Nasional pendidikan

KGSB dan Universitas Brawijaya Ajak Guru dan Orang Tua Bangun Growth Mindset pada Anak

KGSB
Akademisi Departemen Psikologi, FISIP, Universitas Brawijaya Malang Yuliezar Perwira Dara, S.Psi, M.Psi, Psikolog, saat menyampaikan materi dalam Webinar KGSB “Berani Mencoba, Berani Bertumbuh!”, Sabtu (7/11/2026).

JAKARTA — Ketakutan terhadap kegagalan dapat menghambat anak dalam mengembangkan potensi diri. Kondisi ini mendorong Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) berkolaborasi dengan Departemen Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) menggelar webinar bertajuk Berani Mencoba, Berani Bertumbuh! pada Sabtu (7/11/2026).

Webinar yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut mengajak guru dan orang tua memahami pentingnya membangun growth mindset atau pola pikir bertumbuh pada anak.Guru, Anak

Kegiatan ini menghadirkan akademisi Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya, Yuliezar Perwira Dara, S.Psi., M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber. Diskusi dimoderatori Marlien Vj., Fasilitator Nasional BK 2025 dari SMK Negeri 2 Kepahiang sekaligus anggota KGSB.

Ketua KGSB, Ardyles Faesilio, mengatakan ketakutan gagal tidak hanya dialami anak, tetapi juga guru dan orang tua ketika menghadapi proses belajar maupun pengalaman baru.

Pada siswa, kondisi tersebut dapat terlihat dari kecenderungan menghindari tugas karena takut salah, memilih tantangan yang mudah agar tetap terlihat pintar, hingga menganggap kegagalan sebagai bukti ketidakmampuan.

Putra Sulsel Muhammad Luthfi Lolos 28 Besar Kandidat Komisioner KND

Menurutnya, membangun keberanian anak tidak cukup hanya dengan memberikan motivasi. Diperlukan lingkungan belajar yang aman secara psikologis, dukungan orang-orang terdekat, serta umpan balik yang membantu anak memahami kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.

“Kami berharap peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh dalam keseharian, antara lain dengan mengubah cara merespons kesalahan anak. Bukan langsung menyalahkan, melainkan membantu mereka memahami apa yang perlu diperbaiki dan strategi apa yang dapat dicoba selanjutnya. Hal ini sejalan dengan semangat KGSB, yakni belajar bersama, saling menguatkan, dan berbagi praktik baik,” ujar Faesilio.

Memahami Penyebab Anak Takut Gagal

Dalam pemaparannya, Yuliezar menjelaskan bahwa ketakutan terhadap kegagalan atau fear of failure memiliki akar psikologis yang lebih kompleks daripada sekadar kurangnya kemauan belajar.

Mengacu pada konsep Conroy (2001), terdapat lima sumber kekhawatiran yang dapat memicu ketakutan gagal, yaitu rasa malu atau dipermalukan, perasaan tidak mampu, kekhawatiran terhadap masa depan, kehilangan penerimaan orang lain, serta takut mengecewakan orang lain.

Yuliezar juga mengidentifikasi tiga pola respons siswa ketika menghadapi tantangan. Pertama, Si Penghindar, yakni anak yang menghindari tugas untuk melindungi diri dari rasa malu. Kedua, Si Pencari Aman, yang cenderung memilih tugas mudah agar tetap terlihat mampu. Ketiga, Si Pesimis, yang menganggap kegagalan sebagai bagian dari identitas dirinya.

Pemerintah Buka Rekrutmen CASN November 2026, Calon Pelamar Diminta Bersiap

Ketakutan tersebut dapat membentuk siklus penghindaran atau The Downward Spiral. Ketika anak menganggap tugas atau ujian sebagai ancaman, mereka dapat menafsirkannya sebagai bukti ketidakmampuan. Kecemasan dan rasa malu kemudian mendorong perilaku menghindar atau menunda pekerjaan.

