
Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa adalah maestro intelektual abad ke-19. Tanpa ketelitian jemarinya, mahakarya sastra terpanjang di dunia—I La Galigo—mungkin hilang ditelan masa.
Nama Colliq Pujie merupakan simbol kepahlawanan dan keberanian intelektual perempuan Nusantara.
Di masa ketika akses pendidikan bagi perempuan sangat terbatas dan tekanan kolonial Belanda mencengkeram erat Sulawesi Selatan, Colliq Pujie tampil memelopori penyelamatan identitas budaya Bugis.
Berikut adalah rekam jejak, peran historis, dan alasan mengapa pahlawan literasi dari Tanah Bugis ini patut mendapat tempat teratas dalam sejarah kepahlawanan nasional.
Penyelamat Sastra Terpanjang di Dunia
Peran paling fenomenal dari Colliq Pujie adalah ketika ia bekerja sama dengan ilmuwan linguistik asal Belanda, B.F. Matthes, pada pertengahan abad ke-19.
Colliq Pujie bertindak sebagai juru tulis, penyunting, sekaligus penerjemah teks-teks kuno Bugis (Lontara).
Selama kurun waktu beberapa tahun, ia berhasil menyalin 12 jilid naskah I La Galigo dengan total hampir 2.800 halaman folio.
Naskah inilah yang kini tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dan diakui UNESCO sebagai Memory of the World.
I La Galigo memiliki sekitar 300.000 bait—jauh lebih panjang dibanding epik Mahabharata dari India maupun *Iliad* karya Homer.
Colliq Pujie menguasai bahasa Bugis kuno (Torilangi) yang bahkan pada zamannya sudah sulit dipahami masyarakat awam.
Perempuan Tangguh di Tengah Politik Kolonial
Lahir sebagai putri Raja Tanete pada awal dekade 1800-an, kehidupan Colliq Pujie tidak lepas dari konflik politik.
Ketika Kerajaan Tanete bersitegang dengan pemerintah kolonial Belanda, ia sempat diasingkan ke Makassar.
Namun, alih-alih patah semangat, pengasingan itu justru diubahnya menjadi ruang produktif untuk menulis, menyalin naskah, dan mengajar.
Pencipta Kode Aksara “Bilang-bilang”
Kegeniusan Colliq Pujie tidak berhenti pada penterjemahan. Ia juga dikenal merancang variasi aksara Bugis rahasia yang disebut Aksara Bilang-bilang.
Aksara ini diciptakan sebagai kode komunikasi rahasia antar-pejuang dan bangsawan Bugis untuk mengelabui mata-mata kolonial Belanda.
Inovasi ini membuktikan bahwa Colliq Pujie bukan sekadar budayawan di balik meja, melainkan strategis politik yang memanfaatkan literasi sebagai perlawanan non-fisik. (*)
Kisah inspiratif tokoh-tokoh Sulsel selalu menarik untuk dibaca. Ikuti kisahnya Daftar Tokoh Sulsel yang Mengubah Indonesia





