Ilustrasi pahlawan nasional asal Sulsel.
MAKASSAR — Bumi Sulawesi Selatan dikenal sejak lama sebagai cikal bakal lahirnya perlawanan tangguh menentang ketidakadilan kolonial.
Dari pesisir benteng pertahanan Gowa, tanah Bone, perbukitan Tana Toraja, hingga tanah pergerakan Luwu,
Semenanjung Selatan ini memuat jejak sejarah para tokoh yang mengabdikan seluruh hidupnya demi kedaulatan Nusantara.
Pada bulan kemerdekaan ini, penting untuk menyelami kembali rekam jejak perjuangan 13 Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan yang telah dikukuhkan oleh Pemerintah Republik Indonesia:
Sultan Hasanuddin: Keteguhan ‘Ayam Jantan dari Timur’
Sultan Hasanuddin lahir di Makassar pada 12 Januari 1631, Penguasa Gowa ke-16 ini menjadi ancaman terbesar bagi ekspansi VOC di Indonesia Timur.
Sikap intransigen beliau terhadap monopoli perdagangan kolonial memicu perang kolosal pada rentang 1666 hingga 1669.
Meskipun dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667 akibat gempuran pasukan gabungan Laksamana Cornelis Speelman, sang raja terus memimpin perlawanan hingga wafat pada 12 Juni 1670.
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973.
Perjuangan sangat mempengaruhi perjalanan bangsa ini. Dia dikenal sebagai salah satu tokoh perjuangan yang sangat berpengaruh. Baca selengkapnya dalam Daftar Tokoh Sulsel yang Mengubah Indonesia.
Syekh Yusuf Tajul Khalwati: Pahlawan Antarbangsa
Syech Yusuf lahir di Gowa pada 1626, ulama besar ini menggabungkan dakwah tasawuf dengan aksi politik. Setelah mendampingi Sultan Ageng Tirtayasa dalam Perang Banten, beliau dibuang oleh Belanda ke Ceylon (Sri Lanka) pada 1684, lalu dipindahkan ke Zandvliet, Afrika Selatan.
Di medan pengasingan, beliau menyebarkan ajaran Islam sekaligus menanamkan kesadaran anti-penjajahan hingga wafat pada 23 Mei 1699.
Di tempat pengasingan, beliau tetap berjuang dan menebar ajaran Islam hingga diakui sebagai pahlawan nasional di dua negara: Indonesia (SK Presiden No. 081/TK/1995) dan Afrika Selatan. Kisah pengaruh perjuangannya dalam perkembangan bangsa ini dapat dibaca dalam Daftar Tokoh Sulsel yang Mengubah Indonesia.
La Maddukelleng: Sang Panglima Laut dari Wajo
Bangsawan Wajo ini memimpin konsolidasi armada lintas suku—Bugis, Pasir, Kutai, hingga Makassar—pada awal abad ke-18.
Setelah diangkat menjadi Sultan Pasir pada 1726, beliau melancarkan serangkaian pertempuran maritim yang menggoyang kekuatan benteng VOC di Ujung Pandang.
Puncak perlawanannya terjadi pada Februari 1741 ketika pasukan Wajo berhasil memukul mundur serdadu penjajah.
Pong Tiku: Benteng Perlawanan Pegunungan Toraja
Ketika Belanda mengekspansi wilayah pegunungan utara pada 1905, pimpinan adat bernama Ne Baso ini membentengi Tana Toraja.
Beliau berkali-kali menolak panggilan menyerah dari serdadu Belanda di Rantepao pada Maret dan April 1906.
Pertempuran gerilya sengit di benteng-benteng pertahanan alam akhirnya berujung pada penangkapan beliau sebelum dieksekusi mati di tepi Sungai Sa’dan pada 10 Juli 1907.
Pemerintah menetapkannya sebagai salah satu pahlawan nasional melalui SK No. 073/TK/2002.
Haji Andi Mappanyukki: Pemersatu Raja-Raja Sulsel
Lahir di Bone, tokoh ini telah memimpin gerilya melawan Belanda sejak usia muda pada 1905. Saat dinobatkan sebagai Raja Bone ke-32 (Sultan Ibrahim) melalui sidang Ade Pitue pada 1931.
Dia memanfaatkan posisi diplomasinya untuk menolak infiltrasi kolonial. Pada era Revolusi 1945–1950, beliau menggalang seluruh penguasa lokal di Sulawesi Selatan untuk menyatakan ikrar setia bersatu di bawah naungan NKRI.
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 089/TK/2004.
Opu Daeng Risaju: Srikandi Gerakan Rakyat Luwu
Bangsawan Luwu bernama asli Siti Manggabarani ini mempelopori keterlibatan perempuan dalam panggung politik pergerakan.
Mengawali kiprahnya di Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) Parepare pada 1927, beliau konsisten membakar semangat perlawanan rakyat.
Akibat aksi konfrontatifnya menentang benteng NICA pada 1946, beliau ditangkap dan disiksa di Belopa hingga menderita tuli permanen.
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden No. 085/TK/2006.
Ranggong Daeng Romo: Panglima Gerilya LAPRIS
Tokoh pergerakan asal Takalar ini memelopori pembentukan Angkatan Muda Bajeng pada Oktober 1945 yang berkembang menjadi Laskar Lipan Bajeng.
