
Makassar,–Pengusaha Sulsel, pemilik dan perintis Bosowa Group, Aksa Mahmud resmi mengakuisisi saham Jawa Pos di PT Fajar Indonesia Corporindo (FIC), Kamis (23/7/2026).
Hal itu terungkap saat digelar press conference usai dilaksanakannya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLSB) FIC yang dihadiri langsung Aksa Mahmud.
FIC merupakan perusahaan holding yang membawahi sejumlah perusahaan-perusahaan baik media dan non media Fajar Group.
Perusahaan ini dulunya dirintis oleh Almarhum Alwi Hamu yang mendirikan koran Harian Fajar yang berkembang pesat dan melahirkan sejumlah anak perusahaan baik media maupun non media.
Beberapa anak perusahaan itu terdiri bergerak di bidang media cetak, media cyber, hotel, perkantoran, pendidikan, konstruksi hingga kesehatan.
Jawa Pos sebelumnya merupakan perusahan mitra Fajar yang berkolaborasi membangun jaringan media di Indonesia Timur. Jawa Pos saat itu dipimpin oleh Dahlan Iskan dan Fajar oleh Alwi Hamu.
Kolaborasi ini membuat Jawa Pos Group berkibar di seluruh Indonesia, khususnya di Indonesia Timur.
Jalannya RUPSLB ini dipimpin langsung Direktur FIC, Suhendro Baroma dan dihadiri langung oleh Aksa Mahmud, serta seluruh pemegang saham.
Saham Jawa Pos sendiri merupakan salah satu pemegang saham besar di FIC ini. Dengan akuisisi saham ini, maka Aksa Mahmud menjadi pemilik saham mayoritas di FIC.
Hendro mengatakan, Aksa Mahmud merupakan sahabat seperjuangan almarhum Alwi Hamu saat keduanya sama-sama membangun usaha.
“Posisi Pak Aksa itu 49,88 persen,” ungkap Hendro.
Keputusan membeli saham yang dilepas Jawa Pos dan Dorothea Samola karena faktor emosional yang kuat. Aksa Mahmud, Jusuf Kalla dan almarhum Alwi Hamu merintis usaha hampir bersamaan.
Sementara itu, Aksa Mahmud mengatakan, pembelian saham ini tidak mengatasnamakan Bosowa, tetapi atas nama diri sendiri.
Dia juga mengatakan, saham Jawa Pos ini sebelumnya sudah ditawarkan ke pemegang saham lainnya, termasuk anak almarhum Alwi Hamu, namun tak yang bersedia untuk mengakuisisi. Sehingga dirinya pun secara pribadi berinisiatif mengambil alih saham Jawa Pos itu.
Keputusan membeli saham FIC tak direncanakan Bosowa di tahun 2026. Tetapi semata-mata dilakukan karena menjaga warisan sejarah dan mempertahankan semangat para pendiri Harian Fajar, almarhum Alwi Hamu.
Dia menceritakan, dirinya diberi tenggat waktu hingga tanggal 6 untuk penawaran saham Jawa Pos.
Pada tanggal 5 ia menghubungi Komisaris Utama Fajar Group yang juga anak dari almarhum Alwi Hamu, Agus Salim untuk membeli saham Jawa Pos, tetapi mengaku tak bisa.
Ia menyebut, saham yang dilepas Jawa Pos mencapai 40,5 persen, sedangkan saham milik Dorothea Samola sebesar 5,6 persen.
“Saya sebenarnya dari tiga berteman, saya paling kecil sahamnya. Saya hanya 3,75 persen, Pak JK 5,6 persen dan Pak Alwi yang besar,” sebutnya.
Dia mengaku, sejak awal dirinya dan JK sudh menyepakati agar pengelolaan Harian Fajar diserahkan ke almarhum Alwi Hamu karena dinilai memiliki kemampuan dan dedikasi di dunia jurnalistik. (*)




