
MAJENE — Jalan yang terjal, perjalanan panjang, dan sungai dengan arus yang tak menentu menjadi bagian dari keseharian Husniati. Bagi bidan yang mengabdikan diri di pelosok Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, perjalanan menuju warga bukan sekadar urusan mencapai tempat kerja. Ada ibu hamil yang membutuhkan pemeriksaan, bayi yang perlu mendapat perhatian, dan keluarga yang menanti pendampingan kesehatan.
Untuk mencapai Dusun Coci, Husniati harus mengendarai sepeda motor selama sekitar dua jam. Perjalanan itu belum berakhir. Ia masih harus menyeberangi sungai, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki selama kurang lebih satu jam.
Medan yang sulit tak membuatnya mengurungkan langkah. Bagi Husniati, kehadiran tenaga kesehatan di tengah masyarakat menjadi penting, terutama ketika akses menuju fasilitas kesehatan belum mudah dijangkau.
Selama sekitar enam tahun menjalani profesi sebagai bidan, ia memilih mengabdikan diri di tanah kelahirannya. Ia melayani warga di sejumlah dusun, antara lain Belalang, Belia, Ratte, Adolang, dan Coci.
Tugasnya bukan hanya memeriksa kondisi kesehatan warga. Husniati juga mendatangi masyarakat untuk memberikan edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak, termasuk pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Di wilayah dengan keterbatasan akses, pelayanan kesehatan kerap menuntut lebih dari sekadar keterampilan medis. Kesabaran, kemampuan membangun kepercayaan, dan kesediaan mendampingi warga dalam situasi sulit menjadi bagian dari pengabdian sehari-hari.
Perjuangan di tengah malam
Salah satu pengalaman yang membekas bagi Husniati terjadi pada Jumat dini hari, 9 Oktober 2026.
Saat itu, ia menerima panggilan untuk membantu seorang ibu yang hendak melahirkan di Dusun Ratte. Bersama bidan lainnya, Masrianti, Husniati menyarankan agar pasien segera dirujuk ke Puskesmas Pamboang untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.

Namun, keluarga pasien sempat ragu mengambil keputusan untuk melakukan rujukan.
Husniati tidak langsung menyerah. Ia menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menjelaskan pentingnya membawa ibu tersebut ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan yang diperlukan.
Setelah keluarga akhirnya bersedia, tantangan berikutnya muncul. Ambulans tidak dapat menjangkau rumah pasien. Ibu tersebut harus diusung menggunakan tandu selama sekitar satu jam menuju jalan yang bisa dilalui kendaraan.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan ambulans menuju Puskesmas Pamboang.
Sekitar pukul 03.00 WITA, saat masih berada di dalam ambulans, ibu tersebut melahirkan seorang bayi laki-laki dengan berat 3.100 gram.
Pengalaman itu memperlihatkan betapa rumitnya perjalanan memperoleh layanan kesehatan di wilayah dengan akses terbatas. Jarak, kondisi medan, keterbatasan transportasi, hingga keraguan keluarga dapat menjadi tantangan yang harus dihadapi sebelum pasien tiba di fasilitas kesehatan.
Bagi tenaga kesehatan seperti Husniati, mendampingi warga berarti hadir bukan hanya ketika pemeriksaan berlangsung, tetapi juga saat keputusan penting harus diambil di tengah keadaan yang tidak mudah.
Mengabdi di tanah kelahiran
Pilihan Husniati menjadi bidan berangkat dari perjalanan hidup yang sederhana. Ia berasal dari Banua Adolang dan tumbuh bersama enam saudara lainnya. Di antara saudara-saudaranya, ia menjadi satu-satunya yang memilih profesi sebagai bidan.
Di tengah kesibukan melayani masyarakat, Husniati juga berupaya membantu pendidikan dua adiknya. Pada saat bersamaan, ia menjalani perannya sebagai istri dan ibu dari dua anak.
Berbagai tanggung jawab itu berjalan beriringan dengan pengabdiannya kepada masyarakat. Ia tetap berusaha memberikan pelayanan kepada warga yang membutuhkan, meskipun keterbatasan sarana dan sulitnya akses menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi.
Sebelum bergabung dengan Program Bidan Cahaya pada Februari 2024, Husniati mengandalkan kontribusi sukarela dari pasien untuk menunjang pelayanannya. Keterbatasan peralatan juga menjadi salah satu persoalan dalam menjalankan tugas.
Dukungan melalui Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN menjadi salah satu penguat bagi Husniati untuk terus melayani masyarakat di wilayah tempat ia mengabdikan diri.
Dukungan untuk bidan di pelosok
Kisah Husniati menjadi bagian dari upaya PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) dalam mendukung kesejahteraan masyarakat di wilayah kerjanya.
Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, dukungan diberikan kepada bidan yang mengabdikan diri di wilayah dengan keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Program tersebut diharapkan membantu para bidan menjalankan tugas sekaligus mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Didik Wicaksono, mengatakan dedikasi tenaga kesehatan di wilayah terpencil perlu mendapat dukungan agar masyarakat memiliki kesempatan lebih baik untuk memperoleh pelayanan kesehatan.
“Dedikasi para bidan yang tetap hadir di tengah keterbatasan menjadi pengingat bahwa kepedulian harus menjangkau semua lapisan masyarakat. Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, kami berharap dukungan ini dapat membantu para bidan menjalankan pengabdian sekaligus mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Didik.
Bagi Husniati, dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk terus mendampingi warga, terutama ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
Ia berharap masyarakat di pelosok semakin mudah memperoleh layanan kesehatan tanpa harus menghadapi hambatan perjalanan yang berat.
“Saya berharap masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak. Semoga saya bisa terus mendampingi warga dan memberikan pelayanan terbaik, meskipun banyak keterbatasan yang harus dihadapi,” ujar Husniati.
Ketika kepedulian menempuh perjalanan panjang
Perjalanan menuju Dusun Coci mungkin tidak selalu mudah. Ada jalan yang terjal, sungai yang harus diseberangi, dan jarak yang memerlukan waktu berjam-jam untuk ditempuh.
Namun, bagi Husniati, setiap perjalanan itu mempertemukannya dengan masyarakat yang membutuhkan pendampingan. Di balik keterbatasan akses, ada kebutuhan kesehatan yang tetap harus diperhatikan.
Kisah pengabdiannya juga mengingatkan bahwa mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Kehadiran bidan di lapangan penting, tetapi akses transportasi, sarana pelayanan, dan dukungan bagi tenaga kesehatan juga menjadi bagian dari tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Melalui Program Bidan Cahaya, PLN UID Sulselrabar berharap dapat terus mendukung upaya pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah kerjanya.
Sementara itu, Husniati tetap menjalani pengabdiannya di tanah kelahiran. Bukan karena jalan yang ditempuh selalu mudah, melainkan karena di ujung perjalanan itu ada warga yang membutuhkan pertolongan.
Kadang, pengabdian memang tidak dimulai dari tempat yang mudah dijangkau. Ia justru terlihat ketika seseorang bersedia menempuh perjalanan panjang agar orang lain tetap memiliki kesempatan memperoleh pelayanan kesehatan.






