
Julia Reth terkesima. Tak bisa mengeluarkan kata-kata. Ada momen ketika mata Rama Widi dengan
mata pengujinya itu bertemu. Satu detik saling berpandang-pandangan. Masing-masing memendam
kekaguman.
“Saya sendiri juga heran. Ternyata bisa memainkan alat musik ini,” ujar Rama mengingat masa
pertama kali memegang harpa di Vienna, Austria.
Saat itu Rama tengah diuji memainkan harpa. Alat musik petik yang masuk kategori alat musik
tersulit. Selama ini dia tidak pernah memainkan alat musik itu. Dia hanya pandai memainkan piano
dan biola.
Namun, karena keinginannya yang sangat besar untuk bermain harpa, maka dia mendaftar untuk
sekolah khusus harpa. Dia pun menghadap dekan. Namun, dia tak langsung diterima. Pasalnya Rama
tak punya dasar pengetahuan pada alat musik harpa.
Tapi Rama tetap ngotot. Dia pun minta diuji bermusik. Dia ahli di biola dan piano. “Tapi dekannya
bilang, kalau mau belajar harpa maka tesnya adalah memainkan harpa,” ujarnya.
Rama sempat bertanya, jadi dirinya harus buat apa?. “Itu urusan kamu,” kata Rama mengulang
pernyataan penolakan dekan itu.
Kendati demikian, dekan itu memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada dosen harpa untuk
melakukan audisi. Menguji dan mengevaluasi keterampilan harpa calon siswanya.
“Untungnya sebelum mengikuti audisi itu saya diwawancara. Ditanya apakah pernah belajar harpa?
Terus kenapa belajar harpa? Setelah tamat mau jadi apa?,” kata dia.
Rama pun dengan jujur menjawab semua pertanyaannya. Termasuk soal keterampilan bermain
harpanya. Dia juga menjelaskan alasan untuk kuliah itu sebagai mengisi waktu sambil menunggu
audisi Conductor Orchestra yang akan dibuka tahun akan datang.
“Mendengar jawaban saya. Penguji itu memberikan pengecualian kepada dirinya untuk memainkan
lagu anak-anak. Bukan lagu-lagu standar harpa di Vienna,” ujarnya.
Akhirnya dia pun mencoba memainkan lagu itu mengikuti partitur di hadapannya. “Pengujinya
heran. Kok kamu bisa. Mungkin karena kamu ada dasar piano,” kata Rama lagi.
Berikutnya, penguji pun memberikan tugas memainkan lagu yang lebih sulit, lebih harpa. Di situ
Rama kesulitan. Karena tekniknya tak diketahui dan partiturnya pun dia dipahaminya. Hingga dia
meminta pengujinya untuk menunjukkan cara memainkannya.
“Saya benar-benar tidak paham. Jadi saya minta ditunjukkan cara memainkannya. Dan ternyata saya
bisa memainkan musik yang benar-benar untuk harpa,” ujarnya.
Dosen pengujinya kagum. Dia mengaku hal itu belum pernah terjadi. Biasanya orang mengikuti ujian
ini adalah orang yang sebelumnya sudah pernah belajar atau memainkan harpa. “Akhirnya beliau
menerima saya sebagai muridnya dengan syarat saya tidak boleh memainkan lagu-lagu dulu.
Setahun itu harus difokuskan untuk mempelajari teknik. Dan itu saya lakukan, bahkan tak sampai
setahun. Hanya enam bulan,” kata Rama.
Rama berada di Vienna awalnya bukan untuk belajar harpa. Dia malah ingin mengikuti audisi untuk
menjadi Conductor Orchestra pada 2004 silam. “Saya ingin menjadi Conductor seperti mas Addie
MS,” katanya.
Namun dari tiga hari dilaksanakan audisi, dia hanya lolos hingga hari kedua. Mimpi menjadi
Conductor Orchestra pun gagal.
“Jadi menjadi Conductor Orchestra itu tak hanya memberikan aba-aba saja kepada pemain. Tetapi
memang harus bisa banyak hal,” ujarnya.
Ujian yang dijalaninya pada hari pertama memang cukup banyak, meliputi sejarah, akustik dan
pendengaran.
