Tim Dinkes Sulsel melaksanakan pengibatan di lokasi bencana gempa , Mangarai, NTT, Kamis (3/9/2026)
MANGGARAI — Tim Kesehatan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) menerjunkan personel medis dalam misi kemanusiaan di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Kamis (3/9/2026), tim berhasil memberikan penanganan medis kepada 315 warga terdampak gempa.

Misi tanggap darurat ini dibentuk sebagai respons cepat atas bencana gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores pada pertengahan Agustus lalu. Mengingat guncangan susulan masih terus terjadi, Pemprov NTT bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memperpanjang masa tanggap darurat gempa hingga 12 September 2026.
Misi kemanusiaan yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, dr. Evi Mustikawati Arifin, ini bergerak berdasarkan skema koordinasi bersama Health Emergency Operation Center (HEOC) Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai.
Untuk memastikan bantuan medis tepat sasaran, tim membagi alokasi tenaga kesehatan ke dalam dua posko utama:
Rumah Sakit Lapangan: Difokuskan untuk memperkuat tindakan operatif bedah darurat serta pelayanan spesialistik rujukan.
Wilayah Puskesmas Ketang (Desa Nati): Difokuskan untuk memberikan pelayanan medis bergerak (mobile clinic) guna menjangkau masyarakat langsung di tingkat desa.
“Pembagian tim dilakukan untuk menyesuaikan dukungan tenaga kesehatan dengan kondisi di lapangan. Melalui pola ini, penanganan medis tidak hanya menumpuk di fasilitas utama, tetapi juga menjangkau warga di pelosok desa,” terang dr. Evi Mustikawati Arifin.
Di Rumah Sakit Lapangan, tim medis Sulsel menerjunkan empat dokter spesialis, meliputi spesialis penyakit dalam, paru, anak, dan bedah. Tim ini turut didukung oleh perawat terlatih, apoteker, penata anestesi, serta tenaga medis pendukung lainnya.
Sebanyak 209 pasien berhasil mendapatkan penanganan spesialistik secara intensif. Selain pemeriksaan rutin, tim dokter spesialis sukses melakukan serangkaian tindakan operatif darurat, antara lain:
Tindakan Kebidanan: Tiga prosedur operasi sesar (C-section) dan satu tindakan kuretase.
Tindakan Bedah Trauma: Penanganan kasus patah tulang lengan atas (fraktur humerus), perawatan trauma dada, serta penjahitan luka akut akibat reruntuhan bangunan.
Sementara itu, tim mobile clinic yang terdiri dari satu dokter dan dua perawat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan Puskesmas Ketang untuk menyisir pemukiman di Desa Nati. Layanan darurat yang berlangsung mulai pukul 11.00 hingga 17.56 WITA ini berhasil menangani 106 pasien, termasuk kelompok lanjut usia (lansia).
Berdasarkan hasil diagnosis medis di lapangan, beberapa jenis penyakit yang paling banyak dijumpai pada pengungsi meliputi:
- Nyeri Pinggang (Low Back Pain): 29 kasus
- Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): 20 kasus
- Nyeri Otot (Myalgia): 18 kasus
- Hipertensi: 11 kasus
- Gangguan Lambung (Dispepsia): 10 kasus.
Selain itu, tim menemukan beberapa kasus kronis yang membutuhkan rujukan lanjutan, seperti dugaan pembesaran prostat (suspek BPH), gejala stroke, suspek bronkopneumonia, hingga indikasi batu saluran kemih. Pasien dengan kondisi berat tersebut langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai.





