
BANDAR LAMPUNG, — Di tengah riuh rendah bisnis properti nasional yang mulai bergeliat pasca konsolidasi, sebuah delegasi besar mendarat di Bandar Lampung dengan membawa lebih dari sekadar atribut daerah. Mereka membawa narasi tentang Indonesia Timur yang siap menjadi episentrum baru pertumbuhan sektor realestat.
Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPD REI) Sulawesi Selatan mengirimkan 40 pengurus intinya ke perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) REI ke-54 yang digelar pada 5–8 Mei 2026. Dalam peta politik properti nasional, angka 40 itu bukan sekadar jumlah, melainkan pernyataan sikap: Sulawesi Selatan ingin duduk di meja utama, bukan di pinggiran.
Dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD REI Sulsel, Sudarman, bersama Sekretaris Umum Khoiruman, rombongan ini juga diperkuat oleh tokoh kawakan properti Sulsel, Haji Badris Salam, yang rekam jejaknya sebagai pengembang hunian strategis sudah tidak diragukan lagi.
Lebih dari Seremoni: Menenun Jejaring di Atas Panggung Nasional
Saat ditemui di sela kegiatan, Sudarman menolak anggapan bahwa kehadiran besar ini sekadar wisata organisasi. Baginya, Lampung adalah panggung diplomasi properti.
“Soliditas 40 orang yang kami bawa adalah sinyal bahwa REI Sulsel tidak ingin menjadi penonton. Kami di sini untuk bertukar instrumen inovasi. Pasar properti 2026 tidak mudah. Suku bunga, inflasi, dan preferensi generasi baru terhadap hunian berubah drastis. Kalau kami hanya bekerja sendiri di Sulawesi, kami akan tertinggal. Maka, jejaring nasional adalah kuncinya,” ujar Sudarman, dengan nada yang tenang namun tegas.
Pernyataan ini menegaskan adanya pergeseran misi dalam tubuh REI Sulsel. Jika dulu kehadiran di acara nasional bersifat reseptif—menerima arahan pusat—kini mereka datang dengan modus kolaboratif-aktif: membawa perspektif lokal untuk ditawarkan ke kancah nasional, sekaligus menyerap praktik terbaik dari daerah lain.
Haji Badris Salam dan “Diplomasi Hunian”
Sosok Haji Badris Salam menjadi salah satu magnet tersendiri. Kehadiran pengembang senior ini memberikan bobot tambahan. Dalam beberapa diskusi informal di sela acara, ia menyuarakan keresahan yang diamini banyak pengembang daerah: ketimpangan akses kebijakan.
“Sinergi itu tidak boleh hanya menjadi kata sambutan. Kami di Sulawesi Selatan butuh kebijakan yang ‘membumi’, yang memahami bahwa karakter pasar properti di Timur tidak selalu sama dengan di Jawa atau Sumatera. Saya ke sini untuk memastikan suara pengembang daerah terdengar, sekaligus belajar apa yang sudah berhasil diimplementasikan di Lampung,” ujarnya.
Agenda Padat dan Misi Terselubung
Selama empat hari, delegasi REI Sulsel tidak hanya akan mengikuti family gathering dan seremoni puncak HUT ke-54. Ada agenda-agenda bisnis yang menjadi “misi terselubung” rombongan ini. Topik seperti penyediaan hunian berimbang, digitalisasi pemasaran properti, hingga strategi mempercepat perizinan di daerah menjadi “PR” yang dibawa pulang dari setiap diskusi.
Membaca Arah: REI Sulsel Sebagai Pilar Indonesia Timur
HUT REI ke-54 ini mengambil momentum yang tepat. Tahun 2026 menandai babak baru industri properti nasional yang diprediksi lebih selektif. Kehadiran delegasi besar REI Sulsel di Bandar Lampung bisa dibaca sebagai persiapan untuk mengambil peran lebih besar.
Mereka ingin membuktikan bahwa “Anging Mammiri” tidak hanya legendaris dalam lirik lagu, tetapi juga bisa menjadi metafora angin perubahan bagi sektor properti di kawasan timur Indonesia. Sebuah daerah yang selama ini kerap dipandang sebagai pasar sekunder, tetapi perlahan menunjukkan bahwa ia mampu menjadi salah satu pilar utama penggerak ekonomi nasional.
Perayaan ini diharapkan tidak hanya melahirkan kue ulang tahun, tetapi juga rekomendasi strategis yang memanggang kebijakan menjadi lebih segar dan relevan. Sebab, bagi REI Sulsel, properti bukan hanya soal tanah dan semen, melainkan tentang membangun peradaban hunian yang layak dan bermartabat.






