
Kunci kesuksesan pendiri Bosowa Group, Aksa Mahmud terletak pada kejujuran, kerja keras, keinginan belajar, dan pandangan jauh ke depan.
Dia juga berani mengambil risiko, namun selalu melakukan pemetaan langkah secara matang. Semangat Aksa, pantang menyerah. Apabila mengejar sesuatu, ia berusaha mewujudkannya.
Pria kelahiran Barru, 16 Juli 1945 ini mengawali kerajaan bisnisnya dengan keluar dari zona nyaman. Aksa adalah ipar Jusuf Kalla atau menantu Haji Kalla setelah mempersunting Ramlah Kalla. Namun, zona nyaman dalam lingkungan keluarga Kalla ini justru ditinggalkan Aksa.
Dia hanya bergabung dengan NV Hadji Kalla selama tiga tahun, kemudian membuka jalur bisnis sendiri atas pertimbangan ingin mengendalikan secara utuh usahanya. Dia lantas menyampaikan kepada istrinya agar bersiap-siap menderita. Ia tidak mungkin bekerja di perusahaan mertua, selamanya.
Aksa bercita-cita, sekecil apa pun, ingin menjadi orang nomor satu. Ia berprinsip, lebih baik menjadi orang nomor satu di perusahaan kecil dari pada nomor dua di perusahaan besar.
Maka pada 1973, Aksa mendirikan CV Moneter. Proyek pertamanya menjadi agen Datsun di Indonesia Timur. Ia meminjam uang dari BNI sebesar Rp5 juta. Aksa pun membuka show room mobil Datsun di Makassar. Ketika acara pembukaan, bapak dan ibu mertuanya hadir. Bukti kepergiannya dari perusahan mertuanya itu direstui.
Kemudian pada 1980, seperti yang terdapat dalam laman tokohindonesia, Aksa mendapat tawaran Mitsubishi untuk menjadi agen penyalur di Indonesia Timur. Dari sinilah ia mengubah nama perusahaannya menjadi Bosowa. Sebab, awalnya Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) sebagai distributor Mitsubishi di Indonesia memberikan isyarat, kalau ingin menjadi agen Mistubishi harus ada nama Tiga Berlian-nya.
Dia menyampaikan tiga berlian di Sulawesi Selatan itu adalah tiga kerajaan, yaitu Bone, Sopeng dan Wajo, disingkat Bosowa. Jadi tiga kerajaan Bugis itu disebut berlian karena tidak pernah perang. Bone unggul memerintah, Soppeng terkenal sebagai produsen, Wajo latar belakangnya adalah pengusaha.
Keinginannya itu disetujui. Aksa pun mendirikan PT Bosowa Berlian Motor. Bisnis agen Mitsubishi ini berkembang dan Bosowa menjadi agen penyalur di 13 provinsi bagian timur Indonesia. Aksa betul-betul menerima kepercayaan dari pihak Jepang.
Dari titik ini kekayaan Aksa bertambah. Hingga sekarang, penghasilan dari industri otomotif menyumbang 35% pemasukan bagi Bosowa Corporation. Kini, PT Bosowa Motor tak hanya menjadi agen Mitsubishi, tapi juga menjadi agen distribusi mobil Mercedez Bens untuk Indonesia Timur.
Pada 1995, Bosowa membangun pabrik semen di Bantimurung, Maros, pinggiran Makassar. Perusahaan itu bernama PT Semen Bosowa Maros dengan kapasitas produksi 1,8 juta ton per tahun. Namun, pendirian pabrik itu sempat terkendala oleh krisis ekonomi 1998. Akhirnya proyek itu berjalan setelah melewati tahun krisis itu dengan nilai aset sebesar Rp3 triliun. Ada 80 persen produksi diperuntukkan bagi pasar dalam negeri, sementara 20 persen sisanya diekspor ke Filipina dan Afrika.
Deretan kesuksesan yang dicatat aksa dari upaya keluar dari zona nyaman ini pun berujung pada predikat salah satu orang terkaya di Indonesia. Majalah Forbes pada September 2006 bahkan pernah merilis, Aksa Mahmud berada pada peringkat ke-28 dari 40 orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan $195 juta.
Aksa Mahmud meraih semua itu bukan karena faktor kebetulan. Tentu diiringi doa, kerja keras, semangat pantang menyerah, berani mengambil risiko dan berdiri di atas pondasi kejujuran. Namun, tidak sampai di situ, aktivis mahasiswa 1966 ini juga sadar betul bahwa matahari pasti akan tenggelam. Matahari tidak akan bersinar sehari penuh. Dalam pengertian, setiap orang akan berakhir masanya dan mau tidak mau akan digantikan dengan generasi selanjutnya.
Terjun ke Politik
Masuk pada dunia politik, aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) 1962 ini tidak memiliki ambisi tertentu. Dunia politik, tidak lebih berdasarkan nalurinya yang sejak dulu aktif berorganisasi dan senang masuk dalam sistem untuk menyampaikan dan sekaligus menjadi penentu dalam eksekusi kebijakan. Aksa Mahmud mulai bergabung dalam bidang politik sejak menjadi anggota MPR RI Fraksi Utusan Daerah pada medio 1999-2004. Kemudian berlanjut menjadi Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mewakili Sulawesi Selatan periode 2004-2009.
Aksa sebetulnya punya peluang untuk duduk di kursi puncak pemerintah daerah. Namun setiap kali ditanya tentang keinginannya mengambil posisi politis, ia selalu mengatakan agar diberikan saja kepada yang lain asalkan memiliki kualifikasi dan kompetensi. Dengan meraih suara terbanyak saat maju sebagai anggota DPD RI, pada dasarnya merupakan modal politik untuk bersaing memperebutkan posisi penting, seperti bertarung dalam perebutan kursi Gubernur Sulawesi Selatan. Namun, Aksa menolak permintaan pendukungnya yang sebagian besar mendorong agar maju memimpin Sulsel.
Selanjutnya, secara finansial dan jaringan usaha yang sudah tersebar secara nasional, Aksa Mahmud tentu memiliki basis yang kuat untuk berkiprah dalam partai politik. Aksa dikenal dekat dengan para politikus dan pejabat negara. Ia juga merupakan tokoh yang paling dekat dengan para pengambil kebijakan baik saat Jusuf Kalla menjabat wakil presiden maupun tidak.
Dalam rentang waktu lebih dari 40 tahun menjalankan bisnis Bosowa Group, Aksa dikenal sebagai tokoh yang tidak pernah dikaitkan dengan masalah hukum di tengah banyak pengusaha sejak era reformasi bergulir terseret masuk meja hijau. Saat menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI, Aksa Mahmud benar-benar melepaskan dirinya dari bisnis. Kemudian fokus dalam mengabdikan diri pada bangsa. Begitu pula ketika duduk sebagai Anggota DPD RI, dia benar-benar mengabdi pada negara menyerahkan urusan bisnis kepada anak-anaknya.
Biodata
H. Aksa Mahmud
Lahir: Barru, 16 Juli 1945 Istri: Ramlah Kalla. (Sumber: Buku Tokoh Sulsel 2022-2024)






