
MAKASSAR – Tangis haru dan senyum lega mewarnai wajah warga Kepulauan Sangkarrang saat kapal “Pete-pete Laut” untuk pertama kalinya bersandar di dermaga pulau mereka, Jumat (12/6/2026). Program transportasi laut gratis ini bukan sekadar janji kampanye, melainkan hasil perjuangan panjang Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang membawa aspirasi warga pulau hingga ke meja Direktorat Jenderal Perhubungan Laut di Jakarta.
Kini, KM Banawa Nusantara 27—begitu nama resmi kapal tersebut—telah resmi beroperasi. Warga yang biasa terisolasi karena minimnya akses antarpulau, akhirnya bisa bernapas lega.
“Masya Allah, Ini Sangat Membantu!”
Rosdiana, seorang warga Pulau Barrang Lompo, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Matanya berbinar saat menceritakan bagaimana selama bertahun-tahun ia dan tetangganya kesulitan menyeberang ke pulau tetangga seperti Bone Tambu, Lumu-Lumu, hingga Langkai.
“Masya Allah, ini sangat membantu sekali untuk masyarakat, khususnya antar pulau di Sangkarrang. Apalagi gratis. Kami sangat berterima kasih kepada Pak Wali Kota,” ujar Rosdiana dengan suara bergetar.
Menurutnya, selama ini kapal penumpang reguler hanya melayani rute dari pulau ke Kota Makassar dan sebaliknya. Tidak ada transportasi khusus yang menghubungkan antarpulau dalam satu kecamatan.
“Kalau ke Makassar memang ada setiap hari. Tapi ke pulau tetangga di Sangkarrang sangat terbatas. Itu yang membuat masyarakat kesulitan,” jelasnya.
Hasil Perjuangan ke Jakarta Oktober 2025
Di balik hadirnya Pete-pete Laut, ada cerita perjuangan yang tidak banyak diketahui publik. Pada Oktober 2025, Munafri—yang akrab disapa Appi—terbang ke Jakarta dan langsung mendatangi Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI.
Ia membawa aspirasi warga Kepulauan Sangkarrang yang bertahun-tahun hidup dengan keterbatasan mobilitas. Dalam pertemuan itu, ia meminta bantuan kapal penghubung dan peningkatan fasilitas dermaga.
Permintaan itu tidak sia-sia. Kurang dari setahun kemudian, KM Banawa Nusantara 27 resmi beroperasi melayani rute antarpulau di wilayah Sangkarrang.
Prioritas untuk Guru, Nakes, Pelajar, dan Umum
Pete-pete Laut diprioritaskan untuk mendukung mobilitas tenaga pendidik, pelajar, tenaga kesehatan, serta masyarakat umum yang membutuhkan akses antarpulau. Dengan kapasitas sekitar 25–30 penumpang, kapal ini beroperasi satu kali seminggu.
Rute perjalanan dimulai dari Pulau Barrang Lompo pukul 07.00 Wita, menuju Pulau Bone Tambu, Pulau Lumu-Lumu, Pulau Langkai, hingga pulau terluar sebelum kembali ke Barrang Lompo.
Bukan Hanya Transportasi, tapi Juga Silaturahmi dan Ekonomi
Rosdiana menuturkan, kehadiran Pete-pete Laut tidak hanya memudahkan urusan administrasi dan kesehatan, tetapi juga membuka kembali tali silaturahmi yang sempat putus.
“Kami jadi lebih mudah bersilaturahmi dengan keluarga di pulau lain, mengurus keperluan masyarakat, maupun berbagai aktivitas lainnya. Kapal ini sangat membantu warga Kepulauan Sangkarrang,” katanya.
Ia pun berharap program ini terus berlanjut. Meskipun suatu saat ada kebijakan tarif, Rosdiana yakin masyarakat akan tetap menerima karena manfaatnya sudah begitu terasa.
“Kami tentu berharap gratis selamanya. Tapi kalau suatu saat ada tarif, masyarakat mungkin tetap akan menerima karena kebutuhan ini memang sangat penting,” harapnya.
Bukti Nyata Pemerataan Pembangunan
Dengan bersandarnya Pete-pete Laut di dermaga pulau, Munafri Arifuddin telah membuktikan bahwa pemerintahannya tidak hanya sibuk dengan gedung-gedung pencakar langit di pusat kota. Perhatian yang sama, bahkan ekstra, diberikan kepada warga di garis terdepan—pulau-pulau terluar Makassar.
Warga Sangkarrang pun kini bisa tersenyum. Laut yang dulu menjadi pemisah, kini telah menjadi penghubung. (*)



