Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini,
Makassar — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp45,5 triliun hingga kuartal III 2026. Capaian per September tersebut tumbuh 20,7% secara tahunan (year on year/YoY), didukung ekspansi kredit, peningkatan transaksi digital, dan perbaikan efisiensi operasional.
Sejalan dengan pertumbuhan laba, penyaluran kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.605,8 triliun per September 2026, meningkat 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini pada saat konferensi pers virtual, Jumat (23/10/2026) mengatakan, pertumbuhan bisnis perseroan ditopang oleh ekspansi pembiayaan yang diiringi upaya menjaga kualitas aset.
“Fundamental Bank Mandiri terus menunjukkan penguatan. Pertumbuhan bisnis yang solid dan kualitas aset yang terjaga. Kredit hingga September tumbuh 16% secara tahunan, mencerminkan komitmen kami dalam meningkatkan aktivitas usaha,” kata Novita.
Menurut dia, pertumbuhan laba tidak hanya menjadi sasaran perusahaan, tetapi juga perlu ditopang kualitas bisnis dan keberlanjutan dalam jangka panjang.
“Pencapaian ini didukung oleh pertumbuhan kredit yang sehat, peningkatan transaksi digital, serta produktivitas yang terus membaik. Bagi kami yang terpenting bukan hanya pertumbuhan laba, tapi juga kualitas dan keberlanjutan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Kredit Korporasi Tumbuh 22 Persen
Strategi pembiayaan Bank Mandiri menjangkau berbagai sektor perekonomian, mulai dari perusahaan besar hingga pelaku usaha dan nasabah individu yang terhubung dalam ekosistem bisnis.
Direktur Operations Bank Mandiri, Timothy Utama, menjelaskan kredit korporasi perseroan mencapai Rp700 triliun per September 2026, tumbuh 22% secara tahunan.
Sementara itu, kredit ekosistem turunan yang mencakup segmen small and medium enterprises (SME), mikro, dan konsumer mencapai Rp174 triliun, meningkat 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kami menghubungkan layanan bagi perusahaan, pelaku UMKM, dan nasabah individu agar kebutuhan transaksi serta pembiayaan mereka dapat terlayani dengan lebih baik. Dengan dukungan operasional yang andal, pendekatan ini membuka akses bagi usaha untuk berkembang dan memperluas kegiatan ekonomi di daerah,” ujar Timothy.
Pada segmen mikro, kredit non-subsidi tercatat sebesar Rp31,2 triliun, tumbuh 12,9% secara tahunan. Pembiayaan tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan memperluas akses pendanaan bagi usaha produktif.
Bank Mandiri juga menyebut penyaluran kredit usaha mikro non-subsidi telah menjangkau 37 provinsi. Ekspansi pembiayaan dilakukan melalui berbagai sektor, termasuk pemerintah dan BUMN, sektor usaha penopang ekonomi, serta pelaku UMKM dan masyarakat.
Dana Pihak Ketiga Tumbuh 17,7 Persen
Dari sisi pendanaan, Bank Mandiri menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.750,2 triliun per September 2026, tumbuh 17,7% secara tahunan.
Adapun total aset perseroan mencapai Rp2.404,1 triliun, meningkat 20,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit dan pendanaan tersebut mencerminkan peningkatan aktivitas intermediasi perbankan perseroan sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Selain ekspansi bisnis, Bank Mandiri juga mencatat perbaikan efisiensi operasional. Rasio cost to income ratio (CIR) secara bank only turun menjadi 36,1% per September 2026, dibandingkan 43% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan rasio tersebut menunjukkan biaya operasional relatif lebih efisien dibandingkan pendapatan operasional perseroan.
Kualitas Kredit dan Permodalan Tetap Dijaga
Di tengah ekspansi pembiayaan, Bank Mandiri menyatakan tetap menjaga kualitas aset dengan menerapkan prinsip kehati-hatian.
Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto secara bank only tercatat sebesar 0,98% per September 2026, membaik dibandingkan 1,03% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, rasio kredit dalam perhatian khusus atau special mention loan (SML) turun menjadi 2,88% dari sebelumnya 3,35%.
Perseroan juga mencatat NPL coverage ratio sebesar 243%, sedangkan cost of credit berada di level 0,55%.
Pada segmen korporasi, NPL tercatat sebesar 0,3%, sementara NPL kredit ekosistem turunan mencapai 0,90% per September 2026, berdasarkan data yang disampaikan dalam paparan kinerja perseroan.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) secara bank only berada di level 18,4%. Posisi tersebut menjadi salah satu penopang bagi perseroan untuk melanjutkan ekspansi bisnis dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
Dengan pertumbuhan laba, kredit, dan pendanaan serta perbaikan sejumlah indikator kualitas aset, Bank Mandiri melanjutkan strategi pengembangan bisnis yang berorientasi pada produktivitas dan keberlanjutan. (*)





1 thought on “Laba Bank Mandiri Tumbuh 20,7%, Kredit Tembus Rp1.605 Triliun”