
Amirullah Abbas tak menyangka dirinya akan menjadi seorang pengusaha tambang yang
bergelimang harta.
Jangankan membayangkan, bercita-cita menjadi orang kaya pun tak sempat terlintas di benaknya
saat dia masih kecil.
Amir begitu sapaannya, saat kecil hidup dalam kondisi berkekurangan. Orang tuanya adalah petani
yang menghidupi keluarganya dari hasil panen padi dan sayur di Kabupaten Gowa.
Sebagai anak yang berbakti, Amir kecil harus membantu ayah dan ibunya di sawah. Tak hanya itu,
dia juga terkadang menjadi tenaga marketing hasil kebunnya.
Saat masih di bangku SD, Amir terkadang harus mengayuh sepedanya berkilo-kilo meter jauhnya
untuk menjual hasil kebunnya. Dia ingat sayuran yang sering diboncengnya ke pasar adalah Terong
yang dijualnya ke Pasar Pannampu.
Saat subuh, Amir kecil sudah memacu sepedanya menuju ke Pasar Pannampu. Terkadang dia harus
terjatuh dari sepeda ketika melewati jalan yang menanjak dan terjal. Tubuhnya yang kecil tak
mampu menyeimbangkan bawaannya yang cukup banyak di jalan menanjak.
Dia masih ingat seluruh Terong yang jumlahnya mencapai seratusan biji itu hanya dihargai Rp9.500.
Harganya sangat murah bahkan jauh di bawah harga pasar saat itu.
Setelah dagangannya laku, dia pun harus kembali pulang ke rumah secepatnya sebelum bel sekolah
berbunyi.
Begitulah rutinitas Amir saat masih kecil. Penuh dengan perjuangan. Dia tak sempat menikmati masa
kecilnya dengan menonton film kartun sebagaimana anak-anak seusianya. Apalagi di rumahnya
memang tak ada TV saat itu.
Menjalani kehidupan yang penuh perjuangan itu, sempat membuat dirinya protes mengapa dia
terlahir di keluarga petani. Mengapa bukan lahir sebagai anak bupati, gubernur atau pejabat. Dia
pun dendam dengan kemiskinan. Dia harus melawannya dengan bekerja keras agar tak lagi miskin.
“Saya pernah protes seperti itu. Tapi ternyata kehidupan yang penuh perjuangan itu mendidik saya
untuk bekerja keras sehingga saya bisa seperti sekarang ini,” ujarnya.
Belakangan dia malah menyukurinya sebagai anugerah. Karena dari situ dia bisa belajar untuk
berusaha dan bekerja keras untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera.
Saat kecil dulu, dia bercita-cita menjadi seorang polisi. Dia pun mendaftar seleksi penerimaan polisi.
Tiga kali dia coba untuk mendaftar. Tiga kali pula dia gagal masuk.
Karena tidak lulus, akhirnya dia memilih untuk kuliah saja. Dia kemudian mendaftar di Sekolah Tinggi
Ilmu ekonomi (STIE) Makassar.
Setelah itu dia lalu bekerja di salah satu perusahaan kayu pada 1996. Dia bekerja sebagai karyawan
biasa di perusahaan itu. Dia juga pernah bekerja di perusahaan perikanan. Setidaknya dia
menghabiskan waktu sekitar delapan tahun bekerja di perusahaan orang sebelum akhirnya dia
berhenti dan memilih membangun perusahaan sendiri.
Pada tahun 2003, Dia mencoba untuk mendirikan usaha sendiri. Berbekal dari pengalamannya di
perusahaan kayu tadi, dia pun membangun usaha di bidang yang sama. Dengan modal dari
tabungannya yang masih minim, dia perlahan menjalankan usahanya itu.
Tak lama setelah itu dia akhirnya bertemu dengan mitra bisnisnya dan mencoba peruntungan baru
di sektor baru, yaitu pertambangan.
