Seminar parenting bertema “Penguatan Komunikasi Empatik untuk Mendukung Kesehatan Mental Anak” yang berlangsung di Masjid Jami Pejaten, Senin (19/10/2026)
JAKARTA — Mendampingi anak di era gawai tidak cukup dengan larangan dan teguran. Orang tua dan guru perlu memahami perasaan anak sebelum mengarahkan perilakunya. Pendekatan komunikasi empatik inilah yang diperkenalkan tim dosen Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) kepada orang tua dan guru di Yayasan Yatim Piatu Pejaten (YYPP), Jakarta Selatan.
Dalam seminar parenting bertema “Penguatan Komunikasi Empatik untuk Mendukung Kesehatan Mental Anak” yang berlangsung di Masjid Jami Pejaten, Senin (19/10/2026), rata-rata skor pengetahuan peserta meningkat dari 60 persen pada pre-test menjadi 90 persen setelah mengikuti materi dan sesi tanya jawab.
Kegiatan yang diikuti 38 peserta tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UAI melalui skema Public Service Grant 2026. Pesertanya terdiri atas ibu wali santri yatim, anak asuh, serta guru TKA/TPA/TQA Tarbiyatul Islam 114.
Ketua tim pengabdian sekaligus dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UAI, Dr. Dra. Kussusanti, M.Si., mengatakan kesehatan mental anak tidak cukup dijaga melalui larangan. Anak juga membutuhkan orang dewasa yang bersedia mendengarkan dan membantunya mengenali perasaan.
“Kesehatan mental anak tidak cukup dijaga dengan larangan. Anak membutuhkan orang dewasa yang mau mendengarkan dan membantu mereka mengenali perasaannya,” ujar Kussusanti.
Penggunaan gawai menjadi tantangan pengasuhan
Program ini berangkat dari observasi dan diskusi kelompok kecil bersama pengelola yayasan, guru, dan orang tua pada Februari 2026. Hasilnya menunjukkan hampir semua anak yang diamati menggunakan gawai lebih dari dua jam sehari, terutama untuk menonton video dan bermain gim.
Pada saat yang sama, sebagian besar orang tua belum memiliki strategi untuk mendampingi penggunaan gawai. Guru juga menemukan sejumlah siswa mudah marah, menangis ketika ditegur, atau kesulitan bekerja sama dengan teman.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim UAI untuk memperkuat keterampilan komunikasi empatik dan pengasuhan berbasis kecerdasan emosi. Persoalan kesehatan mental anak juga memiliki konteks lebih luas. Dokumen kegiatan mengutip Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia (I-NAMHS) 2022 yang mencatat sekitar satu dari tiga remaja berusia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir.
Empat materi untuk orang tua dan guru
Seminar menghadirkan empat sesi yang memadukan psikologi perkembangan, ilmu komunikasi, pendidikan anak usia dini, dan nilai-nilai Islam.
Nurfadilah, S.Psi., M.Psi., membuka pembahasan dengan materi kesehatan mental anak dan peran orang tua serta guru. Ia menjelaskan bahwa kesehatan mental bukan sekadar ketiadaan gangguan, melainkan juga kemampuan anak merasakan, mengekspresikan, dan mengelola emosi secara sehat sesuai tahap perkembangannya.
Kussusanti kemudian membahas komunikasi empatik, yakni memahami dan menerima perasaan anak sebelum mengarahkan perilakunya. Materi ini juga dikaitkan dengan komunikasi asertif, yaitu menyampaikan perasaan dan kebutuhan secara jujur tanpa bersikap agresif maupun pasif.
Penerapannya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menggunakan kata “tolong”, menghindari kata-kata kasar, dan berani meminta maaf kepada anak ketika orang dewasa melakukan kesalahan.
Sementara itu, Ruvira Arindita, S.I.Kom., M.Si., membahas pendampingan emosional anak di era digital. Materinya mencakup kesepakatan durasi layar, pemilihan konten, serta pentingnya kehadiran orang tua ketika anak menggunakan gawai.
Sesi terakhir yang dibawakan Safira Hasna, S.I.Kom., M.Si., menawarkan kegiatan membaca dan bercerita untuk mengenalkan beragam emosi, melatih empati, serta mempererat hubungan antara anak, orang tua, dan guru.
Dalam sesi diskusi, peserta aktif bertanya mengenai cara menghadapi anak yang mengalami tantrum ketika gawainya diambil. Sejumlah ibu wali santri yatim juga berbagi pengalaman tentang tantangan mengasuh anak seorang diri.
Pendampingan dilanjutkan melalui grup konsultasi
Evaluasi kegiatan menunjukkan 80 persen peserta menilai materi seminar bermanfaat, sedangkan 85 persen menyatakan akan menerapkannya di rumah.
Untuk menjaga keberlanjutan program, tim membentuk komunitas belajar melalui grup WhatsApp yang melibatkan orang tua, guru, dan tim pelaksana. Grup tersebut disiapkan sebagai ruang konsultasi dan berbagi pengalaman. Tim juga membuka layanan hotline konsultasi pribadi.
Selain itu, tim tengah menyusun modul komunikasi empatik, panduan aktivitas penguatan emosi anak yang dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan TKA/TPA/TQA, serta lembar observasi sederhana bagi guru untuk memantau perkembangan emosi anak.
Kussusanti menilai pendidikan keagamaan nonformal memiliki peran strategis dalam membentuk akhlak sekaligus menjaga keseimbangan emosi anak. Karena itu, pembelajaran di TPA diharapkan tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga pada penguatan emosi melalui nilai kasih sayang, kesabaran, dan tutur kata yang baik.
Ke depan, tim UAI berencana mengembangkan simulasi dan role play, mengukur perubahan komunikasi orang tua dan guru dalam keseharian, serta mereplikasi model pendampingan tersebut di lembaga pendidikan keagamaan nonformal lainnya. (*)






