Appi panen melon di Urban Farming Bukit Baruga, Jumat (4/9/2026)
MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin yang akrab disapa Appi, menghadiri secara langsung kegiatan panen buah melon di kawasan pertanian perkotaan (urban farming) Masjid Bin Baz, Kompleks Bukit Baruga, Jumat (3/9/2026).
Dalam kunjungannya tersebut, Appi tidak sekadar meninjau lokasi budidaya, melainkan turut serta memetik langsung buah melon segar yang siap panen di dalam rumah kaca (greenhouse).
Orang nomor satu di Pemkot Makassar ini menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas tata kelola kebun yang produktif tersebut. Selain melon, kawasan ini juga berhasil membudidayakan berbagai komoditas bernilai tinggi lainnya seperti anggur, tanaman hortikultura, hingga pengembangan sektor peternakan secara terpadu.
“Kita bisa melihat langsung bagaimana proses dan hasil dari sistem pertanian perkotaan ini. Hanya dalam rentang waktu beberapa bulan, banyak komoditas yang bisa disisipkan sehingga tercipta siklus panen berkelanjutan setiap bulannya,” tutur Appi di sela-sela kegiatan.
Pemanfaatan Greenhouse dan Kunci Konsistensi Pengelolaan
Sistem urban farming atau pertanian perkotaan menjadi solusi strategis di tengah makin terbatasnya lahan terbuka di kawasan perkotaan. Pemanfaatan lahan pekarangan rumah, area kosong, hingga pekarangan tempat ibadah terbukti ampuh mendukung ketahanan pangan keluarga dan masyarakat sekitar.
Menurut Munafri, penggunaan sarana greenhouse menjadi faktor kunci keberhasilan budidaya tanaman berbobot tinggi. Kehadiran struktur rumah kaca membuat proses penanaman tidak bergantung penuh pada perubahan cuaca ekstrem di luar.
“Keberadaan greenhouse ini membuat kita tidak lagi tergantung cuaca. Ini membuktikan bahwa kebun produktif bisa dibangun di mana saja, asalkan ada fokus, niat, dan kemauan yang kuat,” tambahkan Wali Kota.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan urban farming tidak cukup berhenti pada pembangunan fasilitas fisik semata. Konsistensi, perawatan rutin, serta edukasi publik menjadi pilar utama agar kebun perkotaan dapat terus berkembang secara berkelanjutan.
Sistem Terintegrasi: Daur Ulang Air Wudu dan Biopori
Salah satu daya tarik utama dari urban farming Masjid Bin Baz Bukit Baruga terletak pada penerpan konsep ekosistem terpadu (integrated farming system). Pengelola mampu mengintegrasikan budidaya tanaman dengan pengelolaan limbah dan konservasi sumber daya alam lokal.
Beberapa inovasi ramah lingkungan yang diterapkan di kawasan ini antara lain:
Sirkulasi Air Terpadu: Memanfaatkan sisa air wudu dari jemaah masjid yang disaring dan diolah kembali sebagai sarana irigasi utama penyiraman tanaman.
Pupuk Organik Biopori: Mengolah sampah organik lingkungan sekitar melalui lubang biopori untuk menghasilkan pupuk kaya nutrisi.
Pengembangan Budidaya: Mengintegrasikan sektor pertanian hortikultura dengan pakan maggot dan peternakan guna memperkuat kemandirian pupuk.
“Pola terintegrasi ini sangat menarik. Air bekas wudu dikelola kembali untuk menyiram tanaman, sementara nutrisinya disuplai dari pupuk organik biopori buatan mandiri. Ini adalah model urban farming paling kompleks dan sukses di Makassar sejauh ini,” jelas Appi.
Proyek Percontohan Ketahanan Pangan Perkotaan
Melihat keberhasilan dan besarnya potensi pengembangan kawasan ini, Pemkot Makassar berencana menjadikan kompleks urban farming Masjid Bin Baz sebagai pusat edukasi dan proyek percontohan (pilot project) bagi wilayah lain.
Meski demikian, Appi mencatat masih ada beberapa aspek yang perlu ditingkatkan untuk memaksimalkan hasil produksi harian. Pemkot Makassar siap memberikan dukungan fasilitas, pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman, penambahan media maggot, hingga pembenahan infrastruktur pendukung. (*)