Pada 17 Juli 1946, beliau didaulat sebagai Panglima Laskar Pemberontakan Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS).
Beliau gugur bertaruh nyawa di medan tempur Rannaya Palembangkung pada 27 Februari 1947 saat mempertahankan markas komando dari gempuran Belanda.
Andi Abdullah Bau Massepe: Kesatria Ajatappareng
Putra dari Andi Mappanyukki ini memegang komando sebagai Panglima pertama TRI Divisi VI Hasanuddin.
Beliau mengorganisasi militer rakyat lewat Pandu Nasional Indonesia untuk membendung agresi NICA di wilayah Ajatappareng.
Keteguhan prinsipnya berujung pada eksekusi mati oleh Belanda pada 2 Februari 1947 di Parepare, setelah melontarkan ikrar legendarisnya untuk tidak membelakangi kemerdekaan bangsa.
Ditetapkan sebagai pahlawan nasional melalui SK No. 082/TK/2005.
Padjonga Daeng Ngalle: Arsitek Konsolidasi Polongbangkeng
Penguasa distrik Polongbangkeng ini mengambil peran sentral dalam Konferensi Raja-Raja se-Sulawesi pada 1945 demi mendukung Proklamasi Kemerdekaan.
Beliau memindahkan pusat koordinasi perjuangan dari Makassar ke Polongbangkeng serta membentuk Laskar Gerakan Muda Bajoang.
Langkah strategisnya memuncak saat mengonsolidasikan 19 laskar perjuangan untuk melebur ke dalam wadah LAPRIS pada Juli 1946.
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden No. 085/TK/2006.
Andi Djemma: Pembela Kedaulatan Luwu
Datu Luwu ini memprakarsai lahirnya organisasi Soekarno Muda pada September 1945 guna mengamankan perlucutan senjata tentara Jepang di Palopo.
Beliau secara tegas menolak seluruh bentuk negosiasi dengan NICA dan memimpin Perlawanan Semesta Rakyat Luwu yang meletus pada 23 Januari 1946 untuk mempertahankan integrasi Luwu di dalam Republik Indonesia. Ditetapkan melalui SK No. 073/TK/2002.
Emmy Saelan: Pejuang Gerak Cepat Palang Merah dan Spionase
Perempuan bernama asli Salma Soehartini Saelan ini mengabdikan diri di garis depan pertempuran gabungan LAPRIS.
Selain mengurusi logistik medis dan pertolongan pertama pejuang, beliau menjalankan operasi intelijen lapangan.
Dalam pertempuran sengit pada 20 Januari 1947, posisi beliau terdesak oleh kepungan ketat NICA, hingga memutuskan meledakkan granat terakhir yang menewaskan dirinya beserta pasukan musuh di sekelilingnya.
Andi Sultan Daeng Radja: Delegasi Bulukumba untuk Sumpah Pemuda & PPKI
Tokoh pergerakan asal Bulukumba ini mencatatkan namanya dalam barisan pemuda nasionalis pada Kongres Pemuda II tahun 1928.
Beliau kemudian ditunjuk bersama Dr. Sam Ratulangi dan Andi Pangerang Petta Rani sebagai utusan resmi Sulawesi dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di Jakarta pada Agustus 1945.
Ditetapkan sebagai salah satu pahlawan nasional asal Sulawesi Selatan melalui SK No. 085/TK/2006
Andi Pangerang Petta Rani: Gubernur Pemungkas Provinsi Sulawesi
Bangsawan Makassar-Bugis ini mengawali baktinya dari karier militer hingga ranah birokrasi pergerakan.
Usai menghadiri sidang PPKI di Jakarta pada 1945, beliau berjuang mempertahankan kedaulatan daerah dari cengkeraman Belanda di benteng-benteng pertahanan Makassar.
Beliau kemudian mengemban amanah sebagai Gubernur Sulawesi terakhir sebelum wilayah tersebut dimekarkan menjadi beberapa provinsi
Robert Wolter Mongisidi: Simbol Keberanian Pemuda di Tanah Makassar
Lahir di Malalayang (Manado), pemuda berjiwa pemberani yang akrab disapa Beby ini mengukir sejarah perjuangan terbesarnya di Makassar.
Bersama Ranggong Daeng Romo dan para pejuang lokal, beliau membentuk Laskar Pemberontakan Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada 1946 untuk melancarkan serangan gerilya terhadap NICA.
Keteguhan sikapnya tercermin hingga akhir hayat saat menolak memohon ampunan Belanda, hingga gugur di hadapan regu tembak pada 5 September 1949 di Makassar pada usia 24 tahun dengan pekik “Merdeka atau Mati”.
Nilai keteladanan serta pengorbanan para pahlawan ini tidak sekadar terukir pada monumen dan nama jalan protokol, melainkan menjadi pondasi sejarah yang terus menuntun perjalanan bangsa. (*)
Artikel merupakan rangkuman dari berbagai sumber yang terpercaya.







1 thought on “Jejak Para Kesatria Sulawesi Selatan: Rekam Perjuangan 14 Pahlawan Nasional Pembebas Negeri”