MAKASSAR,— Pemerintah Kota Makassar, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus meningkatkan kesiapsiagaan dan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem yang diprediksi meningkat di wilayah Kota Makassar, baik di daratan maupun perairan laut.
Kepala BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli, menuturkan bahwa sebagai langkah antisipatif, BPBD Kota Makassar secara aktif melakukan patroli laut sekaligus menyampaikan imbauan dan peringatan dini kepada masyarakat terkait potensi cuaca ekstrem yang dapat membahayakan keselamatan.
“Kami lakukan juga patroli laut, siaga menyampaikan imbauan, khususnya bagi nelayan, pelaku wisata bahari, serta pengguna transportasi laut dan aktivitas wisata perairan. Dan petugas BPBD tetap siaga di pesisir,” jelas Muhammad Fadli, Minggu (28/12/2025).
Ia menyampaikan bahwa berdasarkan informasi cuaca terbaru, wilayah perairan selat Makassar berpotensi mengalami kondisi cuaca ekstrem yang cukup berisiko.
Potensi tersebut meliputi angin kencang dengan kecepatan hingga ±14 knot serta gelombang laut tinggi yang dapat mencapai ±3 meter.
- Kemendagri Setujui, Seleksi Direksi PDAM Makassar Berlanjut, 24 Peserta Siap Ikuti Tahap Wawancara
- Korban Geng Motor di Ablam Dirawat Gratis di RS Daya, Pemkot Makassar Tanggung Biaya
- Alumni FEB Unhas Luncurkan “Seruan Bulungan”: Ekonomi RI Kena Sindrom Stabilitas Semu, Terjebak Drifting Economy
- Munafri Buka Sipakracca MMA Sulsel, 100 Atlet Siap Bertarung Menuju Panggung Dunia
- Raih 47 Juara, Kafilah MTQ Makassar Diberi Bonus oleh Wali Kota Munafri
Lanjut dia, kondisi cuaca ini sangat berbahaya dan berpotensi mengancam keselamatan jiwa serta sarana pelayaran.
“Oleh karena itu, kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya nelayan, pelaku wisata bahari, dan pengguna jasa transportasi laut, untuk sementara waktu menghindari aktivitas di wilayah perairan,” imbuh Fadli.
BPBD Kota Makassar juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri untuk melaut maupun melakukan kegiatan wisata di perairan selama cuaca ekstrem berlangsung.
Selain itu, warga pesisir diminta untuk mengamankan perahu, kapal kecil, dan perlengkapan melaut lainnya agar terhindar dari kerusakan akibat gelombang tinggi dan angin kencang.
“Masyarakat diharapkan terus memantau informasi cuaca resmi dari instansi terkait serta mengikuti arahan petugas di lapangan demi keselamatan bersama,” tambahnya.
Sebagai bentuk kesiapan menghadapi kemungkinan situasi darurat, BPBD Kota Makassar telah menyiapkan dua unit perahu karet rescue standar BPBD yang siap digunakan untuk operasi penyelamatan dan evakuasi apabila dibutuhkan.
BPBD Kota Makassar juga membuka layanan darurat dan pengaduan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan atau ingin melaporkan kondisi darurat akibat cuaca ekstrem.
Layanan tersebut dapat diakses melalui nomor darurat 112, aplikasi Lontara+, serta layanan BPBD Kota Makassar di nomor 081551121112.
“Pemerintah Kota Makassar mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, mengutamakan keselamatan, serta bersama-sama mengantisipasi dampak cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi,” pungkasnya.
Diketahui, berdasarkan rilis resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 12 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan berpotensi mengalami curah hujan tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Daerah tersebut meliputi Kabupaten Bantaeng, Barru, Bone, Bulukumba, Gowa, Jeneponto, Maros, Pangkep, Sinjai, Soppeng, Takalar, serta Kota Makassar.
Dari wilayah yang diprediksi terdampak, sebagian telah masuk dalam kategori waspada, siaga, hingga awas, sehingga memerlukan perhatian dan langkah antisipasi yang serius.
Kondisi cuaca ekstrem ini dinilai sangat rawan memicu terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan tanah longsor, terutama di daerah dengan topografi perbukitan dan kawasan aliran sungai.
Oleh karena itu, sejumlah daerah yang masuk status siaga patut mendapatkan kewaspadaan lebih, baik dari pemerintah daerah maupun masyarakat.
Kesiapsiagaan dini, koordinasi lintas sektor, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan akibat cuaca ekstrem tersebut.



