
MAKASSAR — Nama Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani punya tempat tersendiri dalam lembaran sejarah nusantara.
Keberadaan tokoh sulsel ini adalah perwujudan langka dari sosok ulama sufi sekaligus pejuang bergerilya yang tak pernah tunduk pada kolonialisme. Lebih dari tiga abad setelah wafatnya, obor perjuangan dan spiritualitasnya masih menyala terang—bahkan memancarkan cahayanya di dua belas ribu kilometer dari tanah kelahirannya, tepatnya di Cape Town, Afrika Selatan.
Bagaimana seorang putra asal Kerajaan Gowa bertransformasi dari pengembara pencari ilmu menjadi ancaman terbesar VOC, hingga akhirnya diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh dua negara berbeda? Berikut rekam jejak perjalanan hidupnya.
Dahaga Ilmu dan Pengembaraan Antar-Benua
Lahir di Moncongloe, Gowa pada 3 Juli 1626, Syekh Yusuf tumbuh di lingkungan bangsawan Kerajaan Gowa. Namun, kenyamanan istana tak menyurutkan niatnya untuk menuntut ilmu. Pada usia yang masih sangat muda, ia memutuskan merantau menyeberangi lautan.
Pengembaraan intelektualnya membawa Syekh Yusuf menyinggahi berbagai pusat peradaban Islam saat itu:
Aceh: Mempelajari tasawuf kepada Syekh Nuruddin Raniri.
Yaman, Mekkah, dan Madinah: Berguru pada ulama-ulama besar Dunia Arab dan memperdalam bermacam tarekat.
Damaskus (Suriah): Memperoleh gelar Tajul Khalwati (Mahkota Tarekat Khalwatiyah).
Kembali ke Nusantara pada pertengahan abad ke-17, ia tumbuh menjadi seorang sarjana muslim terpandang dengan kedalaman ilmu agama dan jaringan internasional yang luas.
Syech Yusuf Berada Garis Depan Melawan VOC di Banten
Sekembalinya ke Tanah Air, Makassar telah jatuh ke tangan VOC akibat Perjanjian Bongaya. Syekh Yusuf kemudian memilih menetap di Kesultanan Banten dan menjadi penasihat spiritual serta politik bagi Sultan Ageng Tirtayasa.
Ketika Perang Banten berkecamuk pada 1860-an, Syekh Yusuf tidak hanya mendekam di tempat ibadah. Ia memimpin pasukan bergerilya melawan tentara Belanda di hutan-hutan Jawa Barat. Keahlian taktik dan pengaruh keagamaannya yang sangat kuat membuat VOC kelimpungan.
VOC menyadari bahwa memadamkan perlawanan Banten tidak cukup dengan persenjataan, melainkan harus mengisolasi Syekh Yusuf dari para pengikutnya. Pada 1683, ia akhirnya ditangkap setelah ditipu melalui taktik penyanderaan keluarga.
Syech Yusuf Diasingkan: Dari Ceylon hingga Tanjung Harapan
Khawatir akan pengaruhnya yang terus memicu pemberontakan, Belanda memutuskan mengasingkan Syekh Yusuf jauh dari Pulau Jawa.
Ceylon (Sri Lanka, 1684): Di tempat pengasingan pertamanya, pengaruh Syekh Yusuf justru makin meluas. Para jamaah haji asal Nusantara yang singgah di Ceylon tetap menjadikan Syekh Yusuf sebagai rujukan spiritual. Ia bahkan menjalin komunikasi dengan raja-raja di Asia Tenggara dari balik pengasingan.
Cape Town (Afrika Selatan, 1693): Merasa Ceylon masih terlalu dekat, VOC memindahkannya ke Zandvliet (sekarang dinamai Macassar), Cape Town, menggunakan kapal Voetboog.
Di tanah Afrika yang asing, tentara kolonial berharap Syekh Yusuf akan meredup. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Syekh Yusuf membangun komunitas muslim pertama di Afrika Selatan, merangkul para budak dan pelarian, serta menanamkan benih toleransi dan ketahanan jiwa melawan penindasan.
Warisan Abadi Sang Pahlawan Dua Negara
Syekh Yusuf wafat di Cape Town pada 23 Mei 1699. Jenazahnya kelak dibawa kembali dan dimakamkan di Lakiung, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Penghormatan terhadap perjuangan dan konsistensi moralnya melampaui batas zaman dan geografi:
“Syekh Yusuf adalah salah satu putra Afrika terhebat, seorang pejuang kebebasan yang mengilhami perjuangan kami melawan Apartheid.”
— Nelson Mandela, Mantan Presiden Afrika Selatan
Atas jasa-jasanya yang melintasi benua, Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1995. LAlu Afrika Selatan menganugerahkan penghargaan setingkat pahlawan nasional, Order of the Companions of O.R. Tambo (Gold), pada tahun 2005.
Dakwah di Tanah Pengasingan
Sebagai seorang ulama besar abad ke-17 yang berguru hingga ke pusat peradaban Islam di Timur Tengah, Syekh Yusuf Al-Makassari membawa corak tasawuf yang amat khas. Ajaran spiritualnya tidak hanya menjadi pegangan hidup pribadi, tetapi juga bertindak sebagai perekat sosial dan alat perlawanan ideologis—terutama saat ia dibuang oleh VOC ke Cape Town, Afrika Selatan.
Ketika tiba di Cape Town pada tahun 1694 bersama 49 pengikutnya, Belanda menempatkannya di area terisolasi bernama Zandvliet (sebuah muara sungai yang jauh dari pemukiman utama VOC). Tujuan VOC adalah mematikan pengaruhnya. Namun, ajaran tasawuf Syekh Yusuf justru mengubah Zandvliet menjadi benteng spiritual dan sosial.
Syekh Yusuf menggunakan kompleks tempat tinggalnya untuk menampung para budak belian, pelarian buruh kasar, serta buangan politik asal Asia Tenggara dan India.
Di tempat ini, ia tidak hanya memberi makan fisik mereka, tetapi juga memerdekakan jiwa mereka lewat ajaran Islam.
Bagi para budak yang tertindas oleh sistem kolonial Belanda, ajaran tasawuf Syekh Yusuf yang menegaskan “semua manusia setara di hadapan Allah” memberikan harkat dan martabat baru yang luar biasa.
Masyarakat yang berkumpul di Zandvliet berasal dari latar belakang suku dan bahasa yang berbeda-beda (Sunda, Jawa, Makassar, Bugis, Malabar, Benggala).
Melalui amalan zikir tarekat Khalwatiyah bersama, perbedaan bahasa dan suku terhapuskan.
Tradisi Ratib dan Zikir menjadi sarana konsolidasi mental yang membangun identitas keislaman kolektif di tanah Afrika.
Meletakkan Batang Tubuh Komunitas “Cape Malay”
Melalui dakwah dan jaringan sosial yang ia bangun di Zandvliet, Syekh Yusuf secara historis diakui sebagai Bapak Komunitas Islam / Cape Malay di Afrika Selatan.
Dari pemukiman awal di Zandvliet inilah, ajaran Islam menyebar ke wilayah Bo-Kaap (kawasan pemukiman Muslim bersejarah di Cape Town).
Nilai-nilai ketahanan jiwa yang diajarkannya terus diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga umat Islam Afrika Selatan mampu bertahan melewati era perbudakan hingga rezim represif Apartheid.
Syekh Yusuf di Macassar (Cape Town) hingga kini menjadi salah satu Kramat (makam suci) paling dihormati di Afrika Selatan. Tempat ini menjadi simbol pengingat bahwa Islam di Afrika Selatan lahir dari rahim perjuangan melawan penindasan, keberanian moral, dan kedalaman spiritualitas.
Syekh Yusuf adalah salah satu tokoh Sulsel yang mengubah perjalanan Indonesia. (*)







1 thought on “Menelusuri Jejak Syekh Yusuf Al-Makassari: Dari Tanah Para Pemberani hingga Jadi Pahlawan Dua Negeri”