Amir belajar secara autodidak untuk memulai bisnis di pertambangan. Dengan bekal semangat dan
kerja keras dia pun perlahan mempelajari lika liku bisnis pertambangan. Sehingga dia tahu persis
bagaimana proses bisnis pertambangan secara detil mulai dari urusan izin hingga penjualan hasil
tambang.
Saat itu untungnya dia bertemu dengan mitra bisnis yang baik hati. Mitranya itu membelikannya
kendaraan berat untuk digunakan menambang nikel, dengan catatan barter dengan kayu.
Dari satu alat berat terus berkembang hingga mampu mempekerjakan ratusan orang. Namun bisnis
tambang yang dikelolanya itu berjalan mulus. Pada 2008 perusahaan tambangnya kolaps akibat
harga jual Nikel anjlok sehingga perusahaannya terseok-seok dan akhirnya tutup.
Namun Amir tak putus asa. Lima hari setelah tambang nikelnya tutup, dia mendapatkan lahan
tambang batu bara di Kalimantan. Otomatis seluruh sumber daya berupa alat berat dan tenaga
kerjanya dia alihkan ke tambang batu bara di Kalimantan.
Tambang batu bara ini terus berkembang hingga perusahaannya pun semakin maju.
Tak lama setelah itu, bisnis Nikel kembali cerah. Dia pun kembali mencoba menghidupkan izin usaha
tambang nikelnya yang sempat mati. Namun tak mudah untuk mengurus izin. Dia harus bolak-balik
Jakarta untuk bisa menghidupkan izinnya itu.
Namun upayanya itu membuahkan hasil, izin berhasil keluar dan dia pun kembali menggarap
tambang Nikel hingga 2014. Pada tahun itu perusahaannya tak bisa menjual hasil tambang ke uar
negeri.
Pemerintah melarang ekspor bijih Nikel mentah. Harus diolah dulu sebelum di ekspor. Tujuannya
untuk hilirisasi industri pertambangan.
Akibat kebijakan pemerintah itu, badai kembali menerpa perusahaannya. Karena tak bisa menjual
hasil tambangnya, secara otomatis perusahaannya tak memiliki pendapatan. Sementara kewajiban
untuk membayar pinjaman bank terus berjalan.
Hingga akhirnya pihak perbankan menggugatnya pailit karena tak membayar pinjaman untuk
pembelian alat berat itu. “Bukan saya tidak mau bayar. Sebagai pebisnis kita harus komitmen, tetapi
saat itu memang kondisinya tak memungkinkan. Saya sudah menyampaikan ke pihak bank bahwa
kami tak berproduksi. Solusinya kami tawarkan agar alat berat itu dijual dan hasilnya untuk
membayar pinjaman, lalu sisanya akan kami lunasi,” ujarnya.
Namun nampaknya pihak perbankan punya pertimbangan lain dengan menggugat pailit Amirullah
Abbas. Untungnya, dia punya banyak teman yang rela membantunya dan berhasil melunasi
pinjamannya di bank tersebut. Dari situ dia pundak pernah lagi memiliki pinjaman di perbankan.
Perjalanan suksesnya mengelola perusahaan itu pun coba ditularkan kepada orang banyak melalui
organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Dia bahkan sempat menjadi Ketua Hipmi
Sulsel lalu menjadi Ketua Kadin Makassar, lalu saat ini dipercaya menjadi Koordinator Kadin
Sumatera di mana terdapat sepuluh provinsi di bawahnya.
Biodata
Amirullah Abbas SE
Tempat / Tanggal Lahir : Gowa 21 Januari 1975
Profesi : Pengusaha
Riwayat Pendidikan :
SD Inpres Tangalla
SMP Negeri Pallangga
MAN I Ujungpandang
STIE Makassar
Riwayat Pekerjaan:
Owner PT Andatu Lestary
Riwayat Organisasi :
Ketua Hipmi Sulsel
Ketua Kadin Makassar
Koordinator Kadin Sumatera
Sumber : Buku Tokoh Sulsel 2021-2023






