Ahmad Kalla
Tahu Tony Stark? Figur di balik baju baja Iron Man di film-film Marvel. Tokoh super hero imajinasi yang banyak digemari di seluruh dunia. Tony Stark adalah seorang pengusaha dan sekaligus seorang insinyur penemu. Dia menemukan baju baja Iron Man dan pembangkit listrik mungil Arc Reaktor, sumber tenaga Iron Man.
Serupa dengan Tony Stark. Begitulah kira-kira peranan Ahmad Kalla tanpa sirah baja Iron Man. Seorang pengusaha yang juga sekaligus insinyur. Dialah yang merancang garbarata hingga pembangkit listrik tenaga air yang saat ini dimiliki oleh Perusahaan Kalla Group.
Ahmad Kalla selalu berkeinginan agar produk-produk impor bisa digantikan dengan produk karya anak bangsa. Utamanya yang terkait dengan produksi berteknologi tinggi. Itulah cita-citanya. Ia ingin melihat karya anak bangsa bisa berjaya di negeri sendiri. Tak perlu berharap dari produk karya luar. Apalagi bangsa ini memiliki sumber daya manusia yang tak kalah dengan bangsa luar.
Semangat itulah yang mendorong adik HM Jusuf Kalla ini merintis usaha pertamanya dengan membangun bengkel las dan ketok mobil di Ciulengsi pada 1978. Saat itu dia masih berstatus mahasiswa Fakultas Fisika Teknik Institute Teknologi Bandung (ITB).
Dia merasa gelisah ketika melihat mobil pemadam kebakaran harus diimpor dari luar negeri. Tentu dengan harga yang tak murah. Akhirnya dia pun merancang untuk membangun mobil pemadam kebakaran pertama produksi dalam negeri. Semua bahannya berasal dari dalam negeri.
Hal itu bisa terwujud karena menurutnya mendesain mobil pemadam kebakaran itu tak ubahnya dengan karoseri.
Bahan-bahannya pun tersedia di dalam negeri.
Akhirnya mobil pemadam kebakaran yang dirintisnya itu pun diminati. Produknya mendapat banyak pesanan karena mampu bersaing dengan produk asal mancanegara. Saat memproduksi mobil pemadam kebakaran itulah awal mula dia membangun perusahaan bisnis PT Bukaka.
Tak lama setelah berhasil membangun mobil pemadam kebakaran, dia juga memproduksi garbarata. Jembatan fleksibel yang menghubungkan penumpang yang berada di terminal langsung ke dalam pesawat.
Di Indonesia produsen garbarata atau aviobridge hanya ada satu perusahaan yaitu PT Bukaka Teknik Utama Tbk. Perusahaan inilah yang hasil produksinya diekspor keluar negeri seperti Jepang, Singapura, Bangkok, hingga India.
Garbarata ini pun merupakan temuan yang sangat fungsional. Bahkan saat itu diklaim sebagai sesuatu yang sangat baru, belum ada sejenisnya. Bahkan HM Jusuf Kalla, memuji karya adiknya itu. Karena prosesnya yang tak mudah dan merupakan produk yang belum diketahui cara membuatnya namun bisa diproduksi dan dipasarkan ke seluruh dunia.
“Ini cerita panjang. Bagaimana memulai sesuatu, menjual sesuatu yang kita sendiri tidak tahu. Ini ada cara, menjual sesuatu ini tanpa dia tahu bagaimana cara bikinnya, tapi akhirnya bisa semua,” ujar JK dalam suatu kesempatan.
Ahmad Kalla mengaku, produk garbarata yang diproduksi PT Bukaka Teknik Utama saat ini sebagian besar diekspor ke luar negeri. Selain garbarata, Bukaka juga memproduksi beragam produk yang
banyak dibutuhkan seperti transmisi listrik, tower telekomunikasi, jembatan baja, pembangkit listrik, dan banyak lagi produk teknik lainnya.
Perusahaan yang sebelumnya hanya berupa bengkel ini akhirnya menjelama menjadi sebuah perusahaan raksasa yang memiliki beberapa anak perusahaan yang juga tak kalah skala bisnisnya.
Dalam situsnya Bukaka.com, disebutkan terdapat delapan anak perusahaan yang berada di bawah PT Bukaka Teknik Utama. Perusahaan itu antara lain Bukaka Mandiri Sejahtera, Bukaka Energi, Bukaka Forging Industri, Bukaka Mega Investama, Bukaka Minyu Industry, Baja Titan Utama, Bukaka Three D Private Limited, dan Bukaka teknik Utama Balikpapan.
Salah satu bisnis terbesarnya saat ini yakni Pembangkit Listrik Tenaga Air. Terdapat beberapa lokasi pembangkit besar yang dibangun PT Bukaka, yakni PLTA Poso, PLTA Toraja, dan PLTA Jambi.
Pada 2022 lalu, Presiden Joko Widodo secara langsung meresmikan pengoperasian PLTA di Poso dan di Malea, Toraja. PLTA Poso sendiri memiliki total kapasitas 515 MW dengan rincian PLTA Poso I yang sebelumnya sudah beroperasi memiliki kapasitas 3X65 MW yang telah beroperasi sejak tahun 2012.
PLTA Poso ekstensi tahap 1 berkapasitas 4X30 MW telah beroperasi sejak Februari 2020, dan PLTA Poso ekstensi tahap 2 memiliki kapasitas 4X50 MW. Adapun PLTA Malea berkapasitas 90 MW didirikan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Keduanya menelan investasi hingga Rp17,1 triliun.
Masuknya ke bisnis PLTA karena pemikiran yang sederhana, yakni melimpahnya sumber daya alam yang potensial menjadi pembangkit listrik di Indonesia. Disebutkan terdapat 75.000 MW potensi sumber listrik tenaga air di Indonesia, sementara yang digunakan baru 3.000 MW saja.
Menurut Ahmad Kalla dalam wawancaranya dengan detikfinance.com, pembangunan PLTA ini padat dengan produk dalam negeri yang dihasilkan oleh anak bangsa. Bahkan tak jarang dia sendiri turun langsung terlibat dalam penentuan hal-hal teknis PLTA ini.
Dia mengatakan, dalam pembangunan PLTA, faktor teknik sipilnya yang jauh lebih besar dibanding dengan infrastruktur electrikalnya. Dia menyebutkan, pembangunan infrastruktur jalan, pembukaan lahan dan lain-lain yang bisa mencapai 80% dari proyek itu.
Biodata:
Ir H Ahmad Kalla
Tempat Tangal Lahir : Makassar, 1951
Riwayat Pendidikan : Fisika Teknik ITB (1979)
Sumber : Buku Tokoh Sulsel 2021-2023






