
MAKASSAR – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi), mengibaratkan Kota Makassar sebagai sebuah taman bunga indah yang kaya akan potensi ekonomi, budaya, dan pariwisata. Namun, keindahan tersebut dinilai belum sepenuhnya memancar optimal karena masih tertutup oleh berbagai persoalan perkotaan yang dianalogikan sebagai “ilalang liar”.
Latar analogi filosofis tersebut disampaikan Munafri saat menjadi pembicara utama dalam ajang bergengsi Makassar Marketing Festival (MMF) 2026 di Hotel Claro Makassar, Kamis (13/8/2026).
Di hadapan ratusan praktisi pemasaran, pelaku usaha, dan pengambil kebijakan, Appi menegaskan komitmennya untuk berperan sebagai “tukang kebun” yang siap membenahi dan mempercantik wajah Kota Daeng.
“Makassar ini adalah sebuah taman bunga yang ditumbuhi berbagai warna bunga. Namun, ada ilalang liar yang menutupi keindahannya. Dibutuhkan seorang tukang kebun yang mampu menata dan membersihkan semak belukar itu, dan peran itu akan saya jalankan selama memimpin Makassar lima tahun ke depan,” ujar Munafri Arifuddin.
Strategi Pembenahan Internal dan Konsep Impactful Government
Dalam kesempatan tersebut, Munafri mengungkapkan alasannya tidak terburu-buru melakukan promosi atau city branding skala besar ke luar. Pemkot Makassar memilih fokus melakukan pembenahan internal terlebih dahulu, seperti penataan tata ruang, infrastruktur dasar, hingga peningkatan kualitas hospitality.
Pendekatan ini mengusung konsep impactful government, yakni menghadirkan kebijakan yang dampaknya terasa langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Beberapa kebijakan taktis internal yang kini didorong secara masif meliputi:
- Pengelolaan Sampah Mandiri: Mewajibkan pemilahan sampah dari sumber (household) mengadopsi keberhasilan negara-negara maju.
- Alokasi Belanja Lokal 50%: Mengarahkan 50 persen belanja APBD Kota Makassar khusus untuk transaksi produk dan jasa dari pelaku UMKM lokal.
- Integrasi Layanan Digital Lontara Plus: Mengintegrasikan lebih dari 380 aplikasi pelayanan SKPD menjadi satu pintu layanan responsif bagi warga.
Event Sebagai Mesin Penggerak Ekonomi dan UMKM Local
Wali Kota Makassar menilai penyelenggaraan acara (event) berskala nasional dan internasional merupakan instrumen paling efektif untuk menggerakkan roda perekonomian lokal secara cepat.
Kehadiran ribuan pengunjung dari luar daerah terbukti mendongkrak angka okupansi hotel, menghidupkan sektor transportasi, serta memutar mata uang di pusat-pusat kuliner khas Makassar. Indikator Pertumbuhan KotaCapaian & Target Implementasi Pemkot Makassar Indeks Toleransi Kota BesarMelesat dari peringkat 40-an nasional hingga menembus Peringkat 9 se-Indonesia. Pemberdayaan PemudaPengoperasian 2 unit Makassar Creative Hub (MCH) secara gratis bagi anak muda. Ekosistem Bisnis LokalSinergi bersama Apple Academy, Netflix, hingga program fasilitasi permodalan UMKM.
Menuju ‘The Great of Makassar’ dan Kota Inklusif
Guna menjawab tantangan pengangguran terbuka di kawasan urban, Pemkot Makassar mengandalkan fasilitas Makassar Creative Hub (MCH) sebagai pusat pelatihan keterampilan cuma-cuma, mulai dari pemrograman (coding), barista, hingga industri seni kreatif.
Penguatan toleransi daerah yang kini berada di jajaran Top 9 Nasional turut menjadi modal sosial penting untuk meyakinkan investor dan wisatawan bahwa Makassar adalah kota yang aman, ramah, dan inklusif.
Melalui penataan internal yang solid, penguatan kuliner lokal, serta kolaborasi lintas sektor, Wali Kota Munafri optimis Makassar tidak hanya menjadi sekadar pintu gerbang Indonesia Timur, tetapi juga tumbuh menjadi metropolitan berskala global berjuluk “The Great of Makassar”. (*)



