
Anhar Gonggong masih ingat pesan Sudjatmoko ketika menghadiri undangan sebagai tokoh mahasiswa pada konferensi pemuda Taman Siswa.
Sudjatmoko saat itu berpesan bahwa ada satu pekerjaan yang ada saat ini dan masih tetap akan ada di masa akan datang, yaitu pembelajar intelektual.
Menjadi pembelajar intelektual itu berat. Kerjanya membaca setiap hari, mengarungi lautan ilmu. Harus menulis setiap hari.
Pesan itu begitu berkesan bagi Anhar dalam proses dirinya mengarungi karier hingga akhirnya menjadi seorang peneliti sejarah.
Dia lain waktu, Anhar ketika sudah berdomisili di Jakarta, dia kembali dipanggil oleh Sudjatmoko yang saat itu menjadi penasihat Bappenas RI.
Dia menyampaikan kepada Anhar, jika satu dirinya dipanggil untuk berpidato, sebagai seorang sarjana jangan suka mengulang-ulang materi yang dipidatokan.
Menurut Anhar saat menjadi tamu pada Channel Youtube @Helmi Yahya Bicara, pesan itu tak mudah. Bagaimana harus menyampaikan sesuatu yang berbeda-beda ketika berpidato atau berceramah. Ini tentunya butuh mengakselerasi pemikiran dan tentunya referensi secara terus menerus.
Budayakan Diskusi
Membangun kecintaan untuk membaca dan menulis itu juga yang sering dinasihatkan Anhar kepada para remaja ketika menjadi pembicara. Menurutnya pemuda Indonesia perlu mengikuti yang telah dilakukan oleh pendiri bangsa ini yaitu belajar, membaca, dan menulis.
“Sukarno dan Hatta menulis pikirannya. Pesan dari Ir Sukarno dan Hatta, jangan tinggalkan belajar, membaca buku, dan jangan tinggalkan menulis,” kata Anhar Gonggong dalam Gebyar Wawasan Kebangsaan antara Lemhannas RI dengan 900-an peserta pemuda di Jakarta.
Menurutnya apa yang dibicarakan atau di diskusikan hari ini tentang masa depan merupakan sebuah dialog. Dialog menuju kemajuan.
Dia mengatakan pendiri bangsa ini yaitu Ir. Soekarno, Soepomo, Muh. Hatta pada masa mudanya juga berdebat, tapi akhirnya berkonsensus.
Rumusan Pancasila berkembang menjadi dasar negara sampai sekarang melalui proses dari Soekarno, Soepomo, Hatta, ada kekuatan nasionalis sekuler, nasionalis islami.
Mereka yang berdepat tapi akhirnya adalah hasil yang kita nikmati sekarang, yang adalah konsensus dari dialog yang panjang dari mereka.
Selain berceramah dan menulis buku, Anhar Gonggong saat ini juga memiliki channel youtube yang membahas sejarah dari sudut pandangnya. Channel @anhargonggong438 itu diberi titel Ayah Anhar Bercerita dengan jumlah subscriber 5,58 rb akun.
Anhar Gonggong adalah seorang sejarawan terkemuka Indonesia asal Sulawesi Selatan. Ia lahir di Pinrang, pada 14 Agustus 1943. Ayahnya, Andi Pananrangi adalah mantan raja di Kerajaan Alitta.
Ia menyelesaikan studi di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta pada tahun 1976. Setelah itu Anhar melanjutkan S2 di Universiteit Leiden, Belanda. Pada 1990, Anhar meraih gelar Doktor Ilmu Sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dengan disertasi berjudul Gerakan Darul Islam di Sulawesi Selatan.
Enam tahun setelah meraih gelar doktor, Anhar dipercaya menduduki jabatan Direktur Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Ia menduduki posisi tersebut dari 1996 hingga 1999.
Setelah itu, pada 2001-2003, Anhar mendapat amanah sebagai Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.
Anhar yang sejak 1991 tercatat sebagai dosen pembimbing bidang studi sejarah pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia dan Jurusan Sejarah Universitas Negeri Jakarta ini banyak menulis buku. Mulai dari biografi HOS Tjokroaminoto (1984), MGR. Sugijopranoto SJ hingga Antara Gereja dan Negara (1993).
Penulis Buku Qahhar Mudzakkar
Salah satu bukunya yang paling banyak menyita perhatian khususnya di kalangan warga Sulawesi Selatan adalah Abdul Qahhar Mudzakkar: Dari Patriot hingga Pemberontak (1992 dan 2004).
