MAKASSAR — Makassar Great Sale 2026 menargetkan transaksi sebesar Rp52 miliar hingga Rp55 miliar. Target tersebut meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang tercatat mencapai Rp48 miliar.
Ketua Indonesian Marketingl Association (IMA), Ricky Thedores, mengatakan target tersebut didukung perluasan masa promosi Makassar Great Sale dari tiga pekan menjadi satu bulan.
Dalam sambutannya, Ricky menyampaikan, kegiatan Makassar Great Sale kembali diaktifkan pada 2021 setelah sempat terhenti akibat pandemi Covid-19. Sejak kembali digelar, program tersebut menunjukkan peningkatan transaksi dari tahun ke tahun.
Pada 2024, kegiatan yang melibatkan enam hingga tujuh pusat perbelanjaan itu mencatat transaksi sekitar Rp40 miliar selama tiga pekan. Pada 2025, nilai transaksi meningkat menjadi Rp48 miliar.
“Tahun ini kita menargetkan minimal bisa mencapai Rp52 sampai Rp55 miliar. Masa promosinya kita perpanjang dari tiga minggu menjadi satu bulan,” kata Ricky.
Menurut dia, Makassar Great Sale menjadi salah satu upaya menggerakkan roda ekonomi melalui kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha. Keterlibatan pusat perbelanjaan, pelaku usaha, dan berbagai pihak dinilai penting untuk menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Ricky juga berharap Makassar Great Sale dapat menjadi agenda rutin Kota Makassar. Melalui forum diskusi yang digelar dalam rangkaian kegiatan, pihaknya ingin menghimpun masukan dan rekomendasi untuk pengembangan program pada tahun-tahun berikutnya.
Makassar Didorong Jadi Pintu Gerbang Pariwisata Indonesia Timur
Sementara itu, Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, menilai Makassar memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pintu gerbang pariwisata Indonesia Timur.
Potensi tersebut ditopang kekuatan kuliner, budaya, sejarah, serta konektivitas yang dimiliki Kota Makassar.
Ia menyebut terdapat sejumlah hal yang perlu diperkuat agar Makassar tidak hanya menjadi kota transit, tetapi juga menjadi destinasi yang mendorong wisatawan menjelajahi berbagai wilayah di Indonesia Timur.
Pertama, penguatan konektivitas dan integrasi produk wisata. Kedua, pengembangan potensi ekonomi lokal, termasuk kuliner, budaya, sport tourism, dan sektor kreatif yang dapat dikemas menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang bagi UMKM.
Ketiga, peningkatan kualitas destinasi dan pelayanan kepada wisatawan.
“Makassar harus menjadi kota yang bersih, aman, dan nyaman,” ujarnya.
Ni Luh juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong kemajuan pariwisata. Ia berharap forum tersebut menghasilkan gagasan dan rekomendasi untuk memperkuat posisi Makassar sebagai pintu gerbang pariwisata Indonesia Timur sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pariwisata Beri Dampak ke Berbagai Sektor
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, A. Hendra Hakamuddin, juga menekankan pentingnya menjadikan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah.
Menurutnya, aktivitas pariwisata tidak hanya berkaitan dengan kunjungan wisatawan, tetapi turut menggerakkan sektor lain seperti perhotelan, restoran, transportasi, pusat perbelanjaan, UMKM, dan industri kreatif.
Karena itu, pengembangan pariwisata Makassar perlu diarahkan pada penciptaan pengalaman wisata yang lebih beragam, mulai dari wisata kuliner, sejarah, budaya, hingga kegiatan berbasis kreativitas masyarakat.
Ia berharap rangkaian Makassar Tourism Forum dan Makassar Great Sale dapat menjadi momentum untuk memperkuat sektor pariwisata agar semakin berkualitas, kompetitif, dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Melalui kolaborasi pemerintah, asosiasi, pelaku usaha, dan komunitas, Makassar diharapkan semakin mampu memperkuat daya tariknya sebagai destinasi wisata sekaligus pusat aktivitas ekonomi di kawasan Indonesia Timur. (*)


Komentar