
JAKARTA — Fase perimenopause sering kali menjadi momen penuh tantangan bagi perempuan, baik secara fisik maupun emosional. Menjawab kekhawatiran tersebut, Primaya Hospital menggelar seminar edukatif yang menghadirkan deretan pakar medis dan pemimpin perempuan untuk mengupas tuntas strategi menghadapi perimenopause secara holistik, sehat, dan tetap produktif.
Perubahan Fisik: Kolagen Menurun hingga Kesehatan Dasar Panggul
Memasuki masa perimenopause dan menopause, perubahan hormon estrogen membawa dampak signifikan pada organ tubuh, termasuk kulit dan rambut.
Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed., Sp.KKLP., Subsp. FOMC menjelaskan bahwa penurunan estrogen mengakibatkan berkurangnya produksi kolagen dan elastin, sehingga kulit menjadi lebih tipis, kering, dan berkurang elastisitasnya.
“Sekitar 30% kolagen kulit dapat hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause, kemudian terus berkurang sekitar 2% setiap tahunnya. Rambut juga dapat menipis akibat memendeknya fase pertumbuhan. Namun, kondisi ini dapat dikelola dengan perawatan yang tepat,” ungkap Dr. Komang.
Tidak hanya masalah estetika kulit, penurunan fungsi fisik juga menyasar otot dan tulang. dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR mengungkapkan data bahwa sekitar 72,9% perempuan menopause mengalami gangguan dasar panggul yang memengaruhi kualitas hidup.
Untuk mengatasinya, dr. Gustiawaty menekankan pentingnya aktivitas fisik rutin dan bertahap guna menjaga kekuatan otot, kesehatan tulang, serta meredakan gejala perimenopause.
Kesehatan Mental: Memahami Mood Swings dan Metode STOP
Selain perubahan fisik, tantangan emosional menjadi beban tersendiri bagi perempuan perimenopause yang kerap bertepatan dengan tingginya tekanan hidup—mulai dari tuntutan karir, mengasuh anak yang mulai dewasa, hingga merawat orang tua yang menua.
Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc., menegaskan bahwa perimenopause adalah fase biologis normal, bukan sebuah penyakit. Perubahan suasana hati (mood swings) yang terjadi merupakan respons alami tubuh terhadap fluktuasi hormon.
Untuk mengelola stres harian, dr. Leonita membagikan teknik sederhana bernama Metode STOP:
- S (Stop): Berhenti sejenak dari aktivitas saat merasa tertekan.
- T (Tarik napas): Tarik napas secara perlahan dan dalam.
- O (Observasi): Amati emosi dan sensasi tubuh yang sedang dirasakan.
- P (Pilih respons): Pilih tindakan atau respons yang lebih tenang dan membantu.
Jika gejala emosional mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, ia mengimbau agar perempuan tidak ragu melakukan konsultasi dengan tenaga medis profesional.
Tetap Produktif dan Merawat Diri secara Holistik
Menutup sesi diskusi, dukungan moral dan sudut pandang positif disampaikan oleh para pemimpin perempuan. Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli, mengajak perempuan untuk tidak menjadikan perimenopause sebagai penghalang dalam berkarya.
“Perimenopause bukan akhir dari produktivitas. Ketika kita memahami bahwa perubahan fokus atau brain fog merupakan proses biologis yang bisa dikelola, kita berhenti menyalahkan diri sendiri. Dengan tubuh sehat, pikiran jernih, serta dukungan lingkungan, perempuan tetap dapat memimpin dan berkembang,” tegas Lisa.
Senada dengan hal tersebut, Wulan Maharani Tilaar, President Director Martha Tilaar SPA, mengajak setiap perempuan untuk memandang fase perimenopause sebagai momen terbaik untuk merawat diri secara holistik agar tetap bahagia dan percaya diri.
melalui inisiatif ini, Primaya Hospital berharap dapat mematahkan stigma tabu seputar perimenopause, mendorong deteksi dini, serta memberikan pendampingan medis yang tepat bagi perempuan Indonesia di setiap fase kehidupannya. (*)





