
Dua puluh tahun lamanya Prof Dr Hafid Abbas meninggalkan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) untuk mengabdi di bidang Hak Asasi manusia (HAM).
Pertama kali meninggalkan bangku akademik karena dirinya dipanggil untuk mengisi jabatan wakil menteri atau deputi menteri HAM di zaman Presiden Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan Gus Dur.
Hafid dipanggil untuk masuk kabinet melalui salah seorang menteri kabinet Gus Dur. Saat itu dia masih berada di Jogjakarta lalu mendapat panggilan dari Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia, Dr Hasballah M Saad.
Hasballah adalah salah seorang mahasiswa Prof Dr Hafid Abbas.
Mendapat ajakan dari mahasiswanya itu, dia pun tak menolak dan meninggalkan jabatan akademiknya di UNJ. Pada 1999 dia diangkat menjadi deputi Menteri Urusan Hak Asasi manusia Kabinet Persatuan Nasional.
Namun dirinya tak lama menduduki jabatan itu. Bukan apa-apa, kementerian yang ditempatinya itu malah dibubarkan sendiri oleh Gus Dur.
Kementerian Urusan Hak Asasi Manusia memang merupakan departemen baru dalam kabinet RI. Sebelumnya, Presiden Soekarno dan Soeharto tak memiliki kementrian ini di dalam pemerintahannya.
Nasib Hafid Abbas Setelah Kementerian HAM Dihapus
Menteri Urusan Hak Asasi Manusia baru muncul saat dicetuskan oleng Presiden KH Abdurrahman Wahid. Namun dia pulalah yang menghapuskannya.
Setelah kementeriannya hilang, Hafid tak langsung kembali ke dunia akademik. Dia tetap melanglang buana di ranah HAM meski dengan bendera lembaga yang berbeda.
Dari sekian banyak oejabat di Kementerian Urusan Hak Asasi Manusia, hanya Hafid Abbas yang dipilih Gus Dur untuk duduk menjabat sebagai Direktur Jenderal Urusan Hak Asasi Manusia di Kementerian Kehakiman RI.
Dirinya bersyukur dan juga heran, mengapa dirinya yang ditunjuk duduk di lembaga itu padahal dirinya bukan berlatar belakang pendidikan hukum tetapi berlatar belakang ilmu pendidikan.
Meski demikian, dia tetap saja menerima aman itu. Tentu ada penilaian tersendiri sehingga membuat Gus tur menunjuknya berada di posisi itu.
Insting Gus Dur memang terbukti. Hafid Abbas yang memiliki background ilmu pendidikan mampu bertahan di Kementerian Kehakiman selama 12 tahun lamanya. Artinya meski presiden berganti namun dirinya tetap dipertahankan di posisi itu.
Namun demikian, Hafid juga merasa jenuh dan ingin mencari pengalaman baru. Dia merakan dia tahu diri sudah cukup lama berada di instansi itu.
Sehingga ketika terbuka seleksi calon komisioner Komisi nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia, dirinya pun mengajukan diri. Dia berhasil lolos dan bahkan pernah menduduki jabatan sebagai Ketua Komnas HAM 2012-2017.
Setelah itu dia lalu kembali lagi ke kampus UNJ pada 2018. Sekembalinya ke kampus, dia diberi amanah sebagai Ketua Senat Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Di UNJ Hafid bukanlah pejabat baru. Malah dia pernah menduduki jabatan akademik di universitas itu sebagai Kepala Lembaga Penelitian UNJ.
Pria kelahiran Bone, 27 Agustus 1957 itu berpendapat bahwa negeri ini banyak ditolong oleh orang Bugis.
Pada satu forum daring Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS) Hafid pernah diundang sebagai narasumber mengatakan, beberapa kali negeri ini menghadapi persoalan dan tantangan yang bisa dilalui dengan mulus berkat peran serta orang Bugis di dalamnya. Dia lalu menyebut Presiden BJ Habibie menggantikan Presiden Soeharto, peran Tanri Abeng yang menyelamatkan seluruh BUMN; Jenderal M. Yunus Yospiah, Menteri Penerangan yang membuka kran kebebasan pers, Andi M. Ghalib yang memimpin Kejaksaan Agung, Prof Ryaas Rasyid yang telah meletakkan dasar sistem pemerintahan desentralistik dan lain-lain.
Lalu ada HM Jusuf Kalla sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian di era Presiden Gus Dur, ada Baharuddin Lopa yang memimpin Kementerian Kehakiman, Alwi Shihab sebagai Menlu.
Menurutnya, tokoh-tokoh Bugis itu memiliki modal modal utama putra-putra Bugis Makassar sehingga sukses mengawal perubahan transisi politik dan kepemimpinan di negeri ini yaitu kemampuan intelektual yang mumpuni (macca); berani (warani), malempu (jujur), dan getteng (memiliki komitmen).
Hafid Abbas sendiri adalah putra Bugis-Makassar yang menyelesaikan studi S1 di Universitas Negeri Makassar (UNM) pada tahun 1979. Setelah dari situ dia hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan studi di UNJ hingga mendapatkan titel doktor. Di kampus itu juga dia mengabdi untuk menjadi dosen.
Dia juga oernah mendapatkan gelar doktor honoris causa atau doktor kehormatan dari Hartford Seminary pada tahun 2008. Pada tahun 2010, ia diangkat menjadi Guru Besar Tetap pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (FIP UNJ).
Biodata:
Prof DR (HC) Dr Hafid Abbas
Tempat / Tanggal Lahir : Bone, 27 Agustus 1957
Profesi : Guru Besar – Aktivis HAM
Sumber: Buku Tokoh Sulsel 2022-2024






