JAKARTA – Primaya Hospital Group berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta menggelar program bakti sosial operasi katarak bertajuk Gerakan Jakarta Bebas Katarak, Bersama Kita Bisa.
Program yang digelar dalam rangka memperingati World Sight Day 2026 tersebut bertujuan mempercepat akses penanganan bagi masyarakat yang membutuhkan operasi katarak, termasuk pasien yang harus menunggu antrean selama satu hingga dua bulan.
Pada tahap awal, sebanyak 97 pasien menjalani operasi katarak di RSUD Pasar Minggu. Para pasien tersebut merupakan hasil skrining dari sejumlah RSUD dan Primaya Hospital di Jakarta.
Pelaksanaan program ini melibatkan 40 puskesmas untuk skrining awal serta sekitar 19 dokter spesialis mata dari PERDAMI.
CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, CFA, FRM, mengatakan program tersebut menjadi bentuk kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan organisasi profesi dalam menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat.
“Gerakan Jakarta Bebas Katarak, Bersama Kita Bisa merupakan wujud kolaborasi public-private partnership dalam menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat. Hal ini sejalan dengan komitmen Primaya Hospital untuk turut berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan masyarakat (public health) di Indonesia,” ujar Leona.
Ia berharap inisiatif tersebut dapat menjadi contoh sinergi berbagai pihak dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya melalui percepatan penanganan katarak.
3.700 Penderita Katarak Teridentifikasi di Jakarta
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, sekitar 3.700 penderita katarak telah teridentifikasi saat ini.
Sementara itu, pada 2025 terdapat sekitar 11.000 kasus yang menjadi target penanganan, termasuk penderita dari kelompok usia produktif.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, MM, mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam program tersebut.
Menurut Ani, percepatan penanganan katarak diperlukan agar semakin banyak masyarakat memperoleh tindakan medis sesuai kebutuhan.
“Program ini menjadi istimewa karena melibatkan berbagai unsur, mulai dari Primaya Hospital, PERDAMI, hingga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kami ingin memastikan semakin banyak penderita katarak dapat segera memperoleh penanganan,” jelas Ani.
Ia juga menekankan pentingnya penanganan bagi masyarakat usia produktif agar mereka dapat kembali bekerja dan beraktivitas dengan lebih baik.
Operasi Katarak Tetap Utamakan Keselamatan Pasien
Ketua PERDAMI, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menegaskan bahwa kegiatan bakti sosial operasi katarak tetap harus mengutamakan standar pelayanan medis dan keselamatan pasien.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah kriteria yang harus dipenuhi calon pasien, antara lain berusia sekitar 20 hingga 75 tahun, memiliki kondisi fisik yang fit, serta mampu bekerja sama selama tindakan medis.
Hal tersebut diperlukan karena operasi dilakukan menggunakan bius lokal atau topikal sehingga komunikasi dan kerja sama antara pasien dan dokter menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tindakan.
Primaya Buka Kolaborasi dengan Rumah Sakit Swasta
Primaya Hospital Group berencana mendorong keberlanjutan Gerakan Jakarta Bebas Katarak dengan membuka kesempatan kolaborasi bagi lebih banyak rumah sakit swasta dan asosiasi rumah sakit swasta di Indonesia.
Leona mengatakan perluasan kerja sama diharapkan dapat meningkatkan jangkauan program sehingga semakin banyak masyarakat memperoleh manfaat.
“Kami terbuka untuk memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak swasta, termasuk rumah sakit swasta dan asosiasi rumah sakit di Indonesia, agar gerakan ini dapat menjangkau lebih banyak masyarakat,” tutup Leona. (*)


Komentar