
MAKASSAR – Di kalangan pebisnis dan komunitas sosialita Sulawesi Selatan, nama Haji Jojon sudah tidak asing lagi. Dahulu, wajahnya bersahaja sering terlihat menikmati kopi di Meja Bundar Kedai Phoenam Makassar. Balho maupun billboard bergambar dirinya pun pernah menghiasi jalur utama lalu lintas dari perbatasan Maros hingga Gowa.
Julukan Crazy Rich Makassar kian melekat padanya tatkala ia memberikan hadiah ulang tahun ke-9 untuk putranya, Qansa Alrifaat Najmuddin, berupa mobil supercar Lamborghini Revuelto yang ditaksir bernilai Rp22 hingga Rp25 miliar.
Namun, rekam jejak Haji Jojon sesungguhnya jauh lebih mendalam daripada sekadar kendaraan mewah atau bisnis pertambangan. Kini, perhatian Wakil Ketua KADIN Sulsel tersebut bergeser ke dunia paddock, sirkuit, dan dinamika olahraga otomotif. Tiga pekan lalu, namanya mengemuka sebagai calon kuat Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sulawesi Selatan.
Di balik kesibukan lainnya sebagai Wakil Ketua KADIN Sulsel, perhatian Haji Jojon fokus ke paddock, sirkuit, kendaraan, dan dunia balap.
Tiga pekan lalu, namanya kemudian muncul kembali- sebagai salah satu sosok yang bersiap menakhodai Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sulawesi Selatan.
Di titik ini, perjalanan Haji Jojon semakin menarik untuk masuk dalam tulisan #JejakAno.
Tentu masuk ke dunia otomotif bukan sekadar soal punya uang untuk membeli kendaraan mahal. Otomotif adalah dunia yang juga membutuhkan BBM, ban, logistik, event, pembinaan atlet, dan klub. Semuanya membutuhkan biaya. Dan hampir semua orang yang pernah mengurus olahraga otomotif tahu bahwa persoalan anggaran bukan perkara kecil.
Haji Jojon datang dari dunia usaha yang membuatnya terbiasa mengurus modal, jaringan, dan keputusan bisnis. Dia tidak masuk ke otomotif hanya sebagai penonton. Dia punya kemampuan untuk ikut menanggung beban yang selama ini menjadi salah satu persoalan dalam menggerakkan olahraga otomotif.
Kombinasi Pengusaha, Mantan Pembalap, dan Politisi
Mengelola organisasi olahraga otomotif membutuhkan lebih dari sekadar dukungan dana. Otomotif adalah cabang olahraga berbiaya tinggi yang melibatkan urusan logistik, bahan bakar, ban, pembinaan atlet, hingga penyelenggaraan event.
Haji Jojon datang dengan latar belakang komprehensif yang dinilai ideal untuk memimpin organisasi sebesar IMI Sulsel.
- Pengalaman Balap: Pada usia 25 tahun, ia pernah mengaspal sebagai pembalap motor di Kolaka bersama PPP Racing Team.
- Manajemen Olahraga: Pernah menjabat sebagai Bendahara Umum KONI Sulsel, sehingga terbiasa mengelola anggaran pembinaan atlet dan dinamika klub.
- Pengusaha & Organisasi: Menjabat Wakil Ketua KADIN Sulsel dan terbiasa mengelola modal serta jaringan bisnis.
- Jaringan Politik & Nasional: Dipercaya sebagai Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel serta memiliki hubungan dekat dengan tokoh otomotif nasional seperti Ketua Umum IMI Pusat, Moreno Suprapto.
Melanjutkan Tradisi Pemimpin Multitalenta di IMI
Pola kepemimpinan IMI yang menggabungkan latar belakang pengusaha, politisi, dan pelaku balap merupakan hal yang sudah lazim, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Di tingkat pusat, IMI pernah dipimpin oleh Bambang Soesatyo (pengusaha dan politisi), yang kemudian dilanjutkan oleh Moreno Suprapto (pembalap nasional/internasional dan pengusaha).
Di Sulawesi Selatan, nama-nama seperti Subhan Aksa (pengusaha dan pembalap) serta H. Rusdi Masse (pengusaha, politisi, dan hobi balap) juga pernah menakhodai organisasi ini.
| Tokoh / Pemimpin | Latar Belakang | Kiprah Organisasi Otomotif |
| Bambang Soesatyo | Pengusaha & Politisi | Ketua Umum IMI Pusat (2021–2024). |
| Moreno Suprapto | Pembalap & Pengusaha | Ketua Umum IMI Pusat. |
| Subhan Aksa | Pembalap Mobil & Pengusaha | Mantan Ketua IMI Sulsel. |
| H. Rusdi Masse | Pengusaha, Politisi, & Pembalap | Mantan Ketua IMI Sulsel. |
| Haji Jojon | Pengusaha, Mantan Pembalap, & Politisi | Calon Ketua IMI Sulsel. |
Visi “SuperTeam”: Bersama untuk Sebuah Prestasi
Dalam proses pencalonannya, Haji Jojon telah mengantongi dukungan resmi dari sekitar 33 hingga 34 klub otomotif yang menjadi tulang punggung ekosistem balap di Sulawesi Selatan.
Dikenal dengan gaya komunikasinya yang mudah bergaul dan terbuka, Haji Jojon mengusung visi “Bersama untuk Sebuah Prestasi”. Ia menegaskan bahwa kemajuan olahraga otomotif di Sulsel tidak bisa bergantung pada peran satu orang (Superman), melainkan kerja kolektif seluruh ekosistem (SuperTeam).
Ujian sebenarnya bagi Haji Jojon kelak adalah bagaimana menyatukan sumber daya modal, jaringan, pengalaman, dan potensi komunitas untuk membawa prestasi otomotif Sulawesi Selatan berjaya di kancah nasional. (*)






