
MAKASSAR — Kota Makassar sukses membuktikan diri sebagai tuan rumah yang tangguh bagi penyelenggaraan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 dan HUT Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ke-46 yang berlangsung pada 8–12 Juli 2026. Event skala nasional ini sukses memicu perputaran ekonomi fantastis yang diperkirakan menembus angka lebih dari Rp100 miliar.
Selama pelaksanaan event, kota berjuluk Kota Daeng ini dibanjiri oleh sekitar 180.000 pengunjung, dengan lonjakan hingga 80.000 orang pada hari puncak.
Transaksi Tembus Miliaran Rupiah dan Okupansi Hotel Meroket
Dampak ekonomi langsung dirasakan oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berdasarkan laporan Ketua Panitia Harian HUT Dekranas ke-46, Sukarniaty Kondolele, total transaksi keseluruhan dari 203 stan pameran diperkirakan mencapai Rp5 miliar hingga penutupan.
Menariknya, stan asal Sulawesi Selatan tampil perkasa dengan mencatatkan transaksi senilai Rp1.012.340.400, atau menyumbang sekitar 24,3 persen dari total transaksi nasional. Selain itu, pameran HKG PKK ke-54 juga meraup omzet tersendiri sebesar Rp551.754.000.
Sektor akomodasi pun panen berkah. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel, Anggiat Sinaga, mengungkapkan bahwa okupansi hotel di Makassar melonjak tajam.
“Hampir semua hotel di Makassar merasakan manfaatnya. Okupansi diperkirakan menembus 85 hingga 90 persen,” ujar Anggiat, yang menyebutkan angka ini naik dua kali lipat dari rata-rata hunian normal yang biasanya hanya berkisar 40–45 persen.
Wastra Makassar Naik Kelas dan Lahirnya Ekosistem Penenun Baru
Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Kota Makassar, Melinda Aksa, menegaskan dukungan penuh jajarannya demi kesuksesan agenda yang berpusat di Trans Studio Mall (TSM) dan Lapangan Hasanuddin tersebut. Melalui Festival Kuliner “Satu Kota 1000 Rasa”, Dekranasda Makassar sukses memfasilitasi 115 UMKM makanan dan minuman lokal.
Namun bagi Melinda, pekerjaan rumah yang sesungguhnya baru dimulai setelah perhelatan ini usai. Fokus utama Dekranasda Makassar kini adalah keberlanjutan pembinaan pasca-event, salah satunya dengan membangun ekosistem kain tenun khas Makassar yang selama ini masih minim produsen lokal dibanding daerah Wajo atau Bulukumba.
“Kami sedang mencari sekitar 20 orang yang memiliki pengalaman menenun untuk mengikuti pelatihan selama satu tahun. Program ini akan kami laksanakan bekerja sama dengan Cita Tenun Indonesia (CTI),” beber Melinda Aksa.
Program strategis yang dijadwalkan mulai berjalan pada Agustus hingga September 2026 ini ditargetkan mampu melahirkan generasi penenun profesional baru. Inovasi ini diharapkan memperkuat identitas wastra (kain tradisional) bermotif khas Makassar sekaligus mendorong produk lokal untuk mampu bersaing di pasar nasional hingga global. (*)




