
MAKASSAR — Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Makassar unjuk gigi dengan memperkenalkan keunggulan aplikasi Lontaran+ dihadapan rombongan Australia Awards Short Course: Governance and Public Policy Making for Subnational Governments, Rabu (5/8/2026).
Rombongan diterima di Makassar Virtual Economic Center (MARVEC), Gedung Makassar Government Center (MGC),
Sebanyak 27 peserta yang terdiri dari perwakilan Kementerian Dalam Negeri, Bappenas, Kementerian Keuangan, serta pejabat dari 12 provinsi di Indonesia hadir untuk mempelajari secara langsung praktik baik (best practice) transformasi digital dan tata kelola pemerintahan yang diterapkan Pemkot Makassar.
Kepala Dinas Kominfo Kota Makassar, Dr. Muhammad Roem, menyambut langsung rombongan dan memaparkan materi bertajuk “Digital Insight, Better Governance”.
“Kami merasa terhormat dipilih menjadi lokus kunjungan ini untuk berbagi pengalaman mengenai transformasi digital yang kami lakukan demi meningkatkan kualitas pelayanan publik serta kepercayaan masyarakat,” kata Roem.
Integrasi 358 Aplikasi ke Lontara+: Tingkat Penyelesaian Aduan Tembus 89,9 Persen
Dalam sesi pemaparan, Roem menjelaskan bahwa sebelum meluncurkan Makassar Super Apps Lontara+ pada 27 Juli 2025 lalu, Pemkot Makassar memiliki 358 aplikasi milik Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berjalan sendiri-sendiri. Hal tersebut memicu fragmentasi layanan publik dan menyulitkan evaluasi kepuasan warga.
Setelah seluruh layanan diintegrasikan ke dalam satu platform Lontara+, akses publik menjadi lebih cepat dan terukur.
”Hasilnya, jumlah aduan masyarakat meningkat hingga 418 persen dalam satu tahun dengan 88.015 pengguna aktif. Sepanjang Juli 2025 hingga Agustus 2026, dari 25.219 aduan yang masuk melalui Lontara+, sebanyak 22.663 aduan berhasil dituntaskan atau mencapai tingkat penyelesaian 89,9 persen,” beber Roem.
Survei evaluasi internal menunjukkan 92,5 persen pengguna menganggap Lontara+ mempermudah akses layanan, 87,5 persen mengapresiasi transparansi sistem, dan lebih dari 70 persen responden menilai respons penanganan aduan berlangsung sangat cepat.
Selain Lontara+, Diskominfo Makassar juga memperkenalkan Call Center 112 untuk kedaruratan 24 jam serta fungsi MARVEC sebagai pusat analisis data real-time kota—mulai dari pantauan CCTV lalu lintas, pelayanan pajak, hingga Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Apresiasi Australia Awards: Contoh Unggulan Kebijakan Berbasis Data
Pemaparan inovasi tersebut mendapat pujian dari Course Leader Australia Awards Short Course, Rachel Nolan. Ia menilai sistem yang dibangun Pemkot Makassar tidak hanya canggih secara teknis, melainkan berhasil membuktikan bahwa pemerintah hadir mendengar aspirasi warganya.
“Saya sangat terkesan dengan Pusat Pemerintahan Makassar yang baru serta kecanggihan sistem teknologinya dalam merespons keluhan warga. Sistem ini adalah contoh unggulan yang mampu menyediakan data berkualitas tinggi bagi para pengambil keputusan,” puji Rachel Nolan.
Rachel menambahkan, kemudahan warga dalam menyampaikan laporan—seperti menyertakan bukti foto hingga mendapatkan kepastian status penanganan—menjadi bukti kuat keandalan transformasi digital di Makassar sebelum para peserta melanjutkan lokakarya pra-studi ke Australia. (*)