Akibatnya, kesempatan anak untuk berlatih dan merasakan keberhasilan menjadi semakin terbatas.

Karena itu, guru dan orang tua perlu memahami akar perilaku tersebut sebelum memberikan penilaian. Anak yang menghindari tugas tidak serta-merta dapat dianggap malas atau tidak mampu.

Growth Mindset Bantu Anak Memaknai Kesalahan

Salah satu pendekatan yang dibahas dalam webinar adalah growth mindset, yaitu pola pikir yang memandang kemampuan dapat berkembang melalui latihan, strategi, dan umpan balik.

Pendekatan ini berbeda dengan fixed mindset yang cenderung memaknai kegagalan sebagai bukti ketidakmampuan. Melalui growth mindset, anak didorong untuk melihat kegagalan sebagai kesempatan memperbaiki strategi.

Gubernur Zainal Ajak Pelajar Kaltara Manfaatkan Peluang Masuk SMA Unggul Garuda

Perubahan cara pandang tersebut dapat dimulai dengan mengubah pernyataan “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa, strategi apa yang perlu saya ubah?”

Yuliezar menekankan bahwa membangun pola pikir bertumbuh tidak cukup hanya melalui kalimat motivasi. Diperlukan lingkungan pendukung yang melibatkan keyakinan diri siswa, hubungan dengan orang-orang terdekat, serta budaya sekolah.

Penguatan dapat dilakukan melalui pengalaman keberhasilan secara bertahap (mastery experience), refleksi terhadap kegagalan, serta pemberian pujian yang berfokus pada usaha dan strategi, bukan semata-mata hasil akhir.

Sekolah juga perlu menyediakan kesempatan belajar yang aman dan dukungan bertahap atau scaffolding sesuai kebutuhan siswa.

Guru dan Orang Tua Perlu Menciptakan Ruang Aman

Dalam webinar tersebut, Yuliezar turut mengangkat konsep Unconditional Positive Regard dari Carl Rogers (1957), yakni penerimaan positif tanpa syarat.

Dalam konteks pendidikan, anak perlu memahami bahwa dirinya tetap berharga meskipun melakukan kesalahan. Guru dan orang tua tetap dapat memberikan koreksi, tetapi tanpa merendahkan atau memberikan label negatif terhadap kemampuan anak.

Umpan balik sebaiknya diarahkan pada bagian yang perlu diperbaiki dan strategi yang dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan.

Yuliezar juga memaparkan empat prinsip desain kelas yang mendukung growth mindset. Pertama, memberikan tantangan secara bertahap. Kedua, memperlakukan kesalahan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi.

Ketiga, menggunakan kekuatan kata “belum” untuk menumbuhkan keyakinan bahwa kemampuan masih dapat dikembangkan. Keempat, menghargai kemajuan individual tanpa membandingkan anak dengan teman sebayanya.

Salah satu contoh yang dibahas adalah siswa yang merobek lembar tugas karena frustrasi setelah jawabannya dikoreksi di depan kelas.

Dalam situasi tersebut, guru dapat merespons dengan mengakui usaha siswa, menanyakan bagian yang belum dipahami, kemudian membantunya menemukan strategi baru. Pendekatan ini diharapkan membuat anak merasa didukung, bukan dipermalukan.

Melalui webinar tersebut, KGSB dan Departemen Psikologi Universitas Brawijaya mengajak guru dan orang tua membangun lingkungan belajar yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mendukung keberanian anak untuk mencoba dan mengembangkan potensinya.

“Dalam membangun growth mindset, guru dan orang tua perlu memberikan apresiasi terhadap usaha dan strategi yang dilakukan anak, bukan hanya berfokus pada hasil akhir. Anak juga perlu mendapatkan ruang yang aman untuk melakukan kesalahan, berefleksi, dan mencoba kembali tanpa takut mendapatkan penilaian negatif,” pungkas Yuliezar. (*)

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *