KH Nasaruddin Umar
Sosok ini dikenal sebagai “Kiai para Presiden”. Prof Dr KH Nasaruddin Umar adalah kiai yang selalu dekat dengan istana. Mulai Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto, Joko Widodo hingga Prabowo. Demikian pula saat BJ Habibie menjabat presiden.
Saat Megawati menjabat presiden pun, dirinya dekat dengan sosok ini. Dia menjadi salah satu tokoh yang memberikan pandangan tentang posisi perempuan dalam kepemimpinan. Dia berpandangan semua orang berhak menjadi pemimpin bangsa ini, termasuk sosok perempuan.
Hal itu juga diakui Megawati pada peluncuran buku-buku Prof Dr KH Nasaruddin Umar pada 2021 lalu. Megawati bahkan secara spesifik menyebut Imam Besar Istiqlal ini adalah sosok yang berjasa bagi dirinya dan selalu membelanya ketika di-bully oleh orang banyak.
“Beliau selalu memberikan sebuah pembelaan, bahwa di negara kita ini sebagai warga tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki,” kata Mega yang dikutip wartawan www.liputan6.com.
Setelah masa jabatan Megawati berakhir, itu tak berarti keberadaan Nasaruddin di circle istana juga berakhir. Presiden RI kelima, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahkan mengangkat Nasaruddin Umar menjadi Wakil Menteri Agama pada periode 2011-2014.
“Saya waktu itu sudah enak di Amerika, tiba-tiba dipanggil Pak SBY, diminta pulang ke Indonesia,” kata Nasaruddin. Dia pun menerima panggilan itu dan mengabdi hingga akhir jabatan Presiden SBY.
“Di masa presiden Jokowi saya malah diminta jadi Imam Besar Istiqlal,” kata dia di hadapan ratusan dosen dan mahasiswa UIN saat menjadi pembicara pada Maulid di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) Oktober 2022.
Adaptif
Salah satu rahasia yang membuatnya bisa mencapai posisi seperti itu, tak lain dari kemampuannya untuk selalu beradaptasi dengan lingkungan dia berada. “Pintar-pintarlah jadi orang Jawa kalau di Jawa, pintarlah jadi orang Kalimantan di Kalimantan. Maka Insya Allah akan sukses,” ujarnya.
Hal itu katanya, akan menjadi jembatan kesuksesan bagi siapa saja. Selain itu tetap menjaga adab dalam bergaul.
Dididik di Pesantren
Nasaruddin banyak menghabiskan masa pendidikannya di bangku pesantren. Usai tamat SD, Nazaruddin kecil dikirim oleh orang tuanya belajar di Pesantren As-Sa’diyah. Setelah tamat Madrasah Aliyah dari Pesantren As-Sa’diyah (1976), ia melanjutkan studinya di Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Makassar. Ia memperoleh gelar Sarjana Lengkap (Drs) pada 1984.
Dengan gelar sarjana tersebut, Nasaruddin dipercaya menjabat Sekretaris Universitas al-Ghazali Ujungpandang (1984-1988). Setelah itu menempuh studi Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Gelar Magister (1992) dan Doktor (1998) berhasil ia raih dari perguruan tinggi tersebut.
Nasaruddin mulai mendapat perhatian saat mendirikan organisasi lintas agama pada tahun 1993. Lembaga kajian ini aktif menggelar dialog antarumat beragama untuk mendapatkan solusi demi persatuan dan kesatuan bangsa. Belakangan, lembaga tersebut meretas menjadi beberapa lembaga dengan maksud dan tujuan yang sama di beberapa daerah.
Menurut Nasaruddin, Indonesia adalah negara plural. Negeri ini memiliki masyarakat dengan agama dan etnis bermacam-macam. Jika tidak dihimpun bisa menjadi ancaman besar. Keutuhan bangsa akan terancam jika perpecahan tak diredam sejak dini.
Pengalaman mengunjungi banyak negara membuat Nasaruddin sampai pada sebuah kesimpulan. Kerukunan umat beragama di negeri ini adalah yang paling baik. Dunia pun mengakuinya.
“Jika ada letupan, sejatinya itu bukan persoalan agama. Mereka yang berkonflik hanya memakai baju agama,” ulasnya.
Kegemarannya membaca berbagai buku, membuat Nasaruddin begitu piawai melahirkan tulisan-tulisan bermutu. Karyanya dimuat di pelbagai media nasional. Hingga saat ini total sudah 28 buku yang telah ditulisnya. Namun, sebuah keinginan besar masih dalam tahap proses yang ingin segera dirampungkannya.
Nasaruddin yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Agama RI ini, ingin membuat Tafsir Alquran 30 juz. Berbeda dengan tafsir yang beredar di masyarakat selama ini, dia ingin membuat sebuah tafsir dengan perspektif budaya Indonesia.
Nasaruddin sadar, karya ini nantinya bukan tidak mungkin akan memantik kontroversi. Namun, dia selalu menganggap perbedaan itu sebagai rahmat. Baginya, orang Indonesia pun berhak memiliki tafsir Al-Qur’an, seperti halnya negara-negara lain.
Kiprah Nasaruddin tak berhenti di level nasional. Dia juga aktif di forum-forum internasional. Salah satunya anggota The UK-Indonesia Advisory Team, yang didirikan PM Inggris, Tony Blair dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2005-2008). Bersama sejumlah tokoh seperti Hasyim Muzadi, Marwah Daud Ibrahim, dan Din Syamsuddin, Nasaruddin kerap mengunjungi Inggris untuk mengamati kehidupan warga muslim di negeri tersebut.
Selain itu, Nasaruddin selama tiga tahun berturut-turut masuk dalam Forum Jordan, sebuah kelompok yang terdiri dari 500 tokoh muslim terkemuka dari seluruh belahan dunia. Kiprah di dunia internasional adalah bukti kapasitas dan kemampuan berpikirnya.
Setelah menjabat Wakil Menteri Agama, kesibukan Nasaruddin tak pernah berkurang. Jadwal on air di sejumlah stasiun televisi, menjadi rutinitasnya setiap pekan. Baginya, itu adalah bentuk pengabdian pada bangsa dan masyarakat dengan berbagi ilmu dan pengalaman yang dibutuhkan banyak orang.
Dengan nama besarnya, tawaran untuk mencoba dunia politik datang setiap saat. Namun, Nasaruddin tetap pada satu tekad, tak akan pernah menjamah dunia yang satu itu. Dia lebih nyaman berada di luar pusaran, bebas berinteraksi dengan partai politik mana pun.
Nasaruddin justru tak sabar untuk kembali ke kampung halamannya di Bone. Mengembangkan Pondok Pesantren Al Ikhlas miliknya, berkumpul bersama para santri yang kelak akan meneruskan keberhasilannya. Hingga saat ini, pondok miliknya sudah berkembang pesat, bahkan go international.
Biodata:
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.
Lahir: Bone, 23 Juni 1959
Istri : Dra Helmi Halimatul Udhma
Riwayat Pendidikan:
- Madrasah Aliyah di Pesantren As-Sa’diyah (1976)
- Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Makassar (1984).
- Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Magister (1992) dan Doktor (1998).
Sumber: Buku Tokoh Sulsel 2022-2024





