
Nama Daniel mulai menonjol di berbagai turnamen junior. Pada 2018, misalnya, ia sudah menjadi salah satu pemain muda PB Djarum yang mendapat perhatian dalam ajang Superliga Junior. PB Djarum bahkan menyebut Daniel sebagai salah satu junior yang memiliki karakter permainan menarik.
Pada level internasional junior, Daniel mengoleksi sejumlah gelar penting.
Bersama Leo Rolly Carnando, ia meraih gelar juara Asia Junior Championships 2019 dan kemudian menjadi juara dunia junior ganda putra pada tahun yang sama.
Daniel juga menjadi bagian dari tim Indonesia yang merebut Piala Suhandinata 2019. Daftar prestasi PB Djarum mencatat ketiga pencapaian tersebut sebagai bagian penting dari perjalanan juniornya.
The Babies dan Lahirnya Duet dengan Leo
Nama Daniel semakin dikenal ketika dipasangkan dengan Leo Rolly Carnando.
Keduanya memiliki karakter permainan yang saling melengkapi.
Leo lebih banyak bekerja di area depan, sementara Daniel memiliki peran besar dalam membangun tekanan dari belakang.
Kombinasi tersebut kemudian melahirkan julukan “The Babies”.
Pasangan muda ini tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menunjukkan kemampuan di level senior.
Pada 2021, Leo/Daniel menjadi bagian dari tim Indonesia yang menjuarai Thomas Cup. Mereka juga meraih medali emas ganda putra pada SEA Games 2021 yang penyelenggaraannya berlangsung pada 2022. Daftar prestasi resmi PB Djarum mencatat kedua pencapaian tersebut.
Smes Menjadi Senjata Utama
Karakter permainan Daniel paling mudah dikenali dari serangan-serangannya dari garis belakang.
Ketika mendapatkan kesempatan, ia mampu menghasilkan smes keras untuk menekan pertahanan lawan. Namun, kekuatan Daniel bukan semata-mata terletak pada seberapa keras ia memukul shuttlecock.
Dalam permainan ganda, smes harus ditempatkan pada waktu dan arah yang tepat agar pasangan di depan dapat mengambil bola berikutnya.
Di sinilah kombinasi Leo dan Daniel menjadi penting.
Leo menekan dari depan, sementara Daniel menjaga tekanan dari belakang. Ketika lawan mengangkat bola, Daniel memiliki kesempatan untuk menyerang. Jika bola pengembalian menjadi tanggung, Leo dapat mengambil alih di depan net.
Pola tersebut membuat lawan tidak mudah keluar dari tekanan.
Gelar World Tour Bersama Leo
Gelar World Tour pertama Leo/Daniel datang di Singapore Open 2022.
Setelah itu, keduanya mulai mengumpulkan gelar penting dalam kalender BWF World Tour.
Mereka menjadi juara Indonesia Masters 2023 dan Thailand Masters 2023. Pada 2024, Leo/Daniel kembali mempertahankan gelar Indonesia Masters.
Di final Indonesia Masters 2024, mereka mengalahkan pasangan Denmark Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen melalui pertandingan tiga gim, 21-12, 20-22, 21-11. PBSI mencatat kemenangan tersebut sebagai keberhasilan Leo/Daniel mempertahankan gelar di Istora Gelora Bung Karno.
Daftar prestasi PB Djarum juga mencatat gelar Singapore Open 2022, Indonesia Masters 2023 dan 2024, serta Thailand Masters 2023 sebagai bagian dari pencapaian utama Daniel bersama Leo.
Sempat Berpisah, Kemudian Kembali Bersama. Perjalanan Leo/Daniel tidak selalu berjalan lurus.
Keduanya sempat dipisahkan dalam pemetaan pasangan ganda putra Indonesia. Daniel kemudian menjalani periode dengan pasangan lain sebelum akhirnya kembali berduet dengan Leo.
Reuni tersebut memberikan warna baru pada perjalanan karier keduanya.
