MAKASSAR – Ketua TP-PKK Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, mengajak keluarga membiasakan pola konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) dengan memanfaatkan potensi pangan lokal yang tersedia di sekitar masyarakat.
Menurut Melinda, pembentukan kebiasaan makan sehat perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam mengenalkan makanan bergizi sekaligus menjadi contoh bagi anak-anak dalam memilih asupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Melinda saat menghadiri kegiatan bimbingan teknis pemberdayaan masyarakat dalam penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal yang digelar Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar di Ruang Sipakatau, Balai Kota Makassar, Senin (2/11/2026).
Melinda menilai, penerapan B2SA di Makassar perlu didukung pemanfaatan sumber daya pangan lokal. Meski sebagai kota metropolitan Makassar menghadapi keterbatasan lahan dan masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah, kota ini memiliki potensi hasil perikanan, sayuran, dan buah-buahan.
“Sebagai kota pesisir, kita memiliki kekayaan hasil perikanan seperti ikan, udang, dan berbagai hasil laut lainnya yang merupakan sumber protein hewani,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pengembangan urban farming yang terus didorong Pemerintah Kota Makassar. Pemanfaatan pekarangan rumah dan lahan terbatas di lingkungan permukiman dinilai dapat membantu masyarakat memperoleh bahan pangan, khususnya sayuran.
Melinda mengajak para penggerak PKK di tingkat kelurahan untuk mengenali dan memanfaatkan potensi pangan di lingkungan masing-masing sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan pangan keluarga.
Kebiasaan Makan Sehat Dimulai dari Rumah
Melinda menekankan bahwa orang tua, khususnya dalam lingkungan keluarga, memiliki peran besar membentuk kebiasaan konsumsi anak sejak dini.
Ia membagikan pengalamannya dalam mengenalkan makanan sehat kepada anak-anak, termasuk membiasakan konsumsi makanan rumahan dan memperhatikan kandungan produk pangan.
Menurutnya, kebiasaan tersebut tidak harus dibangun melalui menu yang rumit. Berbagai makanan khas Indonesia, seperti ikan bakar dan sayur-sayuran, dapat menjadi pilihan menu keluarga yang bergizi.
Melinda juga mengingatkan pentingnya mengenalkan beragam sumber karbohidrat selain nasi. Makassar dan Sulawesi Selatan memiliki pilihan pangan lokal seperti ubi, sagu, dan singkong yang dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari penganekaragaman konsumsi pangan.
“Karbohidrat orang Indonesia ini terlalu di-brainwash selama ini, seolah-olah hanya nasi. Padahal banyak sekali sumbernya, ada singkong, ubi, sagu,” kata Melinda.
Ia berharap para ketua TP-PKK kelurahan dapat meneruskan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan tersebut kepada masyarakat.
Melinda mengaitkan pola konsumsi sehat dengan upaya menyiapkan generasi yang sehat dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, kesehatan menjadi salah satu fondasi penting agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Diikuti 193 Peserta
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar, Nirman Niswan Mungkasa, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.
Ia menyebut, penerapan pola konsumsi B2SA perlu dimulai dari keluarga karena kebiasaan makan masyarakat sangat dipengaruhi lingkungan rumah tangga.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan potensi sumber daya lokal, memenuhi kebutuhan gizi keluarga melalui konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman, serta mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah berbasis sumber daya serta kearifan lokal.
Bimbingan teknis yang berlangsung pada Senin (2/11/2026) tersebut diikuti 193 peserta yang merupakan ketua tim penggerak PKK kelurahan se-Kota Makassar.
Dua narasumber yang dihadirkan yakni Dr. A. Erika Novianto dan Andriani Adam. Materi kegiatan juga diarahkan pada penguatan pemahaman mengenai B2SA dan pengembangan menu pangan lokal yang inovatif.
Melalui kegiatan ini, Dinas Ketahanan Pangan berharap pengetahuan mengenai pola konsumsi B2SA dapat diterapkan di tingkat keluarga dan disebarluaskan oleh kader PKK kepada masyarakat. (*)


Komentar