Makassar, – Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menyaksikan langsung sebuah terobosan besar dalam dunia medis Indonesia Timur. Dalam kunjungannya ke RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Selasa (2/9/2025), Menkes bertemu dengan Benny (68), pasien pertama yang berhasil menjalani prosedur Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI), sebuah operasi jantung minimal invasif yang canggih.
Keberhasilan ini merupakan buah kolaborasi antara Tim Dokter RSUP Wahidin dan Tim Kesehatan King Salman Humanitarian Aid and Relief (KSrelief) Arab Saudi. Hingga saat ini, kolaborasi ini telah melakukan 34 tindakan operasi dan kateterisasi pada pasien anak dan dewasa.
- Pelantikan Pengurus IKA FSIKP UMI 2026-2031 Jadi Momentum Penguatan Jaringan Alumni dan Kontribusi untuk Almamater
- Muhsin Palinrungi, Direktur Ekrap IKN Pimpin IKA FSIKP UMI
- Menenun Karya di Era Algoritma: Revitalisasi Peran Alumni Sastra, Komunikasi, dan Ilmu Pendidikan di Tengah Krisis Global
- LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan 3,50%
- Warga Mengeluh, Satgas Rappocini Langsung Turun Langsung Bersihkan Kawasan Bawah Tol Pettarani
Dalam kunjungannya, Menkes Budi menekankan bahwa kehadiran teknologi TAVI di Makassar adalah sebuah lompatan besar.
“Saya senang melihat hasil kolaborasi dari Dokter Arab Saudi dengan RS Wahidin Sudirohusodo Makassar dalam melaksanakan prosedur TAVI pertama di Indonesia Timur,” ujarnya.
Mengenal Benny dan Revolusi Pengobatannya
Sebelumnya, Benny menderita malfungsi katup aorta. Kondisi ini, ditambah usia lanjut dan hipertensi menahun, membuat anatomi jantungnya membesar dan aliran darah merusak katup aorta.
“Biasanya kasus seperti ini, wajib dilakukan operasi bedah jantung terbuka,” jelas Menkes.

Metode konvensional itu dikenal dengan risiko tinggi: durasi operasi lama, bekas luka besar, nyeri berkepanjangan, dan memerlukan fisioterapi intensif pasca operasi. Yang paling menakutkan, angka mortalitasnya mencapai 30-40%.
Nasib Benny pun berubah. Melalui kolaborasi ini, ia menjalani prosedur TAVI yang revolusioner.
Hanya dalam durasi 15 menit, dokter memasukkan kateter melalui pembuluh darah di paha menuju jantung, lalu memasang katup buatan yang dikembangkan di dalamnya.
Prosedur ini hampir tanpa rasa sakit, bekas luka minimal, dan pemulihannya jauh lebih cepat.
Yang terpenting, angka risiko kematiannya anjlok drastis menjadi kurang dari 1%. Artinya, nyawa Benny dan pasien serupa di masa depan terselamatkan dengan cara yang lebih aman dan manusiawi.
Dampak Jangka Panjang: Tak Perlu Lagi ke Jakarta
Menkes Budi berterima kasih kepada tim KSrelief yang tidak hanya membantu operasi, tetapi juga bersedia berbagi ilmu dan pengalaman dengan dokter lokal.
“Masyarakat di sini tak perlu dirujuk ke Jakarta,” tegasnya.
Layanan kesehatan jantung terbaik kini bisa diakses langsung di Makassar.
Harapan ini diamini oleh Direktur Utama RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Syafri Kamsul Arif.
Ia berharap kolaborasi ini bisa menjadi program berkelanjutan, bukan hanya sesaat. Dengan demikian, kualitas layanan kesehatan jantung di seluruh kawasan Sulawesi dan Indonesia Timur dapat terangkat secara signifikan.
Keberhasilan prosedur TAVI pertama untuk Benny bukan sekadar angka statistik. Ia adalah bukti nyata bahwa inovasi teknologi dan kolaborasi global mampu membawa harapan hidup baru, mengubah jalur pengobatan yang berbelit, dan mewujudkan pemerataan layanan kesehatan terdepan hingga ke pelosok Indonesia. (*)



