
MAKASSAR — Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali dipercaya menjadi pusat penguatan kebijakan pendidikan tinggi nasional.
Bertempat di Auditorium Al-Jibra UMI, Selasa (21/7/2026), UMI sukses menggelar Sosialisasi Arah Penguatan Kebijakan Riset dan Pengembangan Perguruan Tinggi.
Agenda strategis yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara ini dihadiri oleh 112 perguruan tinggi dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
Kemdiktisaintek Rombak Paradigm Riset: Sasar Wilayah 3T
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, M. Fauzan Adziman, menegaskan bahwa riset perguruan tinggi tidak boleh lagi menjadi “menara gading” yang sekadar berakhir di laporan akademis.
Ke depan, pendanaan dan arah kebijakan riset nasional difokuskan pada penyelesaian masalah riil masyarakat, terutama di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
“Kami mendorong kampus-kampus besar seperti UMI untuk berkolaborasi dengan perguruan tinggi di daerah 3T. Pendanaan riset kini diarahkan pada model kolaboratif sehingga penelitian yang dihasilkan benar-benar mampu memberikan solusi atas persoalan masyarakat,” ujar Fauzan.
Isu Prioritas Riset Nasional:
- Penanganan stunting & adaptasi perubahan iklim.
- Hilirisasi dan pengembangan produk berbasis rumput laut.
- Ketahanan pangan daerah.
- Pengembangan ekosistem transportasi kereta api di Sulawesi.
Fauzan juga memperkenalkan Program Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat) sebagai skema unggulan untuk menjembatani kolaborasi kampus besar, perguruan tinggi daerah 3T, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Respon UMI & LLDIKTI IX: Kunci Utama Ada pada Sinergi
Wakil Rektor V UMI, Ir. Hj. Setyawati Yani, M.T., Ph.D., mengapresiasi penunjukan UMI sebagai tuan rumah. Ia menekankan pentingnya pergeseran fokus dari sekadar mengejar kuantitas publikasi ilmiah menuju riset aplikatif.
“Kolaborasi merupakan kunci. Penelitian tidak boleh berhenti pada laporan atau publikasi semata, tetapi harus menghasilkan inovasi yang dapat diimplementasikan dan memberikan dampak bagi pembangunan masyarakat,” tegas Setyawati.
Senada dengan hal tersebut, Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara, Prof. Andi Lukman, mengajak seluruh akademisi untuk memberikan solusi konkret atas permasalahan lokal yang mendesak, seperti pengelolaan sampah daerah.
Melalui forum ini, UMI kembali mempertegas posisinya sebagai pilar utama pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi yang berdampak nyata bagi kemajuan Sulawesi dan Indonesia. (*)




