
JAKARTA — Di era digital saat ini, perilaku masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan telah berubah total. Keputusan orang tua murid kini tidak lagi hanya bersandar pada brosur fisik, melainkan diawali dengan riset mendalam melalui media sosial, situs web, hingga ulasan di internet.
Menyadari pentingnya adaptasi ini, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) menggandeng Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) untuk menggelar Public Relations Workshop bertajuk “Transformasi Komunikasi Publik Strategis untuk Sekolah” pada Rabu, 8 Juli 2026.
Acara yang berlangsung secara hybrid di Ruang Serbaguna UAI dan daring ini diikuti oleh puluhan anggota KGSB dari seluruh Indonesia. Fokus utamanya jelas: mendefinisikan ulang fungsi humas sekolah agar tidak sekadar menjadi tim dokumentasi, melainkan motor penggerak reputasi lembaga.
Guru adalah Wajah dan Reputasi Sekolah
Ketua KGSB, Ardyles Faesilio, menegaskan bahwa di era keterbukaan informasi, setiap tenaga pendidik memiliki andil besar dalam membentuk opini publik. Kesalahan komunikasi sekecil apa pun di media sosial atau grup WhatsApp bisa berdampak fatal bagi kepercayaan masyarakat.
“Setiap guru memiliki peran sebagai representasi sekolah yang turut menentukan reputasi lembaga di mata publik. Kami berharap para guru tidak hanya memperoleh wawasan mengenai Public Relations, tetapi juga keterampilan praktis untuk memanfaatkan media digital secara bijak dan strategis,” ujar Ardyles.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UAI, Dr. Nanang Haroni, S.Ag., M.Si., melihat langkah ini bukan semata-mata sebagai ajang promosi komersial, melainkan jembatan penyebaran dampak positif pendidikan.
“Bukan karena pendidikan dipandang sebagai industri, melainkan agar berbagai praktik baik, inovasi, dan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang dilakukan sekolah dapat diketahui masyarakat,” jelas Dr. Nanang.
Tiga Strategi Jitu Perkuat Komunikasi Publik Sekolah
Workshop ini mengupas tuntas tiga aspek krusial dalam manajemen reputasi sekolah yang dipandu langsung oleh para akademisi dan praktisi dari UAI:
- Peran Guru dalam Menjaga Nama Baik SekolahDr. Dra. Kussusanti, M.Si. memaparkan bagaimana lanskap komunikasi pendidikan telah bergeser. Guru diajak untuk menyusun pola komunikasi yang lebih terencana, proaktif, dan berbasis pada kebutuhan pemangku kepentingan.
- Image Building & Audit IdentitasRuvira Arindita, S.I.Kom., M.Si. mengajak peserta membedah kesenjangan antara identitas asli sekolah dengan persepsi yang berkembang di masyarakat, sekaligus merumuskan citra ideal yang ingin dibangun.
- Content Planning (Praktik Produksi Konten)Pada sesi pamungkas, Safira Hasna, S.I.Kom., M.Si. melatih para peserta secara praktis untuk memproduksi konten media sosial yang menarik. Mulai dari teknik pengambilan visual menggunakan gawai, penulisan caption yang persuasif, hingga optimasi tagar (hashtag).
Membangun Budaya Komunikasi yang Jujur dan Terpercaya
Kolaborasi strategis antara KGSB dan Universitas Al Azhar Indonesia ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem pendidikan yang lebih adaptif. Ke depan, kemampuan mengelola komunikasi publik sekolah diharapkan tidak lagi bertumpu pada satu divisi, melainkan menjadi budaya organisasi.
Dengan komunikasi yang jujur, konsisten, dan berorientasi pada pelayanan, setiap elemen sekolah—mulai dari guru hingga pimpinan—kini memegang peran penting sebagai duta reputasi yang membawa dampak positif bagi kemajuan pendidikan nasional.






