H Badris Salam memakaikan jaket tim HBS ke Raymond Arfandy, RAbu (9/9/2026)
MAKASSAR – Sekretaris Jenderal DPP Real Estate Indonesia (REI), Raymond Arfandi yang juga mantan Ketua REI Sulsel, membagikan rekam jejak perjalanan kepemimpinannya saat menghadiri Deklarasi HBS for REI Sulsel 2026-2029 di Hotel Calro, Rabu (9/9/2026). Â
Deklarasi ini sebagai bentuk statemen kesiapan awal Haji Badris Salam untuk turut berkontestasi di Musyawarah Daerah (Musda) DPD REI Sulawesi Selatan mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, mantan Ketua DPD REI Sulsel ini menegaskan, memimpin organisasi pengembang sebesar REI bukanlah sekadar ajang euforia politik, melainkan tugas berat yang membutuhkan gagasan serta konsep yang matang.
Raymond mengenang momen 16 tahun silam ketika ia pertama kali menghadap tokoh senior REI Sulsel, Idris Manggabarani, untuk meminta restu mencalonkan diri. Kala itu, ia diuji dengan tiga pertanyaan mendasar: alasan ingin menjadi ketua, program kerja yang akan dilakukan, serta strategi konkret untuk mewujudkan visi tersebut.
“Menjadi Ketua REI itu bukan semata-mata euforia. Kita harus punya konsep dan tujuan yang jelas mengapa ingin membesarkan organisasi ini. REI sudah berusia sekitar 56 tahun sejak didirikan Pak Ciputra pada tahun 1970, memiliki 38 DPD se-Indonesia, dan jaringannya luar biasa. Tugas ini tidak gampang,” kenang Raymond Arfandi.
Komitmen dan Konsistensi Sebagai Kunci Kepemimpinan
Menghadapi kontestasi pimpinan DPD REI Sulsel periode 2026–2029, Raymond menilai peluang maju yang dimiliki para figur—termasuk H. Badris Salam—barulah sebuah langkah awal. Ujian sebenarnya terletak pada komitmen dan konsistensi sang pimpinan selama tiga tahun masa jabatan untuk menjaga marwah serta soliditas internal organisasi.
Menurutnya, DPD REI Sulsel selama ini dikenal sebagai salah satu kepengurusan daerah paling solid di Indonesia. Bahkan, daya tawar dan kontribusi strategis REI di tingkat nasional sangat diperhitungkan oleh pemerintah pusat, yang terbukti dari hadirnya jajaran menteri kabinet dalam berbagai forum nasional yang diselenggarakan REI.
Hadir dalam kapasitasnya sebagai mantan Ketua REI Sulsel dan juga anggota REI Sulsel, Raymond menegaskan dukungannya terhadap proses regenerasi yang bermartabat. Ia secara khusus meminta seluruh kader untuk menjaga iklim persatuan dan menolak segala bentuk praktik saling menjatuhkan antar-sesama pengembang.
“Kalau ada calon lain, mohon diterima dengan baik. Kita tidak boleh saling menjegal atau menyerang. Tampilkan kelebihan masing-masing demi membesarkan organisasi. Hanya komitmen dan konsistensi yang akan menjaga marwah REI Sulsel untuk terus melangkah maju,” imbaunya menutup orasi.
Melalui bimbingan para senior dan keterlibatan aktif pengurus daerah, Raymond optimistis Musda REI Sulsel mendatang akan melahirkan kepemimpinan yang amanah, responsif, serta mampu membawa industri properti Sulawesi Selatan ke tingkat yang lebih tinggi. (*)



