MAKASSAR — Sebelum dikenal sebagai pengembang properti, H Badris Salam mengawali perjalanan kariernya dari pekerjaan paling bawah di dunia konstruksi.
Tokoh bisnis perumahan ini, pernah menjadi buruh bangunan, tukang, mandor hingga subkontraktor.
Badris mengaku terjun ke dunia konstruksi karena mengikuti pamannya yang saat itu bekerja sebagai kontraktor di Makassar.
“Awalnya itu kami ikut sama paman. Paman di Makassar ini memang dulu kontraktor. Sehingga kami ikut juga sama beliau,” kata Badris.
Dari pekerjaan tersebut, ia perlahan belajar memahami dunia konstruksi. Pengalaman di lapangan kemudian membawanya dipercaya mengerjakan berbagai pekerjaan dengan tanggung jawab yang semakin besar.
Salah satu pengalaman yang masih diingatnya adalah ketika terlibat dalam pekerjaan di Masjid Raya Makassar.
Dalam wawancara, Badris menyebut proyek tersebut dikerjakan sekitar 2004. Saat itu, ia berposisi sebagai mandor.
“Kalau tidak salah 2004. Masjid Raya dikerja itu tahun 2004,” ujarnya.
Ia mengatakan pekerjaan pembangunan saat itu terbagi dalam beberapa bagian. Badris berada di salah satu sisi pekerjaan sebagai mandor, sementara pelaksana lainnya berasal dari Bumi Karsa.
Badris juga mengingat bagaimana dirinya harus terlibat langsung di lapangan.
“Mandor itu supaya banyak hasil, tentunya dia turun tangan,” katanya.
H Badris Salam Mulai Masuk Bisnis Perumahan
Pengalaman sebagai pekerja konstruksi menjadi modal bagi Badris untuk masuk ke tahap berikutnya.
Pada 2007, ia mulai terjun ke bisnis developer. Tak lama kemudian dia membangun perusahaan properti PT Bumi Pundi Karsa pada 2013.
Dengan keterbatasan modal, Badris memilih pola kerja sama dengan pemilik lahan. Salah satu kerja sama awalnya dilakukan bersama seorang pengusaha bernama Jefry yang memiliki lahan di kawasan Sudiang, Jalan Goa Ria, Makassar.
Dalam skema tersebut, pemilik lahan menyediakan tanah, sementara Badris mengandalkan kemampuan dan biaya pembangunan.
“Kami hanya kerja sama. Mereka punya lahan, kami punya bangunan. Setelah kita bangun, kami jual. Diberikan haknya untuk lahan, saya ambil untuk bangunannya, profit dibagi sekian persen,” ujarnya.
Dari proyek tersebut, modal yang dikumpulkan kemudian digunakan untuk mengembangkan proyek berikutnya.
Badris selanjutnya menggarap lahan sekitar dua hektare di Barombong. Proyek tersebut berjalan dan proses Kredit Pemilikan Rumah (KPR) mulai dilakukan.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pijakan untuk memperluas bisnis propertinya.
Gagal di Rumah Komersial Sinjai
Perjalanan bisnis Badris ternyata tidak selalu berjalan mulus.
Sekitar 2012, ia membeli lahan seluas 12 hektare di Sinjai. Saat itu, ia memperkirakan pasar rumah komersial di daerah tersebut akan berjalan seperti di Makassar.
Badris kemudian membangun rumah komersial di atas lahan tersebut.
Namun, penjualan tidak berjalan sesuai harapan.
Rumah yang telah dibangun tidak terjual secepat yang diperkirakan sehingga modalnya tertahan.
“Kami sudah bangun tapi tidak bisa terjual dengan lancar seperti di Makassar. Di situlah kami kekurangan biaya,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat bisnisnya menghadapi tekanan. Ia menyebut selama sekitar dua tahun tidak mendapatkan pemasukan dari proyek tersebut, meski telah mengeluarkan biaya untuk pembebasan lahan.
“Saat itu kami dua tahun tidak pernah ada pemasukan. Padahal kita sudah keluarkan biaya untuk pembebasan lahan. Jadi kita kembali nol lagi,” katanya.
Titik Balik Kebangkitan
Di tengah kondisi tersebut, sebuah tawaran dari Bank BTN Syariah menjadi titik balik bagi proyek Badris di Sinjai.
Ia mengatakan pihak bank menyarankan agar kawasan tersebut dialihkan dari rumah komersial menjadi proyek rumah subsidi.
“Alhamdulillah dengan ada penyampaian dari Bank BTN Syariah di waktu itu, bagaimana kalau Bapak mengalihkan lokasinya menjadi rumah subsidi. Nah, di situlah kami mulai awalnya untuk menjalankan rumah subsidi,” kata Badris.
Badris kemudian mulai serius menggarap segmen rumah subsidi.
Awalnya, sekitar 100 unit disiapkan untuk pembangunan. Setelah proses kerja sama dengan perbankan berjalan, rumah yang telah selesai mulai diproses melalui skema KPR subsidi.
Sebanyak 20 unit pertama yang telah selesai kemudian diproses untuk KPR.
Dari proses tersebut, arus dana mulai kembali masuk dan bisnisnya perlahan bangkit.
Keberhasilan proyek rumah subsidi di Sinjai kemudian menjadi pijakan Badris untuk memperluas bisnisnya.
Ia mengembangkan proyek di sejumlah daerah, di antaranya Bone, Bulukumba, Bantaeng, Maros, Gowa hingga Palopo.
Bisnisnya kemudian tidak hanya mengandalkan rumah subsidi. Ia juga kembali mengembangkan segmen rumah komersial.
Sejumlah proyek komersial dikembangkan di kawasan belakang Kantor Gubernur Sulsel, BTP Makassar hingga Gowa.
“Jadi bukan kita ini hanya rumah subsidi. Tentunya rumah komersil juga ada. Kalau dirata-ratakan, subsidi mungkin 70 persen, 30 persen yang komersil,” ucapnya.
Kini, pengalaman panjang di dunia konstruksi dan properti menjadi bagian dari perjalanan Badris dalam membangun bisnisnya.
Dari yang awalnya bekerja sebagai buruh bangunan hingga menjadi pengembang, ia menilai pengalaman dari bawah memberikan pemahaman tersendiri dalam menjalankan bisnis.
Tiga Pegangan dalam Berbisnis
Bagi Badris, perjalanan tersebut tidak hanya ditentukan oleh modal.
Ia menyebut ada tiga hal yang menjadi pegangan dalam perjalanan bisnisnya, yakni kerja keras, memperluas jaringan dan keikhlasan.
“Keberhasilan yang kami capai karena pertama kerja keras. Kedua, kita perbanyak jaringan. Ketiga, kita ikhlas,” katanya.
Menurutnya, pengalaman menghadapi berbagai tantangan juga mengajarkan pentingnya bekerja secara cerdas.
“Karena dengan adanya keikhlasan, tentu itu semua yang mendapatkan kita bisa bagaimana kesuksesan kita. Dan selalu kita kerja dengan cerdas,” jelasnya.
Perjalanan dari buruh bangunan, tukang dan mandor hingga menjadi pengembang membuat Badris melihat pengalaman lapangan sebagai bagian penting dalam membangun bisnis properti.
Bukan hanya tentang membangun rumah, tetapi juga tentang membaca kondisi pasar, membangun jaringan dan mencari jalan keluar ketika bisnis menghadapi persoalan. (*)