“Jadi professornya main musik, kita langsung tulis apa yang dimainkan. Menurut saya
yang paling susah adalah memperbaiki partitur musik. Jadi di depan kita itu ada partitur musik dan
kita distelin (Putarkan,-red) CD musik, dan di partitur itu salah. Kita itu harus bisa membenarkan
sesuai apa yang diputar,” ujarnya.
Karena tidak lulus, dia sempat berfikir untuk kembali ke Indonesia. Namun ada masukan dari orang
tuanya agar dia tetap saja di Vienna untuk menunggu audisi berikutnya sambil mencari-cari tempat
kuliah yang dia senangi di sana. Dia disarankan untuk mengambil ilmu psikologi, karena di Vienna
memang terkenal keunggulannya di ilmu psikologi.
Dia sempat tertarik untuk mendaftar di jurusan Psikologi namun merasa tak cocok di bidang itu.
Begitu juga dengan hukum. Hasilnya juga sama. “Jadi saya sudah beli buku-buku di sana. Tapi sulit
sekali memahaminya. Apalagi menggunakan bahasa Jerman. Malah saya mengantuk membaca buku-
bukunya,” kata dia.
Namun saat tengah mencari-cari tempat kuliah itulah dia melihat ada lowongan kuliah musik harpa
di Vienna Conservatory.
Setelah tiga semester belajar harpa, rama telah menggelar konser solo lebih dari 40 kali yang diiringi
orkestra dari Indonesia maupun Vienna.
Walau telat dalam belajar harpa, Rama mencatatkan sejarah untuk dunia harpa Indonesia. Dia
adalah orang Indonesia pertama yang diundang untuk konser solo di Vienna Jazz Festival 2007.
Orang Indonesia pertama yang lolos seleksi kompetisi harpa tersulit di dunia selama 50 tahun di
Israel.
Orang Indonesia pertama yang diundang untuk perform solo concerto diiringi orkestra di hall
terbesar di Wiener Konzerthaus (Vienna, Austria) pada 2016 membawakan Ginastera Harp Concerto.
Kepiawaiannya bermain harpa terbukti dengan menjadi Principal Harpist di Symphonia Vienna
Orchestra dan Thailand Philharmonic Orchestra. Dia juga menjabat menjadi dosen Harpa/Chamber
Music di Institute Kesenian Jakarta dan Mahidol University Thailand.
Selain bermain musik solo, Rama juga aktif di dalam kegiatan musik lainnya seperti mengajar, solo
resital dan chamber music.
Rama saat ini tergabung dengan Twilite Orcestra yang dipimpin oleh Addie MS. Jumat, 2 Desember
2022 lalu, dia dan Twilite Orchestra mengiringi pertemuan CEO Forum yang di gelar di Istana Negara.
Dia telah memecahkan rekor harpis Indonesia yang bermain solo diiringi oleh hampir seluruh
orchestra kenamaan di Indonesia seperti: Twilite Orchestra, Nusantara Symphony Orchestra, Jakarta
City Philharmonic, Amadeus Strings Chamber Orchestra, Cikini Symphony Orchestra, Jakarta
Simfonia Orchestra, Jakarta Concert Orchestra, Bandung Philharmonic Orchestra dan Jakarta City
Philharmonic.
Pada 2017 yang lalu, dia meluncurkan album solo perdananya yang berjudul “Let The Music Play”
diiringi oleh Budapest Scoring Orchestra dan membawakan World Premier “Revolt in Paradise” for
Harp and Orchestra diiringi oleh Jakarta City Philharmonic.
Pada 2018 Rama bersama Taylor Ann Fleshman membawakan Asian Premier “The Passions of
Angels’ karya Marjan Mozetich diiringi oleh Jakarta Simfonia Orchestra dibawah pimpinan Rebeca
Tong.
Pada Maret 2020, Rama memulai debut acting dan nyanyi sebagai leading role di Drama Musikal
“Belakang Panggung” bersama dengan Mian Tiara, Kiki Narendra, Marissa Anita dan Muhammad
Khan.
Biodata:
Nama : Rama Andikha Widi
Tempat Tanggal Lahir: Tana Toraja, 31 Agustus 1985. (sumber: Buku Tokoh Sulsel 2022-2024)