Buku sejarah dan militer ini adalah disertasi Anhar yang dituangkan dalam bentuk buku.
Anhar yang menjadi staf pengajar di Sekolah Tinggi Intelijen Negara, Sentul, Bogor sejak 2005 dalam buku ini mengungkapkan pelbagai hal tentang latar belakang Gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan yang dipimpin Abdul Qahhar Mudzakkar, seorang bekas Perwira Menengah (Letnan Kolonel) pada masa Perang Kemerdekaan.
Dalam buku ini nampak bahwa pemberontakan itu terjadi bukan hanya karena satu sebab, melainkan oleh pelbagai hal yang terkait dan berakumulasi yang mendorongnya ke permukaan.
Ada faktor budaya masyarakat setempat yang disebut Siri dan Pesse, adat istiadat, kekecewaan, sosial politik hingga sosial ekonomi.
Sebagai seorang sejarawan, Anhar dikenal sebagai sosok yang mampu menelisik, memahami dan mengungkap sejarah yang sengaja ditutup-tutupi.
Sosok nyentrik yang selalu muncul di TV dengan rambut gondrongnya itu juga selalu blak-blakan menyampaikan kebenaran.
Ketika salah satu partai politik di negeri ini pada 2008 mendengungkan wacana gelar pahlawan pada mantan Presiden RI, Soeharto, Anhar langsung mencibir. Kepada media ia secara terbuka menyebut bahwa pada saat memerintah, Soeharto melakukan korupsi.
Bahkan, meski pembangunan sukses di era Soeharto, Anhar juga mempertanyakan gelar Bapak Pembangunan pada penguasa Orde Baru tersebut. Menurutnya, pembangunan itu hanya buat Soeharto, keluarga, serta kroninya sendiri.
Anhar juga menjadi salah satu sejarawan yang menolak film kontroversial G30S PKI ditayangkan lagi secara rutin di televisi. Bagi Anhar, film tersebut penuh dengan propaganda dan masih dicari fakta siapakah yang terlibat dalam tragedi pembantaian tujuh jenderal itu.
Sejarah Indonesia yang telah terdistorsi oleh kepentingan penguasa di masa lalu memang selalu menjadi perhatian Anhar. Banyak hal yang ia kritik lewat pernyataan pedas. Tak heran, beberapa orang menyebut Anhar lewat budaya dan sejarah sebenarnya tengah berjihad.
Blak-blakan Anhar juga ditunjukkan ketika menolak kompensasi maupun permintaan maaf pemerintah Belanda atas pembantaian yang dilakukan Raymond Pierre Paul Westerling di Sulawesi Selatan.
Tragedi pembunuhan 40.000 rakyat di Sulawesi Selatan oleh pasukan Belanda pada Desember 1946-Februari 1947 itu bagi Anhar tak cukup hanya ditebus dengan permohonan maaf dan ganti rugi.
Menurut Anhar yang ayah dan dua kakaknya juga dibantai Westerling, Belanda harus mengakui dua hal dalam peristiwa berdarah ini. Pertama, mengakui kemerdekaan RI adalah tahun 1945. Kedua, mengakui bahwa Belanda pernah melakukan pelanggaran HAM dalam berbagai bentuk di Indonesia demi mengembalikan kekuasaan kolonialisme antara tahun 1945-1949.
Anhar sendiri selalu berharap kepedulian masyarakat terhadap sejarah negara sendiri. Menurutnya, ketidakpedulian pada sejarah negara sendiri membuat orang tidak mengerti dirinya dan tidak mengerti proses membangsa Indonesia.
Satu kalimat singkat, filosofis dan patut menjadi renungan yang kerap dilontarkan Anhar, “Jika seseorang tidak belajar sejarah, dia tidak akan mengenal dirinya.” Karena itulah, Anhar berharap porsi pembelajaran sejarah harus lebih banyak. Ia ingin pemerintah mengajarkan sejarah secara benar.
Sebagai negara yang punya sejarah panjang, Indonesia kata Anhar harusnya bisa seperti Amerika Serikat. AS selama ini meletakkan sejarahnya sebagai sesuatu yang penting dalam ilmu mereka. Sejarah menjadi pelajaran tersendiri dan mereka bangga belajar sejarah.
Biodata:
Prof Dr Anhar Gongong
Lahir : Pinrang, 14 Agustus 1943.
Sumber : Buku Tokoh Sulsel 2022-2024