Pada 2026, Daniel dan Leo kembali tampil bersama di berbagai turnamen. Hasilnya langsung terlihat.
Mereka meraih gelar Thailand Open 2026. Di final, Leo/Daniel mengalahkan unggulan pertama asal India, Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty, dengan skor 21-12, 25-23.
Setelah pertandingan, Daniel menyampaikan rasa syukurnya sekaligus berterima kasih kepada orang-orang yang mendukung perjalanan mereka.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Leo karena bersedia kembali menjadi pasangannya.
Menurut Daniel, komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan mereka di Thailand Open.
Taipei Open dan Kepercayaan Diri yang Tumbuh
Momentum tersebut berlanjut di Taipei Open 2026.
Leo/Daniel kembali menjadi juara BWF World Tour Super 300. PB Djarum mencatat gelar tersebut dalam daftar prestasi Daniel bersama medali emas Asian Games 2026.
Kemenangan-kemenangan tersebut memperlihatkan bahwa reuni Leo/Daniel bukan sekadar kembali memasangkan dua pemain yang sudah lama saling mengenal.
Mereka juga harus membangun kembali pola komunikasi, memahami perkembangan permainan masing-masing, serta menyesuaikan strategi dengan karakter lawan.
Daniel mengakui komunikasi dengan Leo menjadi salah satu aspek penting ketika mereka kembali bermain bersama.
Emas Asian Games 2026
Puncak perjalanan mereka pada 2026 datang di Asian Games Aichi-Nagoya.
Leo/Daniel bukan hanya meraih medali emas pada nomor ganda putra, tetapi juga menjadi bagian dari tim Indonesia yang meraih emas nomor beregu putra.
Pada final nomor perorangan, mereka menghadapi pasangan China Liang Wei Keng/Wang Chang.
Leo/Daniel kehilangan gim pertama 19-21. Namun, mereka bangkit dan merebut dua gim berikutnya 21-13, 21-18 untuk memastikan medali emas.
PB Djarum mencatat keberhasilan tersebut sebagai salah satu pencapaian terbesar Daniel pada 2026.
Bagi Daniel, emas Asian Games bukan hanya soal pencapaian pribadi.
Medali tersebut menjadi hasil dari proses panjang, mulai dari pembinaan junior, perjuangan di pelatnas, pengalaman bersama sejumlah pasangan, hingga akhirnya kembali menemukan chemistry bersama Leo.
Daniel dan Filosofi Permainannya
Daniel adalah tipe pemain yang membuat ganda putra terlihat seperti permainan dua lapis.
Di belakang, ia menjadi sumber serangan. Di depan, Leo berusaha mengunci ruang gerak lawan.
Tetapi pembagian tersebut tidak selalu kaku. Ketika situasi berubah, keduanya harus mampu bertukar peran dan mengambil keputusan dalam hitungan detik.
Karena itu, kemampuan Daniel tidak hanya diukur dari smes keras yang menjadi cirinya. Kecepatan membaca situasi, pengambilan keputusan, komunikasi dengan pasangan, dan kemampuan menjaga tekanan juga menjadi bagian dari permainannya.
Pengalaman bersama Leo sejak level junior memberi keduanya modal penting untuk memahami karakter masing-masing.
Kini, setelah kembali bersatu dan meraih sejumlah gelar pada 2026, Daniel dan Leo kembali menjadi pasangan yang diperhitungkan dalam persaingan ganda putra.
Bagi Daniel, perjalanan tersebut bermula dari seorang anak Jakarta yang mengenal bulu tangkis pada usia tujuh tahun.
Dari klub awal Maxxer, kemudian berkembang bersama PB Djarum, menembus pembinaan nasional, menjadi juara dunia junior, meraih gelar World Tour, hingga berdiri di podium Asian Games.
Di sepanjang perjalanan itu, satu hal tetap menjadi ciri khas Daniel Marthin: ketika kesempatan menyerang datang, smes keras dari raket tangan kanannya siap menjadi senjata untuk membuka jalan menuju kemenangan. (*)






